Home » Inspirasi » Sosok

Titi Anggraini, Perempuan Penggerak Moral Politik

print this page Selasa, 17/10/2017 | 18:06

Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggaraini. ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

KATANYA, politik selalu identik dengan hal maskulin. Itu tidaklah benar. Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggaraini, bisa buktikan itu. Sedari kuliah, ia sudah karib dengan aktivitas politik. Politik, baginya, bukan sesuatu yang tabu. Dan pilihannya tak main-main: politik moral, sebagai lahan perjuangan.

Raut optimisme selalu terpancar dari wajahnya. Lontaran kata-katanya kritis lagi bernas. Meski hari-harinya dikelilingi kaum maskulin, Titi tak berkecil hati. Kendati terkadang rasa minder tak serta-merta bisa ia sirnakan. Bersabar adalah kuncinya. Itu yang ia yakini sebagai senjata mencapai tujuan.

Tak jarang, ikhtiarnya mengampanyekan prinsip-prinsip demokrasi yang ia pahami menuai cibiran. Tak sedikit politisi alergi kepadanya. Titi tak bergeming tapi tak juga frontal menanggapi. Ia menepis anggapan orang kebanyakan bahwa dalam memperoleh sesuatu tidak bisa berbeda kutub dengan kelompok politik tertentu. Tidak begitu baginya. Di situlah komitmen dan konsistensi diuji.

Pendapat tak mesti selalu benar, Titi juga benarkan itu. Namun, baginya, moralitas politik akan selalu membuat kita mampu membedakan antara mereka yang oportunis dan dinamis dalam menghadapi realitas empirik yang terjadi di masyarakat. “Saya bukan berkecil hati, kadang memang perbedaan pendapat diikuti oleh ketidaksukaan personal karena perbedaan gagasan. Tapi ini kan hanya soal bagaimana kita mencapai tujuan yang sama melalui jalan yang berbeda,” ujar Titi kepada rilis.id beberapa waktu lampau.

Titi sama sekali tak ingin menaruh rasa pesimisme pada politisi. Ibarat sebuah tujuan, sudah lazim kendaraan yang digunakan berbeda-beda. Berbagi tugas dan peran harus dilakukan dalam menumbuhkan demokrasi. Titi memilih ruang di luar partai politik, sementara yang lain memang harus ada di jalur partai.

Baginya, orang baik harus berpolitik, meski tak harus berada dalam kekuasaan. Titi ingin menjamin itu. Anak bangsa yang baik harus pula difasilitasi oleh iklim dan lingkungan politik yang baik. Untuk melakukan itu, putra-putri terbaik negeri ini harus terlibat. Ibarat bola salju, semakin melaju semakin besar pula gerakannya.

“Termasuk gerakan non-partisan. Kita terlibat memastikan penyelenggara pemilu bisa netral dan mandiri. Ada ruang-ruang yang memang harus diisi oleh orang-orang yang memang terbebas dari kepentingan partisan untuk memastikan orang-orang baik di lembaga parpol bisa berkompetisi secara jujur, adil, dan demokratis,” ujar Titi.

Perempuan penggemar traveling ini berpandangan, orang-orang baik sepatutnya harus menyebar. Bahkan jumlahnya harus dominan di dalam partai politik. Sebab, dibutuhkan orang baik pula untuk mengontrol penyelenggara pemilu dan demokrasi.

Dianggap sebelah mata, kesan itu sering kali mengitari langkahnya. Namun, bukankah moral force sering kali demikian. Kadang-kadang aktivitas politik Titi dainggap membuat gaduh. Ia dianggap tak mewakili siapa-siapa, sebab dirinya bukan aktivis politik yang memang punya konstituen. “Jadi sering kali suara-suara kita itu selalu diadu dengan sejauh mana kita mampu mengumpulkan massa. Padahal kan tidak begitu. Kita ini kan gerakan moral, kekuatan pemikiran,” Titi menampik.  

Hal itu lumrah saja. Titi memang selalu berhadapan dengan kekuatan politik riil, baik secara struktur maupun massa. Tak ada gentar baginya, corong menyuarakan moral politik selalu ada. Media massa dan masyarakat adalah kawannya. Tanpa itu, Titi mengaku tidak punya kekuatan. Kekuatan moral baginya adalah kolaborasi, di mana media massa menjadi perantara untuk menyampaikan pikiran-pikiran kepada publik.

Bergandengan tangan dengan politisi tak pernah digelengkannya. Hanya saja, sering kali dirinya berada di posisi serbasalah. Kerap uluran tangan dimaknai sebagai sebuah kontrak untuk bekerja bagi kepentingan rezim ataupun kepentingan oposisi. Sementara posisi moral politik harus selalu utuh pada nilai-nilai demokrasi. Cara penyikapannya pun kasuistis, untuk beberapa isu, bisa saja punya kesamaan dengan penguasa, dan beberapa isu lainnya berpunggungan.

Sosok yang mengaku tertarik dengan isu kepemiluan dan demokrasi sejak SMA ini lalu menekankan, pada titik inilah moral politik harus ada dalam pola relasi negara dan masyarakat. Masyarakat sebagai pemilik kedaulatan telah menyerahkan amanah kepada negara untuk mengatur segala sesuatunya. Sudah sepatutnyalah ada elemen masyarakat yang mengontrol laju kekuasaan. 

“Moral politik itu memang selalu mengaitkan hubungan negara dan masyarakat. Sebab, di situ ada aktor partai politik, ada peserta pemilu dan pemilih,” tutur Titi mempertegas keyakinan politiknya.

Titi lalu merujuk Mohammad Natsir dan Buya Hamka. Moral dan etika politik merekalah yang setidaknya membuat kita bangga hingga hari ini. Keteladanan itu pulalah yang membuatnya konsisten dan bersabar di jalurnya sekarang. Ia tunjukkan itu saat mengadvokasi dan mendukung Pilkada Langsung di tahun 2014 lalu. Saat itu, DPR mengesahkan UU Pilkada yang mengharuskan pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD.

“Tapi karena ada gerakan yang sangat besar untuk menuntut hak rakyat memilih secara langsung, akhirnya Presiden SBY mengeluarkan Perppu. Itu menurut saya perjalanan demokratisasi bangsa yang sangat luar biasa. Bagaimana kita bisa mengubah sebuah kebijakan yang sudah disahkan,” ungkap Titi bangga.

Dalam usahanya menegakkan moral politik, Titi tak bisa menghindar sama sekali dari intrik, tak lebih karena dirinya perempuan. Terkadang, saat bertandang ke DPR RI, dirinya disangka hendak magang. Apabila berkunjung ke luar daerah untuk sebuah seminar, banyak elite politik daerah tak yakin bahwa dirinya pembicara. “Tantangan terbesar itu karena saya perempuan untuk meyakinkan para mitra elite yang kebanyakan laki-laki bahwa saya ini layak diperhitungkan,” ucap Titi menegarkan diri.

Titi seolah ingin mengatakan, tak sedikit keringat yang mesti diperas kaum Hawa untuk berpartisipasi di dunia yang masih terlalu dianggap miliknya kaum Adam ini. Titi menandaskan, perempuan yang terjun di dunia politik dan pemilu perlu waktu lebih untuk meyakinkan pihak lain tentang gagasan dan pemikirannya. 

Penulis Taufiq Saifuddin
Editor Ahmad Fathoni

Tags:

Titi AnggarainiPerludemSosok

loading...