logo rilis
Turbulence After Take Off
Kontributor
RILIS.ID
23 Juni 2018, 14:17 WIB
Turbulence After Take Off
FOTO: sbm.itb.ac.id

Oleh Jusman Syafii Djamal
Komisaris Utama Garuda Indonesia dan Menteri Perhubungan Kabinet Bersatu I


HARI ini, Sabtu (23/6/2018) saya berangkat dengan GA 881 dari Narita, Jepang menuju Denpasar, Indonesia. Sebelum take off tepat di ujung landasan, captain pilot memberi warning : “baru saja ATC memberi informasi, setelah tinggal landas kita akan menghadapi turbulensi. Agar kencangkan sabuk pengaman”. 

Dan benar prediksi cuaca yang disampaikan. Perjalanan menuju Bali diawali dengan guncangan seperti menyusuri laut dengan speedboat. Ada rasa khawatir tapi cepat hilang sirna karena punya rasa percaya pada keahlian dan jam terbang captain in command.

Fenomena pesawat terbang yang menghadapi guncangan perubahan cuaca sepanjang penjalanan adalah sesuatu yang normal di alam climate change seperti saat ini. Begitu juga perubahan landscap bisnis akibat percepatan kemajuan teknologi yang dikenal dengan istilah disrupsi juga kini telah menjadi “a new normal” sesuatu yang secara alamiah harus dihadapi. 

Karenanya para staf dan karyawan, baik ground crew maupun air crew serta para pilot, yang bekerja sebagai profesional di industri maskapai penerbangan seperti juga mereka yang memiliki periuk nasi bekerja di industri retail dan manufaktur kini harus memiliki keahlian untuk beradaptasi terhadap “business cycle” yang mengalami pasang surut.

Tak bisa lagi merasa terus menerus terlena di zona nyaman. Merasa akan tentram dan aman sentosa selamanya. Periuk nasi jangan diguncang-guncang agar isinya tidak tumpah kemana-mana.

Teori dan tata kelola bisnis di tahun sebelum 1998 sudah berusia 20 tahun. Sudah dua kali life cycle sepuluh tahunan. Tak mungkin terus dijadikan pegangan. Kita tak mungkin memiliki fanatisme terhadap metode dan model bisnis. Seolah apa yang dulu berhasil menuju puncak, kini dapat diulangi kembali.

Tak mungkin kita menemukan hasil yang sama dengan metode kerja yang itu-itu terus. Kekedaluarsaan metode dan model bisnis perlu dicermati.

Kita masih sering bertemu orang yang mengaku ahli problem solver yang terus menerus menyuarakan gendang yang sama bertalu-talu. Yang terus mengenggam kehebatan masa lalu, dengan ucapan klasik “waktu om masih muda” saya berhasil begitu dan begini. Lupa yang diceritakan itu kehebatan dua puluh tiga puluh tahun lalu.

Coba amati World Cup 2018 di Russia. Kita yang fanatik pada kehebatan Lionel Messi akan tenggelam dalam kesedihan ketika menonton Argentina digunduli Kroasia 3-0 tanpa balas. Begitu juga yang penggemar Jerman menitikkan air mata ketika Islandia memaksa takluk 1-0.

Setiap bisnis akan menghadapi turbulensi. Rumusnya mudah kencangkan sabuk pengaman, tenang duduk di goncangan bersenyawa dengan model bisnis yang baru dan memiliki trust pada captain in command.

Miliki daya adaptasi dan agility. Setiap tantangan dan problema serahkan pada ahlinya, insya Allah setiap turbulensi akan memiliki akhir. Fluktuasi, volatilitas, uncertainty dan ambiguity pasti memiliki pola yang dapat dikenali dan dikelola dengan baik menuju tujuan.

Saya share tulisan ini dari pesawat terbang Boeing 777-300 ER yang sedang terbang jelajah pada posisi 4.600 km menuju Ngurah Rai, di atas ketinggian 38.000 kaki dengan kecepatan 918 km/ jam melalui jaringan high speed internet acces, wifi yang ter-install di pesawat kerjasama sinergi Garuda dengan Telkom Indonesia. Salam


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)