Home » Inspirasi » Riwayat

Wahid Hasjim, Sosok Pemberani, “Tak Dapat Dijepangkan”

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

SIKAP ketuhanan yang penuh welas asih dan toleran harus diletakkan dalam kerangka semangat gotong-royong memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Dalam rentang panjang sejarah Indonesia, semangat ketuhanan dan keagamaan telah lama memberikan landasan motivasi yang kuat kepada warga bangsa untuk berani menegakkan kebenaran dan keadilan. Tentang hal ini, Sjafruddin Prawiranegara seringkali mengingatkan, “Kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah.”

Ulama dan jaringan keagamaan menjadi simpul keberanian kaum terjajah untuk melawan penindasan kolonial yang menafikan kebenaran dan keadilan di sepanjang abad ke-19. Beberapa contoh dari pemberontakan kaum pribumi dengan menggunakan jaringan dan simbol keagamaan sepanjang abad ke-19 ialah Perang Cirebon (1802-1806), Perang Jawa (atau Perang Diponegoro) (1825-1830), Perang Paderi di Sumatera Barat (1821-1838), Perang Banjarmasin (atau Perang Antasari) (1859-1862), Jihad di Cilegon (9-30 Juli 1888), dan Perang Aceh (1873-1903).

Di zaman Jepang, masa kolonialisme yang sangat kejam, keberanian memperjuangkan kebenaran dan keadilan tumbuh. Pada masa ini, kendatipun Jepang berusaha “mendekati” tokoh-tokoh Islam, sebagian tokoh memperlihatkan dirinya sebagai sosok pemimpin Islam pemberani yang “tak dapat dijepangkan”. Salah satunya, K.H. A. Wahid Hasjim Cerminan keberaniannya terlihat dalam kisah perjalanan naik kereta dari Stasiun Kroya menuju Jakarta menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, seperti yang diceritakan kembali oleh Saifuddin Zuhri:

“Sudah beberapa hari saya dalam perjalanan bersama Alm. K.H. A. Wahid Hasjim. Kereta api malam berhenti agak lama di Stasiun Banjarpatoman dekat Tasikmalaya. Sudah hampir jam setengah empat malam, padahal kami belum menyediakan sahur. Ketika itu sudah masuk bulan Ramadhan, menjelang bulan Agustus 1945. Dengan melalui penumpang-penumpang yang sangat padat bergelimpangan tidur di bordes, saya turun sebentar di peron stasiun untuk membeli apa yang akan saya beli; sudah kedahuluan dibeli orang lain yang barangkali perlu buat sahur sehingga saya hanya berhasil memperoleh 4 butir telor ayam rebus. Ah, lumayan juga buat sahur! Waktu akan dimakan dengat niat untuk sahur puasa wajib, Alm. K.H. A. Wahid Hasjim menanyakan mana air buat minum? Karena saya tidak berhasil memperoleh air minum, maka sambil kelakar saya menjawab: ‘Zonder minuman tak apa, toh besok pagi kita haus juga...!’

"...Sejak kami naik di Stasiun Kroya, 3 orang opsir Jepang yang duduk bersama kami di kelas I senantiasa mengawasi gerak-gerik kami dengan pandangan mencemoohkan. Pada waktu kami memerlukan air minum buat sahur, mereka mengejek-ejek, seorang di antaranya membuang air tehnya yang masih panas dari persediaan termosnya. Itu waktu saya sudah mulai naik darah, tetapi Alm. K.H. A. Wahid Hasjim menenangkan hati saya sambil menasihati bahwa janganlah kita ributkan perkara kecil itu. Nanti akan datang saatnya kita membikin perhitungan dengan mereka secara besar-besaran dalam masalah yang besar, katanya sambil mengulang-ulang sabar, sabar!

"Rupanya Jepang-Jepang itu tidak senang ada ‘genyuming-genyuming’ seperti kami berdua duduk di kelas I menyamai mereka, padahal seharusnya mereka tahu bahwa orang yang duduk di kelas I di waktu itu bukanlah ‘genyuming’ sembarangan...! Caranya mencemoohkan kami diteruskan lagi yaitu ketika Alm. K.H. A. Wahid Hasjim hendak mengembangkan baju mantelnya buat sajadah ketika kami hendak sembahyang subuh di peron Stasiun Cibatu; salah seorang opsir Jepang tadi meludah di lantai yang akan kami gunakan untuk sembahyang. Hati saya bertambah panas, tapi Alm. K.H. A. Wahid Hasjim tetap tenang dan berkata bahwa peristiwa itu belum saatnya untuk memuntahkan amarah, katanya. Akan tetapi setelah terjadinya ‘peristiwa jendela’ rupanya beliau tidak bisa menjadi orang sabar terus-menerus. Peristiwa jendela itu duduknya perkara demikian:

"Kami berdua duduk bersanding menghadap arah jalannya kereta api. Kereta api yang berjalan di lereng-lereng pegunungan di daerah Priangan itu menyebabkan lokomotif mengeluarkan tenaga maksimalnya sehingga menyebabkan banyak menghamburkan abu dan api, memasuki tempat duduk. Karena abu dan api itu langsung mengenai kami berdua, maka Alm. K.H. A. Wahid Hasjim lalu menutup jendela di samping kami. Melihat itu tiba-tiba dari mulut salah seorang Jepang yang duduk di muka kami itu keluar perkataan: ‘Kurang ajar, bakero!’ Almarhum menjawab kontan: ‘Tuan yang kurang ajar!’, ‘Ojo berani sama Nippon!’, kata Jepang itu. Tapi dengan cepat tangan Almarhum memegang pedang samurai kepunyaan Jepang itu hendak direbutnya jikalau tidak dihalang-halangi oleh Jepang-Jepang yang lain. Suasana dalam kereta api kelas I sudah hampir panik, akan tetapi tiba-tiba salah seorang Jepang yang lain segera mendekati kami sambil senyum kecut dengan katanya: ‘Kami minta maaf kepada Tuan, maaf maaf!’, sambil tangannya menahan tangan almarhum. Dengan sikap menguasai dirinya K.H. A. Wahid Hasjim berkata: ‘Tuan harus tahu, peristiwa ini akan saya bikin panjang, menjadi peristiwa antara bangsa dengan bangsa!’ Saya tidak tahu, apakah Jepang-Jepang itu mengerti arti perkataan yang tajam itu. Tetapi saya yakin, bahwa jiwa daripada kalimat-kalimat gagah yang dikeluarkan dengan penuh kesadaran dari jiwa yang besar tentu akan mempunyai dasar dan bekas yang sangat kuat. Entah karena akibat insiden itu atau memang menurut rencana, maka pada waktu kereta api tiba di Stasiun Bandung, Jepang-Jepang itu turun semua. Sambil mataku mengikuti langkah-langkah Jepang yang hendak meninggalkan kereta kita, dari mulut saya melompat kata-kata: ‘Rupanya Jepang-Jepang ini sedang menghadapi sekaratnya!’ Dengan muka geram, K.H. A. Wahid Hasjim menyambung: ‘Setan gundul’ sedang sekarat, tindakannya semangkin gila! Istilah ‘setan gundul’ atau ‘syayatin’ biasa digunakan beliau untuk mengganti nama Jepang yang sedang berkuasa di negeri kita di waktu itu."

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Yudi Latif, Mata Air Keteladanan

Tags:

Wahid HasjimRiwayat

loading...