logo rilis

Tiga Bersaudara Dibuat Duduk di Kursi Roda oleh Zionis
Kontributor
Syahrain F.
31 Mei 2018, 17:01 WIB
Tiga Bersaudara Dibuat Duduk di Kursi Roda oleh Zionis
Tiga bersaudara asal Palestina Muhammad (tengah), Attalah (kanan) dan Wagdi (kiri) terlihat dengan kruk dan kursi roda setelah pasukan Israel menembaki mereka dan demonstran lainnya saat demonstrasi "Great March of Return", di Rafah, Gaza pada 24 Mei, 2018. Credit: Anadolu Agency/Ali Jadallah

RILIS.ID, Gaza— Tiga bersaudara asal Palestina kini harus duduk di kursi roda setelah ketiganya ditembak pasukan Israel saat melakukan demonstrasi di Jalur Gaza.

Mohamed al-Homs, 27 tahun, saat itu tengah melakukan aksi protes di dekat pagar perbatasan sebelah timur Jalur Gaza pada 30 Maret. Di saat itu pula dia menyaksikan adiknya Attalah, 20 tahun, menjadi korban kebrutalan pasukan Zionis yang menembak saudaranya itu.

Dengan tergopoh-gopoh, dia menghampiri adiknya dan menggendongnya ke rumah sakit terdekat untuk mencari bantuan kesehatan. Tak lama kemudian, dia kembali ke area demonstrasi. Namum nahas, timah panas yang ditembakkan tentara Israel menembus kakinya.

Mendengar kedua adiknya menjadi korban tembakan, Wagdi meninggalkan kedainya dan segera menuju pagar perbatasan untuk mencari mereka. Lengkap sudah... dia pun tak luput dari sasaran tembak Israel.

"Saya ditembak dengan peluru ledak. sekarang saya harus memakai kursi roda," kata Mohamed, yang lulusan dari sekolah olah raga pada 2014 lalu, kepada Anadolu Agency.

"Saya tak tahu mengapa mereka [tentara Israel] menembak kami bertiga. Demonstrasi damai kami tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan tentara pendudukan, lalu mengapa kami ditargetkan?" ujarnya.

Tak Menyesal
Menurut Wagdi, pasukan tentara Israel sengaja memakai peluru ledak untuk menembaki warga Palestina dengan tujuan mengacaukan aksi demonstrasi.

"Ratusan orang yang terluka sekarang menderita cedera yang parah," tutur dia.

Meskipun kini menjadi difabel, ketiga bersaudara ini tak menyesal pernah ikut terlibat dalam demo yang menentang pendudukan Zionis.

"Tanah ini milik kami. Kami berkomitmen tidak melakukan tindakan kriminal saat diterjang peluru Israel. Walaupun kami semua ditembak, kami tidak menyesali turut berdemo," ucap Wagdi.

Sejak 30 Maret, lebih dari 115 demonstran Palestina di sebelah timur Jalur Gaza telah menjadi martir  dan ribuan lainnya terluka akibat tindakan brutal pasukan Israel.

Para pendemo meminta dikembalikannya "hak untuk pulang" ke rumah mereka di Palestina, di mana mereka diusir paksa pada 1948 untuk memberikan jalan bagi diresmikannya penjajahan Zionis di tanah Palestina.


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)