logo rilis

Warga Luwuk Antisipasi Eksekusi Lahan Lanjutan
Kontributor

19 Maret 2018, 23:51 WIB
Warga Luwuk Antisipasi Eksekusi Lahan Lanjutan
Ibu-Ibu warga Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, menggelar selawat di tengah jalan menghadang eksekusi lahan, Senin (19/3/2018). FOTO: Twitter/@SeknasKPA

RILIS.ID, Banggai— Warga Tanjung Sari, Kelurahan Karaton, Kecamatan Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah, berjaga-jaga untuk mengantisipasi eksekusi lahan lanjutan yang rencananya digelar Selasa (20/3/2018). Sebab, eksekusi pada Senin (19/3) diwarnai bentrok antara warga dengan aparat. 

"Sebanyak 1.000 aparat Brimob dan aparat keamanan lainnya telah disiagakan di lokasi. Sementara itu, masyarakat juga telah bersiap-siap bertahan di lokasi yang akan digusur," demikian bunyi siaran pers Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), beberapa saat lalu.

Menurut KPA, penggusuran tersebut terjadi akibat kesalahan putusan Pengadilan Negeri (PN) Luwuk dan Mahkamah Agung (MA) dalam perkara perdata pada 1996. Sebab, sengketa antara dua pihak sebenarnya tak melibatkan warga. 

"Mengorbankan ratusan warga, karena kesalahan objek sengketa dan tidak jelasnya objek sengketa dalam putusan pengadilan. Lahan warga yang akan digusur seluas kurang lebih 20 hektar dengan jumlah warga 1.400-an jiwa," jelasnya.

Karenanya, warga meminta negara dan aparat menunda eksekusi sebelum masalah kekeliruan diselesaikan. Mereka juga meminta Kapolri Jenderal Tito Karnavian melalui Kapolda Sulteng menarik pasukannya.

"Dan dapat duduk bersama dengan perwakilan hukum dari warga Tanjung, Komnas HAM, para tokoh setempat, Pemda Banggai, DPRD, untuk melihat persoalan ini lebih jernih. Sehingga, sikap yang diambil sungguh-sungguh menjunjung tinggi hak asasi manusia," tuntas KPA.

Dalam eksekusi pada Senin, Ibu-Ibu warga Tanjung sempat melakukan selawat di tengah jalan untuk menghadang penggusuran. Kabag Ops Polres Banggai, Kompol Djamaluddin Darise, kemudian bernegosiasi dengan perwakilan masyarakat terkait adanya aktivitas itu.

Negosiasi tak berjalan mulus. Ibu-Ibu terus berselawat dan pekik takbir nyaring terdengar. Tak lama berselang, tiba-tiba terjadi bentrokan. Aksi baku dorong antara polisi dan warga pun tak terhindarkan.

Polisi lantas berupaya membubarkan paksa dengan gas air mata. Namun, massa terus melawan dengan melempar batu ke arah petugas.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID