logo rilis
Tingkatkan Produksi Garam, Petani Probolinggo Gunakan Geoisolator
Kontributor

20 Maret 2018, 11:28 WIB
Tingkatkan Produksi Garam, Petani Probolinggo Gunakan Geoisolator
Ilustrasi panen garam dengan media geoisolator. FOTO: Twitter/@MohamedSyukroN

RILIS.ID, Probolinggo— Petani di Kabupaten Probolinggo, menggunakan geoisolator untuk meningkatkan produksi dan kualitas garam, sesuai imbauan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur.

Ketua Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Kabupaten Probolinggo Buhar, mengatakan petani siap dengan peningkatan kualitas produksi garam krosok dari kualitas produksi 2 menjadi kualitas 1, karena kualitas garam bisa meningkat dengan budi daya dari tanah ke media geoisolator.

"Ada tiga kategori kualitas produksi garam dan kategori itu disesuaikan dengan tingkatan kadar natrium klorida (NaCl) nya," katanya di Probolinggo, Selasa (20/3/2018).

Buhar menjelaskan, garam kualitas produksi 1 memiliki kandungan NaCl di atas 97 persen dan kualitas itu yang tertinggi, sehingga bisa digunakan sebagai kebutuhan industri. 

Sedangkan garam kualitas produksi 2 memiliki kandungan NaCl berkisar 94,7 persen sampai 97 persen.

"Kualitas produksi 2 paling banyak diproduksi oleh petani garam di Kabupaten Probolinggo, sedangkan kualitas produksi 3 yakni garam yang kandungan NaCl nya dibawah 94,7 persen," jelas Buhar.

Menurutnya, geoisolator tidak hanya harus mengandalkan bantuan dari pemerintah karena manfaatnya sangat besar untuk meningkatkan produksi dan kualitas produksi garam, sehingga seharusnya petani beralih ke media geoisolator dengan cara swadaya.

"Garam kualitas produksi 1 memiliki harga yang tertinggi yakni kisaran Rp2.500 hingga Rp3.000 per kilogram, kemudian kategori 2 sekitar Rp2.000 hingga Rp2.200 per kilogram dan garam kualitas produksi 3, harganya di bawah Rp1.500 per kilogram yang biasanya jenis garam kategori 3 untuk pengasinan ikan, bukan untuk dikonsumsi," kata Buhar.

Kabid Perikanan Tangkap, Dinas Perikanan Kabupaten Probolinggo, Wahid Noor Aziz mengatakan kualitas produksi garam bisa ditingkatkan dengan penggunaan teknologi geomembran.

"Sejauh ini tidak semua petani garam di Probolinggo mengkristalisasi garam dengan media geomembran karena ada beberapa yang masih konvensional dengan meja garam dari media tanah," ujarnya.

Berdasar data DKP Provinsi Jawa Timur, produksi garam di Jawa Timur tahun 2017 sebanyak 436.929 ton dan jumlah itu didapat dari 12 daerah penghasil garam dengan produksi terbesar yakni dari Kabupaten Sumenep, Madura dengan 232.292 ton.
 

Sumber: ANTARA




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID