logo rilis
Thanos, Churchill dan Paradoks Moralitas
kontributor kontributor
Arif Budiman
04 Mei 2018, 17:55 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Thanos, Churchill dan Paradoks Moralitas
ILUSTRASI: Hafiz

THANOS dalam Avengers Infinity War adalah sebuah paradoks. Sosok monster yang terobsesi oleh kekuatan abadi yang tak tertandingi. Rela membunuh perasaannya untuk berkuasa. Menukar nyawa puteri yang disayangi dengan kesaktian mandraguna Batu Jiwa. Semata untuk melempangkan jalan mewujudkan cita-cita yang diyakininya. Menata semesta sesuai idealitas yang ada di kepalanya. Mewujudkan keseimbangan dalam kesatuan tatanan.

Keseimbangan kosmik adalah tujuan dari segala yang dilakukan. Pembantaian, perusakan, pemusnahan, dan berbagai kekacauan lain yang ditimbulkan tak lebih dari sekadar konsekuensi dalam perjuangan ‘ideologi’. Pembantaian penduduk sebuah kota bagi Thanos tidak akan merusak moralitasnya, karena tindakan itu didasarkan atas sebuah kebutuhan. Sebab, jumlah mulut yang perlu diberi makan lebih banyak daripada jumlah makanan yang bisa disediakan. Oleh karena itu, pembunuhan yang dilakukan Thanos bukanlah perbuatan yang bertentangan dengan moralitas, melainkan harga wajar yang harus dibayar untuk mewujudkan cita-cita mulia. Melenyapkan ketimpangan.

Serupa dengan moralitas Thanos, Winston Churchill juga pernah memerintahkan pasukannya untuk ‘bunuh diri’. Dengan membunuh perasaannya, ia mengorbankan 4.000 nyawa prajurit Inggris di Calais demi menyelamatkan 300.000 prajurit lainnya yang terkepung pasukan Jerman di Pantai Dunkirk. 

Demi mengalihkan perhatian dan konsentrasi pasukan Jerman, mereka yang bertugas di Calais diperintahkan untuk menyerang pasukan Jerman yang jumlahnya jauh lebih besar. Tentu saja bukan untuk menang, melainkan demi mengulur waktu supaya kapal-kapal penyelamat mempunyai kesempatan yang lebih lama untuk melakukan evakuasi pasukan dari Dunkirk.

Standar moralitas di mana saja di dunia pasti setuju jika membunuh adalah sebuah kejahatan. Seperti halnya pencurian, penghilangan nyawa manusia juga tidak bisa diterima. Bahkan hukuman mati atas kejahatan yang sudah terbukti pun masih menjadi polemik di berbagai ruang diskusi. Apalagi jika pembunuhan dilakukan ‘hanya’ demi alasan ideologi yang seringkali abstrak dan absurd.

Jika berdiri sendiri, moralitas selalu terlihat kokoh dan meyakinkan. Namun, manakala disandingkan dengan kondisi lain yang berbeda kualitasnya, moralitas seringkali goyah. Baik dan buruk yang sebelumnya bergerak dalam bingkai besi dapat seketika bergeser ke dalam kotak karet dengan tingkat kelenturan tinggi.

Apa yang semula dipandang sebagai sebuah kejahatan bisa saja kemudian dianggap sebagai tindakan yang diperlukan. Keputusan yang sebelumnya dinilai bertentangan dengan perikemanusiaan dapat saja lalu dipuji sebagai keputusan yang menyelamatkan manusia dan kemanusiaan.

Jika obsesi ideologis Thanos dihalang-halangi oleh Avengers dalam Infinity War maka kehendak Churchill disanggah oleh Anggota Kabinet Perangnya sendiri yakni Chamberlain dan Halifax. Jika sejarah kemudian menyaksikan moralitas Churchill-lah yang berhasil menghentikan kekejaman Nazi-Jerman, maka berdosakah jika pasukan Avengers tidak disemat pin kepahlawanan? Terlebih, Thanos terbukti menepati janjinya. Manakala keseimbangan kembali tercipta, ia akan bersantai menikmati semesta. Bukan untuk bertahta, apalagi menjadi Raja Diraja. 




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID