logo rilis
Tidak Benar Cina Lakukan Pelanggaran HAM di Xinjiang Terhadap Etnis Uighur
Kontributor
Nailin In Saroh
21 Januari 2020, 22:00 WIB
Tidak Benar Cina Lakukan Pelanggaran HAM di Xinjiang Terhadap Etnis Uighur
Ilustrasi Pelanggaran HAM Etnis Uighur.

Belakangan isu Xinjiang kembali memuncak ke permukaan dengan membawa HAM terhadap etnis Uighur banyak media massa serta portal-portal berita online menyalahkan dan menuduh pemerintah Tiongkok melakukan pelanggaran HAM seperti yang sudah dilaporkan oleh Amnesty International. 

Padahal jika melihat lebih jauh terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok dan yang terjadi di Xinjiang, menurut saya kita memerlukan banyak informasi bacaan yang membuka analogi serta kritikal kita dalam berpikir, bagaimana pelanggaran HAM itu apakah benar adanya atau hanya isu yang sengaja dibangun dari lawan Tiongkok untuk memecah konsentrasi Tiongkok yang terus tumbuh ke arah yang lebih positif dalam bidang ekonomi khususnya.

Sebagai seorang mahasiswa Hubungan Internasional (HI),pemikiran kritis adalah suatu yang wajib serta bagaimana menggunakan pemikiran kritis tersebut digabungkan dengan analytical Thinking. Kasus yang terjadi di Xinjiang cukup menarik untuk ditelusuri dan dipahami dengan baik oleh orang-orang Indonesia yang mungkin hanya melihat dari satu sisi saja yaitu sisi agama. 

Apakah kita tahu bagaimana isu itu berkembang menjadi isu agama? hal ini tentu kita harus telusuri kembali. Bagaimana mana menggambarkan apakah benar apa yang dilakukan oleh Tiongkok benar pelanggaran HAM? saya rasa tidak, karena jika kita berbicara mengenai HAM mana yang harus didahulukan ketika terjadi ancaman domestik di negara kita apakah HAM lebih penting dibandingkan kedaulatan suatu negara?. 

Sebagai contoh kasus terorisme Densus 88 sering sekali dikatakan melanggar HAM ketika menindak orang-orang yang terindikasi radikal maupun teroris, Aksi yang dilakukan Densus 88 tentunya adalah demi menjaga ancaman yang lebih besar yang akan ditimbulkan jika mereka tidak ditindak segera. 

Menurut saya Tiongkok memandang hal yang sama terhadap apa yang dilakukannya di Xinjiang sehingga atas dasar ini Tiongkok menolak setiap tuduhan yang ditujukan kepada mereka terkait pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur. Karena mereka melihat potensi ancaman yang akan terjadi jika mereka tidak ditindak akan dapat membahayakan stabilitas dan ancaman terhadap negara. Jadi apa yang dilakukan Tiongkok adalah salah satu bentuk tindakan defensif untuk menjaga stabilitas keamanan negara yang datangnya dari lingkungan domestiknya. 

Kita harus melihat, konflik ini sudah terjadi cukup lama etnis Uighur dengan membentuk gerakan separatis dengan nama gerakan kemerdekaan Turkestan Timur yang artinya etnis ini ingin merdeka dari pemerintahan Beijing. Menurut saya kita harus membaca sejarah panjang perang yang terjadi antara pemerintah Tiongkok dan Etnis Uighur, dari sini kita akan menemukan bahwa konflik awal yang terjadi bukan lah konflik agama akan tetapi gerakan yang ingin memerdekakan diri yang dilakukan oleh etnis ini dari adanya kesenjangan ekonomi yang dirasakan. 

Lalu bagaimana isu ini menjadi isu agama? dan bahkan di Indonesia sendiri oknum-oknum tertentu sampai melakukan demonstrasi di kedutaan besar Tiongkok. Isu SARA yang salah satunya adalah Agama adalah isu yang sangat menarik untuk dijadikan salah satu isu untuk mencari perhatian dunia internasional, dan fokus dunia internasional akan terus mengintervensi negara tersebut dengan alasan HAM. Tapi kita harus melihat ini secara seimbang pula siapa yang berkepentingan dalam kasus HAM yang ada di Uighur? dan apa tujuannya? kalau menurut saya siapapun yang ada di belakang kasus Uighur tujuannya adalah untuk menjegal kebangkitan Tiongkok di masa sekarang dan di masa yang akan datang agar fokus mereka terpecah, sehingga isu ini seperti sengaja dibuat dengan kata lain lawan Tiongkok membuat proxy war melalui isu HAM di Xinjiang. 

Menurut saya Logikanya seperti ini, apakah pemerintah Indonesia dapat dikatakan melakukan pelanggaran HAM di Papua? dan apakah pemerintah mengakui adanya pelanggaran HAM disana?. Tentu tidak, karena berbicara mengenai kedaulatan negara tidak ada campur tangan asing dalam hal ini, negara memiliki legitimasinya untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas negara dan negara lain tidak boleh ikut campur terhadap politik domestik suatu negara. Apapun alasannya negara lain harus menghormati langkah-langkah yang diambil oleh negara tersebut khususnya ketika itu berkaitan dengan ancaman negara.

Dan apakah wilayah penduduk muslim di Tiongkok hanya berada di Xinjiang? jawabannya tentu tidak ada beberapa wilayah yang ditempati oleh umat Islam seperti Wilayah Gansu dan Ningxia, apakah di wilayah ini terjadi pergolakan militer atau isu HAM?. Jadi menurut saya kita tidak dapat menyimpulkan adanya pelanggaran HAM hanya dari satu sisi sudut pandang dan yang perlu kita pahami pula Tiongkok dengan ideologi komunisnya memang tidak mendukung kegiatan agama apapun tak terkecuali kristen dan salah satunya kasus Tibet yang penduduknya bukan terdiri dari agama Islam. Karena bagi pemerintah Tiongkok antara sistem pemerintahan dan agama tidak dapat sejalan dan akan menghambat berkembangnya pembangunan negara tersebut, sehingga setiap aktivitas keagamaan di sana akan diawasi dengan ketat oleh pemerintah. Bahkan tidak sungkan untuk mengeluarkan kebijakan publik terkait ritual keagamaan dan aktivitas keagamaan dan ini tidak hanya berlaku pada satu agama saja.

Jadi menurut saya masyarakat sipil etnis Uighur  yang tidak tahu menahu dalam hal  ini bukan dilanggar HAM nya tapi, mereka dapat dikatakan sebagai korban dari kepentingan oknum-oknum tertentu yang ingin memiliki dan tujuan politik baik itu kelompok maupun individu. Sebagai gambaran saja jika Xinjiang berhasil memerdekakan diri apakah sudah pasti masyarakatnya sejahtera?, siapa yang akan diuntungkan? sudah pasti orang yang memiliki tujuan-tujuan politik di sana. 

Jadi saran saya kita boleh memberikan kritikan kita terhadap isu HAM ini, tapi harus melihat dari sudut pandang yang menyeluruh jangan hanya dari satu sisi kesamaan nilai ajaran Islam saja tapi penting melihat dari unsur-unsur lain. Dan sangat tidak adil jika kita memberikan penghakiman yang justru mengarahkan kepada hal-hal yang sifatnya provokasi negatif, yang membuat kita jadi anti terhadap Tiongkok. Tanpa ada alasan yang jelas, karena itu akan sangat tidak adil ketika kita menghakimi tanpa memiliki dasar dan bukti yang jelas, makanya dibutuhkan analisa yang lebih jauh dan jangan sampai kita negara yang selalu dicap sebagai negara yang ikut-ikutan trend global tanpa tau duduk permasalahan yang sebenarnya yang justru memberikan pandangan negatif kepada negara kita. 

Coba kita lihat berapa banyak negara-negara ASEAN yang bereaksi terhadap kasus HAM Tiongkok, nyaris tidak pernah kita dengar. 

Jadi menurut saya tidak ada pelanggaran HAM yang benar-benar dapat dibuktikan sehingga Tiongkok berhak menyangkal apapun yang ditujukan kepadanya.Yang dilakukan oleh Tiongkok memiliki dasar yang kuat yaitu terkait keamanan dan stabilitas negara, dan isu Uighur yang hilang timbul begitu saja dapat dikatakan seperti sengaja diciptakan untuk menyerang Tiongkok dari dalam. 

 

Rayandi Butar-Butar, Mahasiswa Hubungan Internasional - Universitas Satya Negara Indonesia




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID