logo rilis

Upaya Kementan Tangani Rabies
Kontributor

27 Maret 2018, 17:26 WIB
Upaya Kementan Tangani Rabies
Petugas Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar melakukan tracing rabies untuk mengejar anjing yang masih infected, Buleleng, Bali, 12 Februari 2018. FOTO: bbvdps.ditjenpkh.pertanian.go.id

RILIS.ID, Jakarta— Nusa Tenggara Barat (NTT) merupakan salah satu provinsi yang belum terbebas rabies sejak 1997. Dalam rangka mengendalikan zoonosis itu, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH Kementan) melakukan berbagai upaya.

Misalnya, kata Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH, Fadjar Sumping Tjatur Rasa mengalokasikan dana pengendalian rabies saban tahun. Duit untuk penyediaan vaksin rabies, operasional vaksinasi, logistik kegiatan vaksinasi, pengawasan, serta koordinasi pelaksanaan program. 

Ada juga pemenuhan sumber daya manusia (SDM) melalui tenaga harian lepas (THL) sebanyak 20 dokter hewan dan 42 paramedik veteriner 42. Mereka ditugaskan membantu pelaksanaan program pembebasan rabies di NTT. 

"Tahun 2018, Ditjen PKH menganggarkan dana tugas pembantuan (TP) sebanyak 1,5 juta dosis dengan nilai anggaran sebesar Rp35 miliar untuk prioritas provinsi tertular rabies," ujarnya via siaran pers yang diterima rilis.id di Jakarta, Selasa (27/3/2018).

Dana ini, imbuhnya, termasuk alokasi vaksin untuk NTT sebesar 250 ribu dosis. "Beserta komponen pendukungnya dengan nilai mencapai Rp4 miliar," jelasnya.

Dia mencontohkan dengan pengiriman tim dokter hewan dari Staf Direktorat Kesehatan Hewan dan Balai Besar Veteriner Denpasar ke NTT, hari ini. Mereka membawa vaksin, melakukan koordinasi tindak lanjut pengendalian rabies, serta sosialiasi bahaya penyakit anjing gila kepada masyarakat.

Menurutnya, sosialisasi penting mengingat setiap kejadian umumnya disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat tentang bahaya rabies. Sehingga, korban lambat ditangani.

Masyarakat, kata Fadjar, disarankan melapor ke Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) atau Rabies Center, bila mendapati korban gigitan anjing gila. Tujuannya, diperiksa dan diberikan vaksin antirabies secepat mungkin.

"HPR (hewan penular rabies) yang menggigit, agar segera diamankan dan dilaporkan ke Puskeswan dan/atau dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan untuk penanganan lebih lanjut," imbuhnya.

Fadjar berkeyakinan, kasus rabies dapat ditekan dan risiko terjadi rabies bisa diminimalisasi, jika semua strategi teknis pengendalian dan protokol penangannya dilaksanakan. "Pembebasan penyakit rabies dapat dicapai, apabila semua pemangku kepentingan bisa bekerja sama dalam penanganannya," tuntasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)