logo rilis
Viral Taruna Akmil Keturunan Perancis Diduga Pendukung HTI, Ini Kata Pakar Medsos
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
08 Agustus 2019, 13:30 WIB
Viral Taruna Akmil Keturunan Perancis Diduga Pendukung HTI, Ini Kata Pakar Medsos
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber dan Komunikasi CISSReC, Pratama Persada, mengatakan, kasus viralnya calon Taruna TNI berinisial EZA menjadi pelajaran berharga bahwa penggunaan media sosial juga menjadi salah satu aspek penilaian dalam rekrutmen kerja ataupun pendidikan.

"Ini menjadi hal yang menarik karena media sosial kini menjadi salah satu aspek penilaian dalam perekrutan kerja atau pendidikan," kata Pratama saat dihubungi di Jakarta, Kamis (8/8/2019). 

Pratama menyebutkan, di luar isu EZA memang masyarakat sebaiknya menjadikan media sosial sebagai tempat silaturahmi. Di sisi lain, ternyata banyak juga lembaga dan perusahaan yang menjadikan media sosial dan Google sebagai alat atau perangkat untuk melakukan profiling. 

Menurut dia, EZA mendadak viral di media sosial dan media massa lantaran pemuda berusia 18 tahun itu berdarah blasteran Perancis-Indonesia yang dinyatakan lolos menjadi Taruna Akademi Militer (Akmil) Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Pemuda itu pun dikabarkan terindikasi sebagai simpatisan organisasi terlarang di Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Informasi terkait EZA ini hingga sekarang masih simpang siur. Kapuspen TNI sendiri meyakini bahwa EZA tidak terpapar radikalisme.

"Tentu TNI telah memiliki sistem seleksi yang ketat terhadap para calon taruna. Mulai dari tes tertulis, wawancara hingga mungkin profiling di media sosial," kata Pratama.

Untuk itu, lanjut dia, masyarakat perlu menunggu informasi resmi dari pihak TNI tentang kepastian apakah EZA benar-benar terpapar HTI atau tidak.

Apabila EZA terpapar HTI, maka sudah sepantasnya EZA diberhentikan. Karena di Indonesia HTI sudah dikategorikan sebagai organisasi terlarang.

Namun apabila ternyata EZA tidak ada sangkut pautnya dengan HTI, maka penyebar berita ini perlu diklarifikasi.

"Apabila hal ini diketahui sebagai 'hoax' atau berita palsu, maka penyebar berita ini dapat terjerat dengan UU ITE," kata Pratama.

Pratama memang tidak menampik adanya foto EZA sedang naik gunung membawa bendera lafas kalimat tauhid. Yang menjadi perdebatan netizen adalah apakah itu bendera HTI atau bukan.

"HTI memang disetiap acara dan aksi selalu membawa bendera serupa, namun banyak juga umat Islam di luar HTI yang menjadikan bendera tersebut sebagai atribut, baik di pesantren maupun di sekolah. Karena itu perlu penjelasan lebih dalam dari MUI soal bendera tersebut," ujarnya. 

Taruna Akmil keturunan Indo-Perancis, EZA, sempat menarik perhatian Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan videonya viral di media sosial setelah diajak berbicara bahasa Prancis oleh Panglima.

EZA diketahui fasih berbicara empat bahasa yakni bahasa Prancis, bahasa Inggris, bahasa Arab dan bahasa Indonesia.

Dia lahir di Prancis, tapi pindah ke Indonesia pada usia 13 tahun setelah ayahnya meninggal dunia dan memiliki status WNI.

Namun, dia diduga terpapar gerakan HTI yang diketaui dari salinan gambar media sosial Facebook.

Sumber: Antara




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID