logo rilis

Turki: Tak Ada Perdamaian jika Palestina Masih Diduduki
Kontributor
Syahrain F.
20 Mei 2018, 15:21 WIB
Turki: Tak Ada Perdamaian jika Palestina Masih Diduduki
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Ankara— Juru bicara Kepresidenan Turki Ibrahim Kalin mengatakan, tak akan ada perdamaian di Palestina kecuali Israel mengakhiri okupasinya.

“Persoalannya adalah okupasi tak juga berakhir, tak akan ada kedamaian, tak ada keamanan, tak ada kemakmuran bagi siapa pun," ujar Kalin dalam harian Sabah, kemarin (19/5/2018).

"Berkat kebijakan tak bertanggung jawab dan populis dari administrasi Trump dan Netanyahu, perdamaian belum juga terwujud hingga kini," tambah dia.

Menurutnya, negara-negara Muslim, Eropa, Afrika, bangsa-bangsa Asia dan Amerika Latin harus bersatu menghentikan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional yang dilakukan Zionis.
 
Jumlah warga Palestina yang menjadi martir oleh tembakan Israel selama aksi protes berlangsung pada Senin lalu di Jalur Gaza naik menjadi 64 orang sementara ratusan lainnya terluka.

"Ini akhir dari peran administrasi Donald Trump dalam proses perdamaian Timur Tengah," ucap Kalin, melansir Anadolu Agency.

Dia mengatakan, langkah AS untuk merelokasi kedutaannya "juga merusak harapan yang tersisa untuk solusi dua negara", yang dia sebut "paku terakhir di peti mati".

"Netanyahu (PM Israel) mungkin menikmati kebisuan dari komunitas internasional dan perpecahan dan kelesuan dunia Arab, tetapi dia tak pernah bisa menghancurkan kehendak rakyat Palestina dan dukungan kami untuk mereka," ujarnya.

Kalin juga menuduh media Eropa dan Amerika tidak "mengatakan yang sebenarnya" tentang pembunuhan di Gaza.

"Berita utama soal ‘Puluhan orang tewas di Gaza’ tak satu pun menyebutkan kebrutalan Israel dan pembunuhan yang disengaja, seolah-olah warga Palestina meninggal karena bencana alam atau epidemi," katanya, merujuk pada sebuah tulisan New York Times yang kemudian dikecam secara luas.

"Bayangkan bagaimana dunia akan bereaksi jika 62 orang yang tewas pada 14 Mei adalah warga Israel, bukan warga Palestina," tukasnya.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)