Mohammad Nasih

Pengajar di Program Pascasarjana Ilmu Politik UI dan FISIP UMJ, Guru Utama di Rumah Perkaderan MONASH INSTITUTE

Toleransi

Rabu, 27/12/2017 | 11:47

SEMUA agama memiliki klaim kebenaran (truth claim) dan klaim keselamatan (salvation claim). Masing-masing agama mengklaim bahwa siapa pun yang tidak mengikutinya, maka tidak benar dan oleh karena itu tidak akan selamat. 

Sebagai konsekuensi, maka para penganut agama berusaha untuk mengajak orang lain agar mereka menganut dan berada dalam kebenaran yang sama agar mereka selamat, tidak celaka. Bahkan, beberapa agama menegaskan bahwa para penganutnya harus mengajak orang lain dengan berbagai cara. 

Islam misalnya, memiliki konsep dakwah dengan hikmah (logis) dan mau’idhah hasanah (pesan yang baik). Dakwah juga dianjurkan untuk dilakukan dengan perdebatan dengan cara yang lebih baik. (QS. al-Nahl: 125).

Namun, karena berbagai sebab, sebagian orang tidak bisa menerima kebenaran, walaupun sudah disampaikan secara logis dan jalan yang terbaik. Secara faktual, setidaknya ada tiga penyebab utama orang tidak bisa menerima kebenaran yang ditawarkan oleh orang lain. 

Pertama, memahami dengan baik bahwa yang ditawarkan itu bukanlah kebenaran, setidaknya terdapat unsur kebenaran dan kekeliruan yang bercampur baur.  

Kedua, ketidakmampuan dalam memahami kebenaran yang disampaikan, karena faktor kelemahan dalam memahami ajaran, sehingga tidak mampu membedakan antara yang benar dengan yang tidak benar.

Ketiga, memiliki pertimbangan-pertimbangan untung atau rugi secara materi, atau gengsi. Biasanya ini disebabkan oleh faktor kedudukan sosial dalam masyarakat yang potensial hilang apabila menerima kebenaran yang disampaikan. Faktor ini menyebabkan mereka tetap tidak bisa menerima kebenaran, walaupun melihatnya dengan sangat jelas.

Dengan jalan yang baik dan perdebatan rasional, maka proses penawaran kebenaran akan berjalan dengan damai. Namun, jika paksaan yang dilakukan, maka yang potensial besar terjadi adalah pertentangan dan/atau bahkan peperangan. Karena itu, tidak boleh ada paksaan dalam agama (QS. al-Baqarah: 256) Untuk mencegah pertumpahan darah, diperlukan sikap toleransi. Toleransi berasal dari kata tolerare, berarti membiarkan. 

Maksudnya adalah membiarkan orang lain yang diajak kepada kebenaran tetapi tidak bisa menerimanya untuk tetap menjalankan apa yang dipilihnya. Karena membiarkan, tentu saja tidak ada tindakan untuk terlibat dalam kepercayaan yang lain. 

Konsep membiarkan ini sesungguhnya bukan karena menghormati, melainkan karena tanggung jawab untuk mengajak sudah dilakukan, tetapi tidak diterima. Karena itu, tanggung jawab kepada Tuhan yang telah memerintahkan untuk mengajak orang lain sudah tidak ada lagi (QS. Al-Ra’d: 40). 

Dalam kerangka toleransi pula dilarang untuk mencela kepercayaan orang lain. Sebab, sikap itu akan menyebabkan sikap yang sama dari pihak yang kepercayaannya dicela, sehingga menimbulkan sikap saling cela yang tidak berkesudahan yang berpotensi besar menyebabkan pertentangan dan pertempuran. 

“Dan janganlah kalian mencaci maki sesembahan yang mereka sembah, karena mereka nanti akan mencaci maki Allah dengan melampaui batas tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik amal mereka. Kemudian kepada Tuhan mereka tempat kembali, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka tentang apa saja yang telah mereka kerjakan.” (QS. al-An’âm: 40). Walla a’lam bi al-shawab.