Dadang Rhs

Dewan Guru Institut Publik Inisiatif, Redaktur Senior RILIS.ID.

Tiang Listrik, Keadilan Bukan Barang Rongsok

Minggu, 19/11/2017 | 11:58

PERTENGAHAN November 2017. Tiang listrik, mobil mewah penyok, Pewarta yang mengemudi, dan Ketua DPR yang dicari, adalah potongan peristiwa yang menyeruak dalam percakapan warga, juga mengisi laman berita kejar tayang terkait penetapan kembali Setya Novanto sebagai tersangka korupsi e-KTP. 

Kecelakaan yang menimpa seorang pewarta dan pimpinan lembaga tinggi negara ini seniscayanya adalah berita duka. Muskil dan jahil jika ada yang melihat sebagai kabar gembira. Apalagi, Ketua DPR, Setya Novanto dalam beberapa bulan belakangan sempat masuk rumah sakit, karena terganggu kesehatannya.

Jika benar, apa yang dikutip media, setidaknya ada dua keterangan terkait malam nahas itu. Pertama, pernyataan yang menyebutkan kepergian Novanto malam itu untuk menjalankan tugas negara. Dan, keterangan lain menyebutkan bahwa Ketua DPR ini  bergegas memenuhi undangan sebuah stasiun televisi. Kedua informasi ini jelas menunjukkan bahwa tak secuilpun niat untuk menghindari tim KPK yang hendak menjemputnya. Hanya, waktu yang kurang pas saja. 

Keterangan ini jelas mematahkan desas-desus yang beredar, bahwa ketua DPR ini hendak melarikan diri dari kejaran KPK.

Informasi ini bisa jadi tak memuaskan rasa ingin tahu sebagian orang. Tapi, kecelakaan ini, setidaknya telah menjawab di mana keberadaan Setya Novanto sekarang ini. Ia terbaring di rumah sakit, dengan perban di kepala. Seperti saat ia sakit sebelumnya, di era sosmed ini, foto ketua DPR tergeletak dengan piyama biru dan selang infus dengan mudah dapat diakses publik. 

Orang yang tak setuju tentu akan menuding, bahwa kecelakaan ini adalah rekayasa. Mengangagap ini sebagai taktik mengulur waktu, agar dapat melakukan perlawanan hukum via praperadilan. Dugaan ini tentu bukan tanpa alasan, jika berkaca dari langkah praperadilan yang dilakukan sebelumnya.

Namun, apapun yang mendasarinya, langkah yang dilakukan Setya Novanto diperbolehkan dalam sistem hukum yang ada. Dan, sebagaimana warga negara yang lain, ia memiliki hak yang sama untuk membela diri.

Di sisi inilah hukum seharusnya bekerja. Menjadi pengadil. Mendudukan soal. Menempatkan sesuatu pada tempatnya. Bukan membalik soal, lalu mengingkari kebenaran. Dewi keadilan tak boleh berat sebelah. Timbangan keadilan tak boleh ditumpangi sesuatu di luar keadilan itu sendiri: "Keadilan mesti tegak, meski karenanya langit akan runtuh."

Bahwa, di depan dewi keadilan, sangkaan terhadap Novanto harus dibuktikan. KPK harus membuktikan bahwa tak ada hal lain, yang mendasari perburuan ini, kecuali misi suci pemberantasan korupsi. Dan, Setya Novanto juga harus menjawab dengan bukti, bahwa ia bersih. Bahwa, ia tak hendak lari lalu sembunyi.

Jika kasus Novanto versus KPK ini terus berputar tanpa ujung, hal  ini akan membuat publik seolah sedang menyaksikan sinetron kejar tayang. Drama penuh sensasi yang tak tahu cara berhenti. Sebuah komedi juga tragedi. Di titik ini, keadilan hanya jadi kisah mobil penyok. Atau, kokohnya sebuah tiang listrik. Bukan lagi sebagai ikhtiar tanpa henti untuk memastikan kebenaran: menyatakan yang hak adalah hak, dan yang batil adalah batil. 

Keadilan memang memerlukan akal sehat. Ia mensyaratkan bukti, bukan opini yang banal. Bukan dijadikan akal-akalan dan menang-menangan. Apalagi mentang-mentang.

Bukan mustahil, peristiwa tiang listrik yang membuat mobil penyok ini  akan membuat keadilan mati rasa. Lantas akan membuat fungsi saraf keadilan mengalami gangguan. 

Alhasil, mobil penyok bisa diketok. Tapi, keadilan bukan barang rongsok. Publik tentu berharap keadilan bukan isapan jempol. Bukan sekedar komedi atau tragedi. Atau, jangan-jangan, sekarang keadilan memang sedang keok? Wallahualam.