logo rilis
TNI Targetkan 4000 Personel Dikirim untuk Pasukan Perdamaian Dunia di 2019
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
26 Juni 2019, 13:37 WIB
TNI Targetkan 4000 Personel Dikirim untuk Pasukan Perdamaian Dunia di 2019
Kasum TNI Letjen TNI Joni Supriyanto. FOTO: RILIS.ID/Zulhamdi Yahmin

RILIS.ID, Jakarta— Markas Besar TNI menargetkan pengiriman jumlah tentara Pasukan Perdamaian Dunia sebanyak 4000 personel pada 2019 ini. Ribuan personel itu, menurut Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen TNI Joni Supriyanto, dikirim untuk delapan negara konflik akibat perang.

Joni menyampaikan hal itu di sela acara Konferensi Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (26/6/2019).

"Saat ini kita sudah kirim 2.850 personel. Kita akan menuju 4.000 personel dari Indonesia ke delapan negara pada tahun ini juga," katanya.

Mantan Panglima Kodam Jaya itu mengungkapkan, delapan negara yang akan dikirimkan personel tambahan itu yakni di dua kawasan di Kongo, Unisfa Abiye, Sudan Selatan, Minurso Sahara Barat, Lebanon dan Republik Afrika Tengah.

Dalam waktu dekat ini, lanjut dia, pasukan yang segera diberangkatkan berasal dari satuan 503 Kostrad yang ada di Jawa Timur dan 121 mainbody Medan.

Joni sendiri mengaku belum bisa memastikan waktu keberangkatan personel tambahan untuk Pasukan Perdamaian Dunia tersebut. Pasalnya, pihaknya juga masih menunggu pendanaan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Kita masih menunggu pendanaan dari PBB. Pasukan perdamaian ini uangnya dari PBB," ungkap dia.

Joni mengatakan, pihaknya juga akan menambah komposisi personel perempuan yang sebelumnya hanya 4 persen menjadi 7 persen.

"Personel perempuan ini diharapkan mendapatkan simpati masyarakat serta lebih mudah berinteraksi saat terjadi konflik," harapnya.

"Perempuan bisa masuk tentara itu pasti hebat karena standarnya sama. Tentara perempuan jumlahnya 7 persen, 93 persen (tentara laki-laki) lindungi yang perempuan," lanjut Joni.

Sementara itu, Kepala Delegasi Regional untuk Indonesia dan Timor Leste Komite Internasional Palang Merah (ICRC), Alexandre Faite, menjelaskan, kegiatan konferensi ini adalah bentuk kerja sama pihaknya dengan Indonesia dan PBB dalam upaya penanganan perlindungan terhadap sipil korban perang.

"Pasukan perdamaian selalu dibarengi ICRC, seperti di Afganistan dan Kongo. Kita bisa berhubungan di lapangan," jelasnya.

Selain interaksi di kawasan konflik, imbuh dia, ICRC juga rutin berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam upaya kemanusiaan.

"Kita juga aka memasukkan pengetahuan tentang kemanusiaan dalam kurikulum pasukan penjaga perdamaian," paparnya. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID