logo rilis
Terus Genjot Stok Padi, Petani NTB: Selesai Panen Langsung Tanam Lagi
Kontributor
Intan Nirmala Sari
13 April 2018, 17:54 WIB
Terus Genjot Stok Padi, Petani NTB: Selesai Panen Langsung Tanam Lagi
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Peningkatan produksi padi, jagung, kedelai serta komoditas strategis, terus digenjot untuk memperkuat ketahanan pangan. Bahkan, Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman bertekad agar produksi pangan Indonesia terus ditingkatkan, demi menuju lumbung pangan dunia 2045. Upaya Mentan dilakukan dengan membuat terobosan strategis melalui kebijakan Upaya Khusus (Upsus) Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale) sejak 2015/2016.

Hasil nyata sudah tampak sejak tiga tahun terakhir, di mana swasembada beras telah diraih, menyusul jagung, cabai dan bawang merah. Tak hanya swasembada, bahkan sebagian produksi telah berhasil di ekspor. Selain itu, sejak program dicanangkan sudah tidak ada musim paceklik, bahkan harga-harga kebutuhan pokok relatif stabil, tidak ada gejolak meskipun pada hari-hari khusus seperti musim puasa dan Lebaran atau Natal dan Tahun Baru.

Salah satu provinsi lumbung pangan penting adalah Nusa Tenggara Barat (NTB). Provinsi ini menempati urutan kelima dalam penguatan stok beras Bulog sejak tahun lalu. Bukan hanya padi, surplus jagung di NTB bulan lalu bahkan berhasil di ekspor.

Panen raya padi pertanaman Musim Tanam I (pertama) mulai berakhir, stok Gudang Badan Urusan Logistik (Bulog) terus bertambah. Saat ini, pengadaan beras Bulog telah mencapai 36 ribu ton lebih. Harapannya, beras yang masuk Gudang Bulog bisa terus bertambah, mengingat kondisi curah hujan mulai menurun dan membuat mutu panen relatif baik. 

Dalam rangka penguatan stok panen musim berikutnya, maka upaya percepatan tanam harus dilakukan agar panen musim berikutnya dapat mengamankan stok beras hingga awal tahun depan. Penanaman padi Musim Tanam II saat ini, berlangsung di beberapa daerah baik Lombok maupun Sumbawa.

Meskipun hujan mulai jarang turun, namun ketersediaan air masih memadai, tertolong adanya air dari bendung, bendungan, embung serta infrastruktur irigasi lain. Bendungan besar di Lombok Tengah, seperti Batujai dan Pengga bukan hanya menyediakan air untuk Loteng, namun juga Lobar.

Selain itu, petani persawahan yang menerima air dari bendungan akan memanfaatkan maksimal untuk menanam padi. Adapun sawah tadah hujan bagian selatan Lombok, umumnya ditanam palawija, terutama kedelai jagung kacang hijau atau tanaman tembakau. Dalam rangka ikut mensukseskan swasembada pajale, bahkan di bawah tegakan tanaman hortikultura perkebunan maupun hutan, masih diusahakan tanaman pangan tahan naungan.

Semangat masyarakat NTB luar biasa untuk meningkatkan kesejahteraannya, karena itu, mereka betul-betul memanfaatkan sebidang tanahnya, serta waktu kesehariannya untuk pertanian. Dukungan Dinas, BPTP dan penyuluh dalam bentuk demplot sekolah lapang maupun benih dan sarana lainnya mulai terlihat, antara lain dari penggunaan varietas unggul baru padi Inpari 30, 32, 33, 40 dan 43 mulai menyebar dan peningkatan produksi mulai dirasakan. Sebaliknya, varietas lebih lama seperti Ciliwung dan IR64 mulai berkurang.

Karena itulah, dukungan pemerintah pusat dan daerah tidak sia-sia. Itu terlihat nyata dari kinerja perekonomian NTB yang lumayan baik, dan diharapkan kedaulatan pangan negara semakin kokoh dan petani semakin sejahtera.

Sumber: Mastur/Humas Balitbangtan


500
komentar (0)