logo rilis

Tradisi Keprukan Grobogan Berawal dari Upaya Balitbangtan Kementan
Kontributor

20 April 2018, 16:25 WIB
Tradisi Keprukan Grobogan Berawal dari Upaya Balitbangtan Kementan
Tradisi lelang ternak atau keprukan di Grobogan, Jawa Tengah, sejak 2009 hingga kini bermula dari upaya Balitbangtan Kementan pada 1990. FOTO: Balitbangtan Kementan

RILIS.ID, Grobogan— Jual-beli ternak di Grobogan, Jawa Tengah, dilakukan dengan cara dilelang atau lazim disebut keprukan. Siapa sangka, tradisi ini ternyata bermula dari kebijakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Balitbangtan Kementan) melalui Sub Balai Penelitian Ternak (Balitnak).

Mulanya, Sub Balitnak mengenalkan sapi merah ke kelompok tani ternak (KTT) binaannya, KTT Martini Indah pada 1990. Lalu, diteruskan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Balitbangtan Jawa Tengah tahun 1998-1999.

Seiring proses pendampingan, keprukan melalui sistem arisan mulai dijalankan pada 2009. Budaya ini diadakan tiga kali pascapanen dengan iuran masing-masing Rp200 ribu dan diwujudkan dalam bentuk sapi.

Sapi hasil arisan kemudian dikembangbiakan anggota atau penggaduh untuk dijual melalui sistem lelang terbuka. Umumnya, sapi yang dilelang berjumlah 19 ekor. Enam pedet jantan dan 13 indukan. Nilainya sekitar Rp197 juta.

Jika ada sapi lelang yang sedang bunting, maka dipelihara pembeli sebelum melahirkan. Setelah melahirkan, sapi tersebut dijual ke pasar hewan Wirosari. Pembeli sapi di Grobokan umumnya pedagang setempat. 

Keuntungan dari hasil lelang, lalu dibagikan kepada anggota arisan. Sementara keuntungan untuk penggaduh, berupa pedet hasil pengembangbiakan.

Manfaat dari lelang sapi ini, anggota kelompok memiliki usaha pengembangbiakan ternak menguntungkan anggota arisan maupun penggaduh. Keprukan turut berpartisipasi dalam penyediaan sapi potong bagi masyarakat dan mendukung program swasembada daging nasional. 

Diharapkan, ke depannya sapi-sapi yang akan dilelang ditimbang terlebih dahulu, dan mengundang pedagang dari dalam maupun luar provinsi melalui kontak langsung ke pedagang sapi yang biasa mengambil di pasar-pasar Grobogan.

Sumber: Heru/Balitbangtan Kementan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)