logo rilis
TTP Cigombong Dorong Kembali Berkembangnya Rumah Pangan Lestari
Kontributor
Intan Nirmala Sari
13 April 2018, 11:48 WIB
TTP Cigombong Dorong Kembali Berkembangnya Rumah Pangan Lestari
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Dinamika penguasaan lahan ke arah yang lebih sempit tidak dapat dibendung. Pembagian warisan, pertambahan penduduk, maupun peralihan pemanfaatan lahan diidentifikasi sebagai penyebabnya. Kondisi tersebut justru paling terasa terjadi di desa.

Kini, rumah-rumah di desa pun menjadi jauh lebih kecil dengan pekarangan yang juga terbatas. Oleh karena itu, upaya yang mendatangkan manfaat seperti konsep urban farming juga dapat diterapkan di wilayah pedesaan.

Sebutan urban farming pun menjadi lebih fleksibel melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan dengan konsep Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sistem penanaman vertikultur adalah bentuk aplikatif dari konsep KRPL. Sudah sejak lama teknologi tersebut digaungkan dan diimplementasikan oleh Kementerian Pertanian, dan Balitbangtan sebagai penggeraknya.

Vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat, sehingga tercipta optimalisasi. Misalnya, pada lahan satu meter yang hanya mampu memuat lima batang tanaman, maka dengan sistem vertikal bisa untuk 20 batang tanaman. Struktur vertical memudahkan pengguna membuat dan memeliharanya.

Model, bahan, ukuran, wadah vertikultur dapat disesuaikan dengan kondisi dan keinginan, bahkan dapat memanfaatkan bahan di sekitar ataupun bekas. Tanaman yang dibudidayakan, umumnya berumur dan berakar pendek, utamanya tanaman sayuran seperti selada, kangkung, bayam, pokcoy, caisim, katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun dan tanaman sayuran daun lainnya.

Di perkotaan, konsep ini cukup familiar, beda dengan masyarakat desa. Perlu pelopor untuk menyampaikan informasi maupun manfaat dari budi daya secara vertikultur. Hal inilah yang tengah dilakukan Taman Teknologi Pertanian (TTP) Cigombong. Keberadaannya merupakan bagian dari objek, sekaligus media diseminasi berbagai paket teknologi hasil Balitbangtan dan Perguruan Tinggi, serta kontribusi Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Bogor. 

Sejak Juni 2017, implementasi Getok Tular vertikultur dimulai dengan menyasar 30 wanita di Desa Tugujaya, di mana TTP Cigombong berada. Hal ini tidak lepas dari peran Dede Zaenab, Ibad, beserta tim lainnya selaku pelaksana TTP Cigombong. Bahkan, implementasinya mendapatkan dukungan anggaran dari salah satu lembaga pemilik CSR, yaitu Lintasarta.

“Rutinitas wanita desa kian produktif. Setiap Senin dan Kamis dengan produksi 10-15 kilogram berbagai jenis sayuran seperti selada, pokcoy dan bayam dapat dipasarkan melalui koperasi TTP Cigombong. Pengaturan siklus tanam dan jenis sayuran di setiap rumah merupakan strategi kesinambungan produksi,"kata Dede.

"Meskipun begitu, nilai penjualannya belum begitu besar, berkisar Rp13.000-15.000 per kilogram. Pendapatan yang diperoleh tersebut, dijadikan simpanan sukarela oleh para wanita yang juga tergabung sebagai anggota koperasi” paparnya.

Kepala Balai PATP Balitbangtan Retno Sri Hartati Mulyandari, menyampaikan rasa syukurnya ketika implementasi teknologi yang berasal dari Balitbangtan dan Perguruan Tinggi sejak 2015-2017, yang kini di bawah pembinaan penuh Pemda Kabupaten Bogor, mendatangkan manfaat bagi penduduk sekitar.

Lebih lanjut, ditegaskan bahwa vertikultur ditujukan untuk optimalisasi pemanfaatan lahan sempit, namun lebih dari pada itu, di dalamnya terdapat konsep pemberdayaan peran wanita. Bukan berbicara nilai pertambahan pendapatan semata, tapi hasil vertikultur juga memberikan kontribusi asupan pangan sehat bagi keluarga, karena sayuran dibudidayakan secara organik.

Sumber: Morina Pasaribu/Humas Balitbangtan


komentar (0)