logo rilis
UNBK, Wujud Nyata Penguatan Pendidikan Karakter
Kontributor
Elvi R
02 April 2018, 15:07 WIB
UNBK, Wujud Nyata Penguatan Pendidikan Karakter
Ujian Nasional Berbasis Komputer. FOTO: Istimewa

RILIS.ID, Jakarta— Penyelenggaran Ujian Nasional (UN) yang berlangsung kurang lebih 10 tahun terakhir merupakan salah satu tolok ukur pendidikan Indonesia. Terkini, UN bertransformasi menjadi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Ini menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas UN secara kualitatif dan kuantitatif. 

Staf Khusus Bidang Karakter Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Arie Budiman menyebut, UNBK diselenggarakan dengan prinsip 'Prestasi Penting-Kejujuran yang Utama'. Ini sesuai dengan Nawacita yang dirancang pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Hal ini memang terkait dengan penumbuhan nilai integritas dalam penguatan pendidikan karakter. Ini juga bagian dari upaya menunaikan nawacita," ujar Arie kepada rilis.id, Senin (2/4/2018).

Menurutnya, sistem teknologi dan infomatika (TIK) dalam UN itu mendukung upaya pemerintah mewujudkan nilai karakter kejujuran. Karena, penggunaan teknologi meminimalisir kecurangan yang mungkin saja dilakukan oleh siswa.

"Melalui penguatan pendidikan karakter (PPK), kita harus optimis, pembiasan nilai-nilai baik tersebut akan menjadi karakter dan membudaya," katanya. 

Saat ini, lanjut Arie, semakin banyak sekolah yang menerapkan PPK dan terus menyebar luas.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, tak relevan lagi menguji kejujuran siswa dengan UN, karena tidak ada lagi peluang kecurangan atau berbuat pelanggaran.

"Harapan saya, ke depan kualitas UN akan semakin baik dari tahun sebelumnya. UN sekarang tidak lagi relevan untuk menguji kejujuran siswa karena tidak ada lagi peluang kecurangan atau kecil sekali peluang untuk berbuat pelanggaran," ujar Mendikbud saat meninjau pelaksanaan UN di SMKN 29 dan SMKN 6 Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan, pihaknya berupaya agar pelaksanaan UN berbasis komputer (UNBK) dan UN kertas pensil (UNKP) tidak bocor. Hal ini dikarenakan setiap siswa mengerjakan soal yang berbeda dengan siswa yang lainnya.

"Andaikan bocor, itu peluangnya kecil sekali dan itu juga sangat luar biasa kalau itu terjadi karena soal baru bisa dibuka beberapa menit sebelum UN dimulai, serta hanya bisa dibuka oleh siswa yang ada di depan komputer itu." Mendikbud menjelaskan hasil UN nantinya akan digunakan untuk standarisasi dan melakukan pemetaan pendidikan secara nasional.

UNBK soal Hasil Bukan Proses

Wakil Sekretaris Jenderal FSGI Fahriza Marta Tanjung menyebut, berdasarkan kecurangan masih mungkin terjadi mengingat UN atau pun UNBK masih menjadi tolok ukur prestasi sekolah dan daerah. Hasil UNBK adalah gengsi bagi sejumlah pihak.

"UN sudah 10 tahun diperdebatkan, kalau dianggap salah satu cara mendidik karakter? Iya. Tapi, tidak berpengaruh signifikan," ujarnya kepada rilis.id.

Hal ini, lanjut Fahriza karena UN atau UNBK menitikberatkan hasil ketimbang proses pembelajaran. 

"Cenderung sebagai ajang prestasi, akibatnya ada upaya di luar jalur kadang. Akibatnya, pelaksanaan UN mengedepankan hasil dari prosesnya," ungkapnya.

Menurutnya, PPK merupakan proses panjang yang harus dilalui siswa. Proses itu berlangsung di sekolah, lingkungan dan keluarga. "Pengaitan UNBK dan karakter adalah sebuat penyederhanaan persoalan pendidikan, padahal tidak sesederhana itu," tutupnya.


500
komentar (0)