Home » Inspirasi » Riwayat

Tjipto Mangoenkoesoemo, Sang Pemberontak Sejati (1)

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Ia salah satu tokoh dalam “tiga serangkai”, bersama Ernest Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Bersama dua rekannya itu, ia mendirikan Indische Partij, organisasi politik yang pertama kali mencetuskan ide pemerintahan sendiri di tangan penduduk setempat, bukan oleh Belanda.

Tjipto Mangoenkoesoemo, lahir di Ambarawa tahun 1886, adalah putra sulung dari keluarga Mangoenkoesoemo. Hidup dalam era Politik Etis membuatnya gerah. Baginya, Belanda menciptakan topeng baru "balas budi" untuk mencari tenaga kerja murah. Maka itu, ketimbang menjadi Pangreh Praja, Tjipto muda mendesak sang ayah untuk menyekolahkannya di STOVIA (School tot Opleiding van Indsiche Arsten/Sekolah Pendidikan Dokter Hindia).

Di Stovia inilah, Tjipto mulai memperlihatkan sikap yang berbeda dari teman-temannya. Teman-temannya suka pesta dan bermain bola sodok, Tjipto lebih suka menghadiri ceramah-ceramah, baca buku, dan bermain catur. Penampilannya pada acara khusus, tergolong eksentrik. Ia senantiasa memakai surjan dengan bahan lurik dan merokok kemenyan. Ketidakpuasan terhadap lingkungan sekelilingnya senantiasa menjadi topik pidatonya. Baginya, Stovia adalah tempat untuk menemukan dirinya, dalam hal kebebasan berpikir, lepas dari tradisi keluarga yang kuat, dan berkenalan dengan lingkungan baru yang diskriminatif.

Beberapa Peraturan di Stovia menimbulkan ketidakpuasan pada dirnya, salah satunya, semua mahasiswa Jawa dan Sumatera yang bukan Kristen diharuskan memakai pakaian tradisional bila sedang berada di sekolah. Bagi Tjipto, peraturan berpakaian di Stovia merupakan perwujudan politik kolonial yang arogan dan melestarikan feodalisme. Pakaian Barat hanya boleh dipakai dalam hierarki administrasi kolonial, yaitu oleh pribumi yang berpangkat bupati. Masyarakat pribumi dari wedana ke bawah dan yang tidak bekerja pada pemerintahan dilarang memakai pakaian Barat. Implikasi dari kebiasaan ini, rakyat cenderung untuk tidak menghargai dan menghormati masyarakat pribumi yang memakai pakaian tradisional.

Keadaan ini senantiasa digambarkannya melalui De Locomotief, pers kolonial yang sangat progresif pada waktu itu, di samping Bataviaasch Nieuwsblad. Sejak tahun 1907, Tjipto sudah menulis di harian De Locomotief. Tulisannya berisi kritikan, dan menentang kondisi keadaan masyarakat yang dianggapnya tidak sehat. Tjipto sering mengkritik hubungan feodal maupun kolonial yang dianggapnya sebagai sumber penderitaan rakyat. Dalam sistem feodal, terjadi kepincangan-kepincangan dalam masyarakat. Rakyat umumnya terbatas ruang gerak dan aktivitasnya, sebab banyak kesempatan yang tertutup bagi mereka. Keturunanlah yang menentukan nasib seseorang, bukan keahlian atau kesanggupan. Seorang anak “biasa” akan tetap tinggal terbelakang dari anak bupati atau kaum ningrat lainnya.

Kondisi kolonial lainnya yang ditentang oleh Tjipto adalah diskriminasi ras. Orang Eropa menerima gaji lebih tinggi dari orang pribumi untuk suatu pekerjaan yang sama. Diskriminasi membawa perbedaan dalam berbagai bidang, misalnya peradilan, perbedaan pajak, kewajiban kerja rodi, dan kerja desa. Dalam bidang pemerintahan, politik, ekonomi dan sosial, bangsa Indonesia menghadapi garis batas warna. Tidak semua jabatan negeri terbuka bagi bangsa Indonesia. Begi pula dalam perdagangan, bangsa Indonesia tidak mendapat kesempatan berdagang secara besar-besaran, tidak sembarang anak Indonesia dapat bersekolah di sekolah Eropa, tidak ada orang Indonesia yang berani masuk kamar bola dan sociteit. Semua diukur berdasarkan warna kulit.

Tulisan-tulisannya di harian De Locomotief mengakibatkan Tjipto kerap mendapat teguran dan peringatan dari pemerintah. Untuk mempertahankan kebebasan dalam berpendapat, Tjipto kemudian keluar dari dinas pemerintah dengan konsekuensi mengembalikan sejumlah uang ikatan dinasnya yang tidak sedikit.

Selain dalam bentuk tulisan, Tjipto juga sering melancarkan protes dengan bertingkah melawan arus. Misalnya larangan memasuki sociteit bagi bangsa Indonesia tak diindahkannya. Dengan pakaian khas yakni kain batik dan jas lurik, ia masuk ke sebuah sociteit yang penuh dengan orang-orang Eropa. Tjipto kemudian duduk dengan kaki dijulurkan. Hal itu mengundang kegaduhan di sociteit. Ketika seorang opas (penjaga) mencoba mengusir Tjipto untuk keluar dari gedung, dengan lantangnya Tjipto memaki-maki sang opas serta orang-orang yang berada di dekatnya dengan menggunakan bahasa Belanda. Kewibawaan Tjipto dan penggunaan bahasa Belandanya yang fasih membuat orang-orang Eropa terperangah.

Berdirinya Budi Utomo, pada 20 Mei 1908, disambut baik Tjipto sebagai bentuk kesadaran pribumi akan dirinya. Pada kongres pertama Budi Utomo di Yogyakarta, jati diri politik Tjipto kian tampak. Meski kongres diadakan untuk memajukan perkembangan yang serasi bagi orang Jawa, namun pada kenyataannya terjadi keretakan antara kaum konservatif dan kaum progesif yang diwakili oleh golongan muda. Keretakan ini sangat ironis mengawali suatu perpecahan ideologi yang terbuka bagi orang Jawa.

Dalam kongres pertama, terjadi perpecahan antara Tjipto dan Radjiman. Tjipto menginginkan Budi Utomo sebagai organisasi politik yang harus bergerak secara demokratis dan terbuka bagi semua rakyat Indonesia. Organisasi ini harus menjadi pimpinan bagi rakyat dan jangan mencari hubungan dengan atasan, bupati, dan pegawai tinggi lainnya. Sedangkan Radjiman ingin menjadikan Budi Utomo sebagai suatu gerakan kebudayaan yang bersifat Jawa.

Tjipto tidak menolak kebudayaan Jawa, tetapi yang ia tolak adalah kebudayaan keraton yang feodalis. Tjipto mengemukakan bahwa sebelum persoalan kebudayaan dapat dipecahkan, terlebih dahulu diselesaikan masalah politik. Pernyataan-pernyataan Tjipto bagi jzmannya dianggap radikal. Gagasan-gagasan Tjipto menunjukkan rasionalitasnya yang tinggi, serta analisis yang tajam dengan jangkauan masa depan, belum mendapat tanggapan luas. Untuk membuka jalan bagi timbulnya persatuan di antara seluruh rakyat di Hindia Belanda yang mempunyai nasib sama di bawah kekuasaan asing, ia tidak dapat dicapai dengan menganjurkan kebangkitan kehidupan Jawa. Sumber keterbelakangan rakyat adalah penjajahan dan feodalisme.

Kendati diangkat sebagai pengurus Budi Utomo, Tjipto akhirnya mengundurkan diri dari Budi Utomo yang dianggap tidak mewakili aspirasinya. Sepeninggal Tjipto, tidak ada lagi perdebatan dalam Budi Utomo. Akan tetapi, Budi Utomo kehilangan kekuatan progesifnya.

Setelah mengundurkan diri dari Budi Utomo, Tjipto membuka praktik dokter di Solo. Meski demikian, Tjipto tidak meninggalkan dunia politik sama sekali. Di sela-sela kesibukkannya melayani pasiennya, Tjipto mendirikan Raden Ajeng Kartini Klub yang bertujuan memperbaiki nasib rakyat. Perhatiannya pada politik semakin menjadi-jadi setelah dia bertemu dengan Douwes Dekker yang tengah berpropaganda untuk mendirikan Indische Partij. Tjipto melihat Douwes Dekker sebagai kawan seperjuangan. Kerja sama dengan Douwes Dekker telah memberinya kesempatan untuk melaksanakan cita-citanya, yakni gerakan politik bagi seluruh rakyat Hindia Belanda. Bagi Tjipto, Indische Partij merupakan upaya mulia mewakili kepentingan-kepentingan semua penduduk Hindia Belanda, tidak memandang suku, golongan, dan agama.

Pada 1912, Tjipto pindah dari Solo ke Bandung, dengan dalih agar dekat dengan Douwes Dekker. Ia kemudian menjadi anggota redaksi penerbitan harian de Expres dan majalah het Tijdschrijft. Perkenalan antara Tjipto dan Douwes Dekker yang sehaluan itu sebenarnya telah dijalin ketika Douwes Dekker bekerja pada Bataviaasch Nieuwsblad. Douwes Dekker sering berhubungan dengan murid-murid Stovia. (Bersambung)

Editor Ahmad Fathoni
Sumber Dari berbagai sumber

Tags:

Tjipto MangoenkoesoemoPahlawan Pergerakan NasionalKisah InspiratifRiwayat

loading...