logo rilis
Wacana Jokowi soal Maskapai Asing Bisa Jadi Bumerang
Kontributor
Nailin In Saroh
12 Juni 2019, 18:15 WIB
Wacana Jokowi soal Maskapai Asing Bisa Jadi Bumerang
Ilustrasi Pesawat Terbang

RILIS.ID, Jakarta— Komisi V DPR RI menilai wacana Presiden RI Joko Widodo mengundang maskapai asing untuk bersaing di industri penerbangan domestik nampaknya perlu dikaji lebih dalam. Meskipun itu sebagai bagian dari upaya untuk menurunkan tarif tiket pesawat.

Wakil Ketua Komisi V DPR RI Sigit Sosiantomo mengatakan, selama belum ada regulasi yang mengatur tarif tiket pesawat, kebijakan itu bisa jadi bumerang bagi maskapai domestik.

"Menurut saya permasalahan tarif tiket ini harus ada regulasi yang mengatur. Enggak bisa kalau diatur oleh maskapai. Masak negara diatur oleh maskapai," ujar Sigit di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Menurutnya, selama formula tarif tiket pesawat tidak diubah, keberadaan maskapai asing hanya akan membuat maskapai domestik hancur. 

"Yang tahu formula tarif tiket kan kita, formula sebenarnya ada di kita. Bila mengundang maskapai asing dan formulanya enggak diubah, ya mereka (maskapai domestik) nanti yang hancur," katanya.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla menilai rencana pemerintah mengundang maskapai asing untuk masuk ke pasar penerbangan di Indonesia bukan solusi menurunkan harga tiket pesawat. Berkaca dari pengalaman maskapai Air Asia, kata JK, perusahaan asal Malaysia itu tetap kalah bersaing dengan sejumlah maskapai Tanah Air. 

"Sudah masuk kan maskapai asing, Air Asia. Tapi dia juga tidak sanggup bersaing di Indonesia. Jadi masuk asing bukan solusi," ujar JK di Jakarta, Selasa (11/6). 

JK mengaku pernah menggunakan maskapai Air Asia untuk pulang ke kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan. Namun, menurut dia, Air Asia kini tak lagi melayani rute ke Makassar karena kalah saing. 

"Dulu saya sering pakai ke Makassar, sekarang enggak ada lagi tuh ke Makassar. Sekarang Air Asia yang bergerak hanya ke Bali, ke mana, jadi tidak sanggup juga bersaing," katanya. 

Menurut JK, mahalnya tiket pesawat tak lepas dari biaya perawatan yang juga tinggi. Apalagi, biaya yang dikeluarkan maskapai menggunakan mata uang dolar AS, seperti biaya sewa pesawat, pembelian avtur, hingga suku cadang. 

"80 persen komponen (biaya) itu dalam dolar AS, mulai dari harga pesawat, leasing pesawat, harga avtur, spare part, maintenance. Hanya gaji pilot saja yang rupiah," terangnya.




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID