logo rilis
Tumbuh Dewasa di Sosial Media
Kontributor
RILIS.ID
08 Agustus 2018, 11:02 WIB
Tumbuh Dewasa di Sosial Media

Nanang Suryana
Peneliti Muda Pusat Studi Politik & Keamanan UNPAD

KITA seringkali tak utuh membaca kalimat. Memenggal sebagian, hingga tak sampai pada inti pesan. Begitulah sulitnya saling mengerti dalam berkomunikasi. Banyak kendala bisa mampir dalam percakapan yang nyata, lebih-lebih di dunia yang maya.

Kesalahpahaman melahirkan keterbelahan. Tanpa besar hati penerima perbedaan, percakapan tak lebih dari adu taji soal versi kebenaran. Tukar menukar pendapat harus diiringi dengan keinsyafan: yang saya katakan mungkin mendekati kebenaran, semoga pendapat Anda bisa menggenapinya menjadi utuh. 

Menutup kemungkinan adanya kebenaran lain, adalah titik pijak yang rapuh dalam membangun argumen. Jual-beli informasi tidak bisa hanya mengandalkan pada sentimen. Di sosial media yang miskin ekspresi, kecerdasan kita dituntut mampu menjadi pijar. Jika tidak, gelapnya prasangka akan membutakan segalanya.

Ragam beranda di gawai genggaman, memang mampu menjadi ruang artikulasi gagasan. Kita bisa bicara apa saja, tanpa harus takut terintimidasi dengan label defisit pengetahuan. Namun, sosial media bukan berarti alpa dari banyak kekurangan. Seringkali, keterbatasan membuat teks tercerabut dari konteks karena serakan kalimat tercecer menjadi banyak bagian. Karena itu, bijak berbahasa di sosial media, adalah cara terbaik bagi kita tumbuh dewasa. 

Soal lainnya adalah perihal tanggung jawab. Ketika kita memutuskan menaruh kata-kata di lini masa, kita harus sedia menanggung konsekuensinya. Bukan semata sedia menjawab, sebagai alasan kekeliruan kita tak berpikir efek yang akan ditimbulkannya.

Di tahun politik seperti sekarang, lini masa kiranya akan banjir oleh banyak keberpihakan. Entah pada banyak aktor kekuasan, atau pada rupa ide dan gagasan. Realitas seperti ini disatu sisi adalah pertanda baik, menandakan demokrasi tumbuh karena pubik terlibat dalam percakapan politik. Namun, di balik pintu pengujar kebencian tak lelah mengintip, menunggu kita lengah, dan muncul menjadi pemantik konflik.

Pilihan politik adalah hak dari setiap individu warga bangsa. Tak ada ruang bagi pemaksaan, lebih-lebih dengan kekerasan. Berbeda dalam politik, artinya berbeda sebagai publik. Penarikan garis yang tegas dengan ranah privat, membuat kita tak lelah harus membawanya menjadi beda sebagai saudara. Kita boleh saja tak sama soal pilihan, tapi kita selalu satu pada soal-soal kemanusiaan. Jangan hanya karena beda memilih, kita menjadi saling tersisih.

Sosial media dapat menjadi ruang yang mengayakan, jika kita terbuka terhadap kritik. Namun, secara bersamaan dia dapat menjerumuskan, jika kita tak mampu berdamai dengan ragam perspektif. 

Setiap dari kita punya sudut pandang. Memaksa semua melihat dari sisi yang sama, hanya akan membuat kita tertatih letih. Perbedaan pandangan adalah ciri dari masyarakat yang berpikir, kekayaan yang harus dirayakan dengan penuh kegembiraan.

Demokrasi tumbuh dengan diskursus. Menafikan perlawanan adalah cara terbaik membuat demokrasi mati perlahan. Segala pandangan, dan juga keberpihakan, harus dimengerti sebagai sebuah pilihan. Memaksa yang lain melihat dari tempat kita berdiri, hanya akan membuat mereka berpihak karena emosi. Sedang demokrasi, baiknya dibangun di atas kesadaran, dan rasionalitas atas pilihan.

Aksara di sosial media tentu punya nada. Minor, hanya sebagian kecil dari kumpulan yang lain. Tak ada lagu yang indah, dengan hanya mengandalkan satu tangga nada. Yang harus diracik adalah kumpulan nada yang tersusun secara ritmik. Begitu juga isu. Tak pernah ada kebenaran jika hanya memaksakan satu perspektif, untuk itulah sosial media hadir, dengan harapan, kita tumbuh menjadi pribadi yang pandai memilah, yang mana informasi, dan yang mana kumpulan cerita palsu.

Melalui sosial media, kita terus belatih menjadi manusia. Pilih menjadi dewasa, atau terperosok dalam jurang kata-kata.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)