logo rilis
Ukay Karyadi, KPPU Harus Menumbuhkan Usaha Baru
Kontributor
Yayat R Cipasang
02 Mei 2018, 14:45 WIB
Ukay Karyadi, KPPU Harus Menumbuhkan Usaha Baru
Komisioner KPPU Ukay Karyadi. FOTO: dok.pribadi

SELAMA ini di kalangan aktivis terkesan alergi dengan perusahaan besar atau korporasi raksasa. Padahal mereka itu menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Kesan ini membuat gusar komisioner Komisi Persaingan Usaha (KPPU) Ukay Karyadi. Dalam perbincangan santai di sebuah kedai di pinggirian Kota Depok, Jawa Barat, baru-baru ini, urang Karawang itu mengatakan, KPPU memiliki fungsi untuk menjelaskan dan memberikan literasi kepada masyarakat tentang persaingan yang sehat. 

Menurt Ukay, persaingan tidak sehat seperti monopoli dan kartel terjadi tidak hanya pada perusahaan besar, perusahaan menengah pun banyak yang melakukan kecurangan. "Misalnya saja selama ini laporan ke KPPU, 75 persen mengadukan tentang kecurangan tender di daerah," ujarnya.

Pada prinsipnya, lanjut Ukay, KPPU itu harus memberikan keadilan, bisa mensejahterakan rakyat dan dapat menciptakan peluang-peluang usaha baru.

"Keputusan atau vonis KPPU atas pelanggaran persaingan usaha tidak sehat itu harus dapat menciptakan atau menumbuhkan peluang usaha baru sehingga lahir dan tumbuh pengusaha-pengusaha baru," kata kolumnis di sejumlah media massa ekonomi tersebut.

Sebelum terpilih menjadi komisioner KPPU, Ukay Karyadi sebelumnya pernah menjadi Tenaga Ahli DPR dan menjadi Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan saat dijabat Sharif Cicip Sutarjo. Kebetulan saat mengambil magister di Universitas Indonesia tesis yang dibuat Ukay Karyadi menyinggung juga tentang persaingan usaha.

Alumnus Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) ini sejak mahasiswa memang kerap menulis opini di media massa terkait ekonomi. Namun, belakangan tulisan Ukay Karyadi lebih banyak menyinggung tentang persaingan usaha.

Direktur Eksekutif Prospera Institute ini terpilih untuk masa kerja lima tahun ke depan dalam uji kelayakan dan kepatutan di Komisi VI DPR. Ukay Karyadi yang kelahiran Karawang, 2 September 1973 ini, terpilih dan menjadi bagian dari sembilan komisioner KPPU yang mewakili anasir masyarakat.

Ukay Karyadi mengakui tantangan yang dihadapi KPPU sangat berat. Apalagi KPPU bertindak tidak bisa berdasarkan asumsi apalagi kabar dan pemberitaan di media massa. Tidak bisa langsung menuduh.

"Pada hakikatnya, KPPU itu adalah wasit. Kasihan kan kalau perusahaan langsung dikasih kartu merah. Mereka tidak bisa protes lagi mungkin hanya banding. Kalau langsung dikasih kartu merah mereka harus dikeluarkan dulu dari pertandingan. Jadi tidak bisa kita langsung menuduh dan langsung vonis," ujarnya.

Dalam penilaian Ukay Karyadi, banyak kebijakan-kebijakan pemerintah baik di pusat atau di daerah yang tidak mendukung terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat. Lantaran itu, muncullah kasus-kasus usaha tidak sehat di masyarakat.

"Karena itu menurut saya pemerintah perlu mengevaluasi semua kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya, mana yang berpotensi dan mana yang menghambat persaingan usaha yang tidak sehat," ujarnya.

Ukay Karyadi yakin pemerintah bersedia untuk menderegulasi peraturan-peraturan menteri misalnya yang mengganggu iklim persaingan usaha tidak sehat. Toh, pemerintah selama ini terbukti dengan mudah mencabut peraturan yang menghambat investasi.

"Saya kira pemerintah mau menderegulasi peraturan itu karena bila tidak dicabut dampaknya bisa mengganggu iklim investasi. Tidak ada lagi usaha atau pengusaha baru karena terhambat. Sementara pengusaha lama enjoy di zona nyaman karena tidak ada persaingan. mereka malas berinnovasi," paparnya.

Hari ini, 2 Mei 2018 Ukay Karyadi bersama delapan komisioner lainnya secara resmi bekerja untuk lima tahun ke depan. Tantangan yang dihadapi tentu semakin kompleks. Belum lagi kemungkinan berbagai tantangan dan tekanan eksternal yang sangat kuat karena di sana berkelebat dan berseliweran kepentingan korporasi besar.

"Kalau soal itu jangan dipikirkan nanti kita malah nggak bisa bekerja," ujarnya diplomatis.

Selamat bekerja, Bung!


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)