logo rilis
Wahid Institute: Teroris Manfaatkan Loyalitas dan Kepatuhan Perempuan
Kontributor
Kurniati
16 Mei 2018, 01:40 WIB
 Wahid Institute: Teroris Manfaatkan Loyalitas dan Kepatuhan Perempuan
Direktur The Wahid Institute, Yenny Wahid. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Hasil penelitian yang dilakukan The Wahid Institute, menyebutkan loyalitas dan kepatuhan yang ada pada perempuan dimanfaatkan oleh teroris.

"Sekarang, perempuan sudah menjadi eksekutor. Loyalitas dan kepatuhan yang ada pada perempuan ini dimainkan oleh teroris," kata Direktur The Wahid Institute, Yenny Wahid di Jakarta, Selasa (15/5/2018)

Menurut Yenny, keterlibatan perempuan pada aksi terorisme bukan baru-baru ini saja ditemukan.

"Mereka masuk jaringan sejak lama, misalnya istri Nurdin Top. Dia tugasnya merekrut orang untuk jadi "pengantin" (calon pengebom bunuh diri)," kata dia.

Selain merekrut orang baru, perempuan yang masuk dalam jaringan terorisme biasanya bertugas untuk mencari dana dan menyiapkan logistik yang akan digunakan untuk melancarkan aksi mereka.

Namun, lanjut Yenny, hasil penelitian The Wahid Institute menunjukan, perempuan independen atau mandiri, kecil kemungkinan akan direkrut oleh kelompok radikal bersenjata atau teroris.

"Independen di sini salah satu kriterianya adalah dia ikut berperan dalam proses pengambilan keputusan," kata anak ketiga dari Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid.

Yenny menjelaskan, perempuan yang mampu untuk menyelesaikan masalahnya sendiri juga masuk dalam ciri-ciri independen.

Yenny mengatakan dari beberapa kriteria tersebut, bisa dilihat kalau perempuan mandiri itu cenderung sulit untuk ditekan. 

Selain itu, mereka juga dikatakan memiliki banyak argumen serta pertimbangan sehingga tidak bisa serta-merta diminta untuk patuh serta menuruti permintaan pihak lain tanpa alasan yang jelas.

"Makin independen perempuan, makin susah digiring sehingga ketika suaminya mengajak bergabung ke sana (ISIS), dia bisa menolak dan bisa sadarkan suami dari pengaruh teroris," kata dia.

Sumber: ANTARA


500
komentar (0)