Home » Inspirasi » Opini

Wage

print this page Kamis, 9/11/2017 | 02:48

Oleh Armin Mustamin Toputiri
Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan

I
Indonesia, tanah airkoe/ Tanah toempah darahkoe/ Disanalah akoe berdiri/ Mendjaga Pandoe Iboekoe// Indonesia kebangsaankoe/ Kebangsaan tanah airkoe/ Marilah kita berseroe:/"Indonesia Bersatoe"// Hidoeplah tanahkoe/ Hidoeplah neg'rikoe/Bangsakoe, djiwakoe, semoea/ Bangoenlah rajatnja/ Bangoenlah badannja/ Oentoek Indonesia Raja.

II
Indonesia, tanah jang moelia/ Tanah kita jang kaja/ Disanalah akoe hidoep/ Oentoek s'lama-lamanja// Indonesia, tanah poesaka/ Poesaka kita semoea/ Marilah kita mendoa:/ "Indonesia Bahagia"// Soeboerlah tanahnja/ Soeboerlah djiwanja/ Bangsanja, rajatnja, semoeanja/ Sedarlah hatinja/ Sedarlah boedinja/ Oentoek Indonesia Raja.

III
Indonesia, tanah jang soetji/ Bagi kita disini/ Disanalah kita berdiri/ Mendjaga Iboe sedjati//

Indonesia, tanah berseri/ Tanah jang terkoetjintai/ Marilah kita berdjandji:/ "Indonesia Bersatoe"// S'lamatlah rajatnja/ S'lamatlah poet'ranja/ Poelaoenja, laoetnja, semoea/ Madjoelah neg'rinja/ Madjoelah Pandoenja/ Oentoek Indonesia Raja.

Refrain

Indones', Indones'/ Moelia, Moelia/ Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta/Indones', Indones',

Moelia, Moelia/Hidoeplah Indonesia Raja.

Itu syair sebenarnya. Lagu Indonesia Raya. Bukan satu stanza, seperti seringkali kita nyanyikan. Tapi tiga stanza, seperti kali pertama saat syairnya dimuat surat kabar Sin PO, November 1928. Tepat sebulan setelah dikumandangkan di arena penutupan Kongres Pemuda II, di Gedung CI (Clubhuis Indonesia) Batavia, 28 Oktober 1928. Mengiringi penetapan Sumpah Pemuda. Tanpa syair walau syairnya telah ditulis. Hanya sebatas irama gesekan dawai biola oleh komponisnya sendiri. Musababnya, pasukan bersenjata intel PID (Politieke Inlichtingen) Belanda mengawasi pergerakan kaum muda yang sedang berkongres. Dan karena kala itu pantang menyerukan kata “merdeka”, sebab itu kata “merdeka” digubah menjadi moelia. Ya, “Indones’ Moelia, Moelia”.

Meski dilarang, nyatanya lagu Indonesia Raya tetap saja massif tersiar. Membahana di dinding nurani kaum pergerakan. Makin dinyanyikan, syahwat mereka kian membara. Menggapai cita-cita. Indonesia yang didamba sebagai negara merdeka dan berdaulat segeralah berwujud nyata. Dan, 17 tahun pasca 1928, saat yang dinanti tiba jua. 17 Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Sang saka merah putih dikibar terbuka. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan juga secara terbuka. Mengiringi sang saka merah putih hingga ke puncak tiang. Berkibar dengan gagah berani di angkasa raya….. Hidoeplah tanahkoe/ Hidoeplah neg'rikoe/Bangsakoe, djiwakoe, semoea/ Bangoenlah rajatnja/ Bangoenlah badannja/ Oentoek Indonesia Raja….

Dan beruntunglah negeri ini, sebab seorang pengusaha, Yo Kim Tjan, menyelematkan rekaman asli lagu ini dalam piringan hitam. Lalu pada tahun 1950, Jos Cleber yang berkebangsaan Belgia, merekam ulang secara suara stereo. Delapan tahun sesudahnya, Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958 terbit mensahkan lagu Indonesia Raya, resmi sebagai lagu kebangsaan. Januari 1992, Jos Cleber kembali merekamnya secara digital. Juga delapan tahun sesudahnya, terbitlah Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009, tentang Bendera, Bahasa Nasional, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan, kian mempertegasnya. Dan 2017 saat ini, pemerintah menyerukan agar lagu Indonesia Raya kembali dinyanyikan seperti aslinya. Tiga stanza. Bukan satu stanza lagi.

Lalu siapakah gerangan sang komponis yang mencipta lagu Indonesia Raya yang melegenda itu? Tak perlu diperjelas, seluruh isi negeri ini tahu, syairnya pun telah dihafal luar kepala, walau pun hanya sebatas satu stanza saja. Wage Rudolf Supratman, disingkat W.R. Supratman, begitu fasih kita menyebut, tanpa sedikitpun rasa ingin tau kita, siapa gerangan dirinya. Mengeja namanya “Rudolf”, seolah tak percaya jika sedikitpun ia tak berdarah Belanda. Bahkan, juga mungkin kita tak percaya, andai diungkap bahwa yang juga mencipta lagu “Ibu Kartini” itu, si kacamata minus itu, pada masa kanak-kanaknya hingga dewasa, setengah usia nafasnya, ia hirup dari hembusan anging mammiri. Selain sekolah, mengajar, belajar musik dan bermain band saat ia di Makassar.

Wage, nama sebenarnya. Nama yang didapuk dari pembagian hari “pasaran” hitungan kalender masyarakat Jawa. Tempat dan tanggal lahirnya, masih ambigu. Pengadilan Negeri di Purwarejo, memutus jika ia lahir di sana, 19 Maret 1903. Namun Presiden RI, Megawati, telah mensahkan 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Terinspirasi tanggal lahir Wage sang komponis, di Batavia, 9 Maret 1903. Ia sendiri laki-laki dari tujuh bersaudara (dua meninggal), pasangan Siti Senen dan Djoemeno Sastrosoehardjo, tentara KNIL Belanda. Kakak iparnya, Willem van Eldik sang petugas administrasi kepolisian kolonial Belanda, suami kakaknya Roekiyem Soepratiyah, di tahun 1914 kala iparnya pindah tugas, juga memboyong Wage bermukim di Makassar, diusianya 11 tahun.

Saat tiba di Makassar – hebatnya– berkat posisi iparnya, ia diterima di sekolah elit Belanda, ELS (Europese Largera School) meski akhirnya dipecat akibat ketahuan ia bukan turunan Belanda. Di tengah namanya, “Rudolf”, seperti dikenal hingga kini, hanya tambahan nama dari iparnya agar ia bisa diterima di ELS. Setelahnya, ia pindah ke Sekolah Melayu. Lulus 1917. Tamat dari situ, ia mengikuti kursus bahasa Belanda. Menyabet gelar KAE (Klein Ambtenaars Examen), sekalian di usia 17 (1920) itu, berkat kemahirannya berbahasa Belanda, pun ia diterima belajar di Normaal School, sekolah guru. Di sinilah ia mulai ikut bermain group musik aliran jazz, pimpinan iparnya. Black and White, adalah nama kelompok band yang sangat tersohor di Makassar di kala itu.

Sebagai alumnus sekolah guru, pada usia 20 tahun, ia bekerja sebagai guru. Tetapi saat hendak ditugaskan ke Sengkang, pedalaman Sulawesi, ia menolak karena alasan keamanan. Sebab itu ia dicopot sebagai seorang guru, lalu berpindah kerja di Firma Nadem. Tak lama, ia berpindah lagi ke Kantor Advokat, Mr. Schulten. Juga tak lama karena di tahun 1924, memilih pulang ke tanah leluhurnya di Jawa. Dari Surabaja, ke Bandung, lanjut ke Batavia. Selain tetap bermusik, ia juga bekerja jadi pewarta di Koran “Kaoem Moeda”, Kantor Berita “Alpena”, serta Koran Tionghwa-Melayu “Sin PO”. Profesi pewarta itulah yang mendekatkan dirinya dengan tokoh pergerakan. Hingga puncaknya, ketika Wage tampil mendawai biolonya dengan syair lagu Indonesia Raya.

Ya, lagu Indonesia Raya. Resmi lagu kebangsaan yang seringkali kita nyanyikan dengan khudzu. Kita hormati, bahkan kita sakralkan. Lagu yang membakar gelora kaum pergerakan, hingga bangsa ini meraih kemerdekaan, sekalipun sosok sang pencipta lagu itu sendiri, tak sempat jua menyaksikan kala kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, diiringi lagu ciptaanya. Wage, mati muda di usia 35 tahun, 17 Agustus 1938, di Surabaja. Memilukan, ia menderita sakit akibat tak henti di uber, di interogasi, juga ditahan oleh polisi Belanda karena lagu-lagu ciptaannya dinilai menantang kaum kolonial. Ia gugur demi kemerdekaan bangsanya. Ia gugur sebelum menikahi Salamah, kekasihnya. Ia hanya menikahi negerinya. Negeri merdeka yang kita nikmati saat ini.

Tags:

Lagu Indonesia RayaW.R. SupratmanArmin Mustamin Toputiri DPRD Sulsel

loading...