Home » Inspirasi » Riwayat

Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Pemberontak Sejati (2)

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Pada November 1913, Belanda memperingati 100 tahun kemerdekaannya dari Prancis. Peringatan tersebut dirayakan secara besar-besaran, juga di Hindia Belanda. Perayaan tersebut menurut Tjipto sebagai suatu penghinaan terhadap rakyat bumi putra yang sedang dijajah. Tjipto dan Suwardi Suryaningrat kemudian mendirikan suatu komite perayaan seratus tahun kemerdekaan Belanda dengan nama Komite Bumi Putra. Dalam komite tersebut, Tjipto dipercaya untuk menjadi ketuanya. Komite tersebut merencanakan akan mengumpulkan uang untuk mengirim telegram kepada Ratu Wilhelmina, yang isinya meminta agar pasal pembatasan kegiatan politik dan membentuk parlemen dicabut. Komite Bumi Putra juga membuat selebaran yang bertujuan menyadarkan rakyat bahwa upacara perayaan kemerdekaan Belanda dengan mengerahkan uang dan tenaga rakyat merupakan suatu penghinaan bagi bumi putra.

Aksi Komite Bumi Putra mencapai puncaknya pada 19 Juli 1913, ketika harian De Express menerbitkan suatu artikel Suwardi Suryaningrat yang berjudul “Als Ik Nederlands Was” (Andaikan Saya Seorang Belanda). Pada hari berikutnya, dalam harian De Express, Tjipto menulis artikel yang mendukung Suwardi untuk memboikot perayaan kemerdekaan Belanda. Tulisan Tjipto dan Suwardi sangat memukul Pemerintah Hindia Belanda. Pada 30 Juli 1913, Tjipto dan Suwardi dipenjarakan. Pada 18 Agustus 1913, keluar surat keputusan untuk membuang Tjipto bersama Suwardi Suryaningrat dan Douwes Dekker ke Belanda karena kegiatan propaganda anti-Belanda dalam Komite Bumi Putra. Selama masa pembuangan di Belanda, bersama Suwardi dan Douwes Dekker, Tjipto tetap melancarkan aksi politiknya dengan melakukan propaganda politik berdasarkan ideologi Indische Partij. Mereka menerbitkan majalah De Indier yang berupaya menyadarkan masyarakat Belanda dan Indonesia yang berada di Belanda akan situasi di tanah jajahan. Majalah De Indier menerbitkan artikel yang menyerang kebijaksanaan Pemerintah Hindia Belanda.

Kehadiran tiga pemimpin tersebut di Belanda ternyata telah membawa pengaruh yang cukup berarti terhadap organisasi mahasiswa Indonesia di Belanda. Indische Vereeniging, pada mulanya adalah perkumpulan sosial mahasiswa Indonesia, sebagai tempat saling memberi informasi tentang tanah airnya. Akan tetapi, kedatangan Tjipto, Suwardi dan Douwes Dekker berdampak pada konsep-konsep baru dalam gerakan organisasi ini. Konsep “Hindia bebas dari Belanda dan pembentukan sebuah negara Hindia yang diperintah rakyatnya sendiri mulai dicanangkan oleh Indische Vereeniging. Pengaruh mereka semakin terasa dengan diterbitkannya jurnal Indische Vereeniging, yaitu Hindia Poetra pada 1916.

Pada 1918, Pemerintah Hindia Belanda membentuk Volksraad (Dewan Rakyat). Pengangkatan anggota Volksraad dilakukan dengan dua cara. Pertama, calon-calon yang dipilih melalui dewan perwakilan kota, kabupaten, dan provinsi. Sedangkan cara yang kedua melalui pengangkatan yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda. Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum mengangkat beberapa tokoh radikal dengan maksud agar Volksraad dapat menampung berbagai aliran sehingga sifat demokratisnya dapat ditonjolkan. Salah seorang tokoh radikal yang diangkat oleh Limburg Stirum adalah Tjipto.

Bagi Tjipto, pembentukan Volksraad merupakan suatu kemajuan yang berarti. Tjipto memanfaatkan Volksraad sebagai tempat untuk menyatakan pemikiran dan kritik kepada pemerintah mengenai masalah sosial dan politik. Meskipun Volksraad dianggap Tjipto sebagai suatu kemajuan dalam sistem politik, namun Tjipto tetap menyatakan kritiknya terhadap Volksraad yang dianggapnya sebagai lembaga untuk mempertahankan kekuasaan penjajah dengan kedok demokrasi.

Pada 25 Nopember 1919, Tjipto berpidato di Volksraad, yang isinya mengemukakan persoalan tentang persekongkolan Sunan dan residen dalam menipu rakyat. Tjipto menyatakan bahwa pinjaman 12 gulden dari sunan ternyata harus dibayar rakyat dengan bekerja sedemikian lama di perkebunan yang apabila dikonversi dalam uang ternyata menjadi 28 gulden.

Melihat kenyataan itu, Pemerintah Hindia Belanda menganggap Tjipto sebagai orang yang sangat berbahaya, sehingga Dewan Hindia (Raad van Nederlandsch Indie) pada 15 Oktober 1920 memberi masukan kepada Gubernur Jenderal untuk mengusir Tjipto ke daerah yang tidak berbahasa Jawa. Akan tetapi, pada kenyataannya, pembuangan Tjipto ke daerah Jawa, Madura, Aceh, Palembang, Jambi, dan Kalimantan Timur masih tetap membahayakan pemerintah. Oleh sebab itu, Dewan Hindia berdasarkan surat kepada Gubernur Jenderal mengusulkan pengusiran Tjipto ke Kepulauan Timor. Pada tahun itu juga, Tjipto dibuang dari daerah yang berbahasa Jawa tetapi masih di Pulau Jawa, yaitu ke Bandung dan dilarang keluar kota Bandung. Selama tinggal di Bandung, Tjipto kembali membuka praktik dokter. Selama tiga tahun, ia mengabdikan ilmu kedokterannya di Bandung. Dengan sepedanya, ia masuk-keluar kampung untuk mengobati pasien.

Di Bandung, Tjipto dapat bertemu dengan kaum nasionalis yang lebih muda, seperti Soekarno yang pada 1923 membentuk Algemeene Studie Club. Pada 1927, Algemeene Studie Club diubah menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI). Meskipun Tjipto tidak menjadi anggota resmi dalam Algemeene Studie Club dan PNI, Tjipto tetap diakui sebagai penyumbang pemikiran bagi generasi muda. Misalnya Soekarno dalam suatu wawancara pers pada 1959, ketika ditanya siapa di antara tokoh-tokoh pemimpin Indonesia yang paling banyak memberikan pengaruh kepada pemikiran politiknya, tanpa ragu-ragu Soekarno menyebut Tjipto Mangoenkoesoemo.

Pada akhir 1926 dan 1927, di beberapa tempat di Indonesia, terjadi pemberontakan komunis. Pemberontakan itu menemui kegagalan dan ribuan orang ditangkap atau dibuang karena terlibat di dalamnya. Dalam hal ini, Tjipto juga ditangkap dan didakwa turut serta dalam perlawanan terhadap pemerintah. Hal itu disebabkan suatu peristiwa, ketika pada Juli 1927, Tjipto kedatangan tamu seorang militer pribumi yang berpangkat kopral dan seorang kawannya. Kepada Tjipto, tamu tersebut mengatakan rencananya untuk melakukan sabotase dengan meledakkan persediaan-persediaan mesiu, tetapi dia bermaksud mengunjungi keluarganya di Jatinegara, Jakarta, terlebih dahulu. Untuk itu, dia memerlukan uang untuk biaya perjalanan. Tjipto menasihatkan agar orang itu tidak melakukan tindakan sabotase. Dengan alasan kemanusiaan, Tjipto kemudian memberikan uangnya sebesar 10 gulden kepada tamunya.

Setelah pemberontakan komunis gagal dan dibongkarnya kasus peledakan gudang mesiu di Bandung, Tjipto dipanggil pemerintah untuk menghadap pengadilan karena dianggap telah memberikan andil dalam membantu anggota komunis dengan memberi uang 10 gulden dan diketemukannya nama-nama kepala pemberontakan dalam daftar tamu Tjipto. Sebagai hukumannya, Tjipto kemudian dibuang ke Banda pada 1928.

Dalam pembuangan, penyakit asmanya kambuh. Beberapa kawan Tjipto kemudian mengusulkan kepada pemerintah agar Tjipto dibebaskan. Ketika Tjipto diminta untuk menandatangani suatu perjanjian bahwa dia dapat pulang ke Jawa dengan melepaskan hak politiknya, Tjipto secara tegas mengatakan bahwa lebih baik mati di Banda daripada melepaskan hak politiknya. Tjipto kemudian dialihkan ke Makassar, dan pada 1940 Tjipto dipindahkan ke Sukabumi. Kekerasan hati Tjipto untuk berpolitik dibawa sampai meninggal pada 8 Maret 1943.

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Tjipto MangoenkoesoemoPahlawan Pergerakan NasionalKisah InspiratifRiwayat

loading...