Home » Fokus

USBN Jangan Merepotkan

print this page Jumat, 12/1/2018 | 21:03

ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

PEMERINTAH melalui Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan (Kemendikbud) telah memantapkan sistem pelaksanaan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) 2018. Terjadi polemik antara siswa, guru dan regulasi tersebut.

Di antaranya, masalah waktu yang mepet, sistem ujian dengan esai, sosialisasi yang belum terlaksana serta kompetensi tenaga pengajarnya.

Melihat fenomena itu, tim rilis.id mewawancarai Ketua Komisi X DPR, Djoko Udjiantono dan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembangunan Karakter, Arief Budiman. 

Djoko Udjiantono

Ketua Komisi X DPR, Djoko Udjiantono. FOTO: Humas DPR

Pemerintah telah meresmikan pelaksanaan USBN 2018, bagaimana pendapatnya?

Kebijakan mengenai USBN yang terpenting jangan sampai merepotkan anak didik dan orang tua. Itu yang terpenting. Jika merepotkan dan menambah beban psikis anak, produk kebijakan ini harus diantisipasi untuk mencari jalan keluarnya.

Seharusnya, tim ahli dari kementerian tahu betul dampak kebijakan ini. Tetapi yang jelas jika diterapkan secara nasional memang agak susah.  

Butuh berapa lama untuk mengoptimalkannya?

Tentu memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengkaji dan melakukan uji sampling. Setelah itu, baru diberlakukan sistemnya. Karenanya, perlu ada sosialisasi dan uji coba di daerah yang standarnya sudah jelas.

Apakah mungkin USBN dilakukan dengan standar yang sama? 

Masing-masing daerah memang berbeda cara mengujinya. Kemampuan peserta didiknya juga beda. Setelah rapat kerja bersama Mendikbud, disimpulkan bahwa USBN tidak bisa diberlakukan secara nasional dengan standar yang sama. 

Arief Budiman

Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembangunan Karakter, Arief Budiman. FOTO: Kompas.com

USBN menjadi penentu nilai akademis, lantas bagaimana dengan persoalan karakter di anak? 

Pada prinsipnya ujian sangat berkaitan dengan pendidikan karakter, utamanya dengan nilai integritas dan kemandirian. Pengembangan bentuk ujian dengan esai adalah salah satu upaya untuk menguatkan karakter siswa. 

Tujuannya untuk menggali kemampuan siswa agar berlatih berpikir kritis. Selain itu, USBN sebagai upaya mencegah praktik ketidakjujuran yang jelas akan mengingkari hakekat pendidikan. 

Manfaat dari USBN ini apa?

Hasil USBN dapat dijadikan bahan evaluasi bagi guru dan anak didik juga sebagai "cermin" yang memberi gambaran apa adanya, serta dapat dimanfaatkan hasilnya untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan dalam rangka menyiapkan generasi yang dapat berpikir kritis, cerdas dan berkarakter.

USBN menjadi momentum untuk ajang praktik kejujuran. Ujian yang sukses adalah ujian yang mengutamakan kejujuran di samping prestasi akademis. Ujian, kemudian menjadi tanggung jawab bersama untuk berlaku jujur. 

Bagaimana peran guru? 

USBN menguatkan kembali peran guru. Mereka dipercayakan untuk membuat soal dan evaluasi. Pemerintah hanya memberikan standar kisi-kisi. Persentasenya, 20-25 persen dari pemerintah dan sisanya 75-80 persen dari KKG dan MGMP.

Diberinya kepercayaan terhadap guru ini, harapannya agar soal-soal tidak perlu dibocorkan. Guru, diharapakan mandiri dalam penyelenggaraan ujian. Materi yang diberikan pun seharusnya sudah dikuasai oleh murid.

Baca juga:
Duh! Anak SD Harus Bikin Esai (bag. 1)
Ujian Nasional Bakal 'Makan' Tumbal? (bag. 2)
Antara Nilai dan Kelakuan Siswa Sekolah (bag. 3)
USBN Jangan Merepotkan (bag. 4)

Penulis Elvi R, Tio Pirnando, Afid Baroroh
Editor Andi Mohammad Ikhbal

Tags:

USBNUjian Nasional 2018KemendikbudKomisi X DPR