logo rilis

Teroris Ekonomi
kontributor kontributor
Yudhie Haryono
16 November 2017, 16:54 WIB
Pengamat ekonomi politik, bekerja sebagai Dosen dan Direktur Eksekutif Nusantara Center
Teroris Ekonomi

MENGAPA kaum miskin bertambah? Mengapa mereka tak punya rumah? Mengapa pengangguran banjir mengimpit? Mengapa mereka dilarang sakit? Mengapa putus sekolah membuncah? Mengapa mereka tak punya beasiswa berkah?

Padahal kaum miskin, kaum nganggur dan kaum bodoh itu tinggal di negara dengan potensi kekayaan terbesar di dunia. Mengapa mereka seperti ayam yang mati kelaparan di lumbung padi?

Baca Juga

Jawaban substansinya karena yang terjadi hari ini sesungguhnya penajaman dan keberlanjutan dari terorisme ekonomi.

Yaitu perilaku dari komunitas epistemik profesional berpenghasilan sangat tinggi yang menipu negara-negara di seluruh dunia triliunan dolar. Mereka menyalurkan uang dari Bank Dunia, USAID, IMF dan organisasi "bantuan" luar negeri lainnya menjadi dana korporasi-korporasi raksasa dan pendapatan beberapa keluarga kaya yang mengendalikan sumber-sumber daya alam di negara postkolonial.

Sarana mereka meliputi laporan keuangan yang menyesatkan, pemilihan umum yang curang, penyuapan, pemerasan, seks, dan pembunuhan. Mereka memainkan permainan yang sama tuanya dengan kekuasaan, sebuah permainan yang telah menentukan dimensi yang baru dan mengerikan selama era globalisasi.

Dalam konteks Indonesia, mereka memastikan agar: 1) Tidak adanya UU Perekonomian Nasional, 2) Terpilihnya pejabat publik yang pro-pasar bebas. Dua hal ini berakibat pada: 1) Penetrasi pasar swalayan milik konglomerat sampai desa, 2) Deindustrialisasi, 3) Rasio gini yang terus melebar, 4) Kepastian utang dan kurs mengambang, 5) Kenaikan harga sembako lebih cepat dari pendapatan rakyat, 6) Konflik agraria, 7) Tuna kuasa pendidikan, perumahan, kesehatan, 8) Agama pinggiran, 9) Media penyesatan, 10) Ketergantungan, kemiskinan, dan ketimpangan.

Inilah arsitektur ekonomi kolonial hasil warisan penjajah lama yang ditajamkan oleh penjajah baru. Merekalah teroris ekonomi yang hilir mudik di muka hidung kita tapi tak tampak nyata.

Tentu saja, produk terbaik dari teroris ekonomi adalah kemiskinan dan ketimpangan. Mengapa timpang? Karena ketidakberpihakan anggaran pemerintah dalam melakukan redistribusi pendapatan sesuai fungsi utamanya.

Karenanya, yang kaya disubsidi, yang miskin dipalaki. Yang kaya makin kaya; yang miskin tambah miskin.

Kedua, karena oligarki dalam ekonomi-politik, sehingga kenaikan harga internasional dari komoditas ekspor utama Indonesia seperti komoditas perkebunan dan sumber daya alam (misalnya batu bara).

Ketiga, karena ketidakberpihakan regulasi ketenagakerjaan yang menguntungkan pekerja formal. Padahal, jumlahnya lebih sedikit daripada pekerja informal plus pengangguran.

Keempat, karena pertumbuhan ekonomi yang tidak pro-poor; tidak membela si cacat dan para warga bodoh. Hal ini karena basis pertumbuhannya hanya di sektor jasa dan konsumsi yang padat modal tapi tak banyak serapan tenaga kerja.

Saat yang sama industri nasional hancur, industri impor berjaya. Ekonomi nasional terpuruk, bisnis kurs membaik.

Dus, substansi dari yang terjadi belakangan ini adalah hidupnya terorisme ekonomi.

Pertanyaannya, "Kenapa kebanyakan elite tidak menyadarinya? Atau, kenapa mereka paham dan menjalankannya?"

Rasanya, almarhum Gombloh benar saat menyanyikan ini: "Bercadar sutera hitam/ Terawang jauh di depan/ Diiring doa-doa panjang/ Mengiringkan kau pergi semayam/ Putra terlahir dari bangsaku/ Pencetus tekad penyatu/ Putra terlahir dari kaumku/ Membawa bangsa menuju/ Tanah-tanah merdeka/ Teriring genggam erat erat/ Saudara-saudaramu/ Kuingin jabat rapat-rapat/ Jemari-jemarimu/ Kau tatap mata mata bangsaku/ Kau sentuh rasa dengan senyumu berbakti/"

Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji'un. Makin hari makin sudah mati akal sehat; nalar konstitusional; cita-cita proklamasi...

Tuan Jokowi yth. Inilah terorisme yang sesungguhnya. Bukan di tempat-tempat biasa, tapi di istana tempat tuan bertakhta. Sadarlah secepatnya. Kalau tidak, Anda korban berikutnya. Tidak percaya? Kita akan jadi saksinya.


#Teroris Ekonomi
#Kolom
#Nusantara
#Yudhie Haryono
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID