logo rilis
Teror Bom Surabaya, Pengamat: Bukan Salah BIN
Kontributor
Fatah H Sidik
14 Mei 2018, 10:52 WIB
Teror Bom Surabaya, Pengamat: Bukan Salah BIN
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal (Purn) Budi Gunawan, saat memberikan kuliah umum pada "Munas IV BEM PTNU di Kampus III Universitas Wahid Hasyim, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (28/4/2018). FOTO: Dok. pribadi

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat intelijen Susaningtyas NH Kertopati menilai, serangkaian teror bom di Surabaya, Jawa Timur, Minggu-Senin (13-14/5/2018), tak bisa semata-mata kesalahan Badan Intelijen Negara (BIN). Soalnya, ranah BIN deteksi dini.

"Dan hasilnya, diserahkan ke polisi. Jadi, fungsi koordinasi penting di sini," ujarnya kepada rilis.id di Jakarta, beberapa saat lalu. Karenanya pula, dia tak sepakat dengan desakan Komjen (Purn) Budi Gunawan dicopot sebagai Kepala BIN atas kasus tersebut.

Nuning, sapaannya, mengingatkan, bukan cuma BIN yang punya fungsi intelijen. Polri, misalnya, melalui Intelijen Keamanan (Intelkam) dan Intel Densus 88. Sedangkan TNI, memiliki Badan Intelijen Strategis (Bais). "Jadi, yang harus dikerjakan koordinasi dan sinergitas untuk kewaspadaan," jelasnya.

Mantan Anggota Komisi I DPR RI itu menambahkan, militer di seluruh dunia juga bertugas menghadapi terorisme. Pendekatan hukumnya berbeda dengan Kepolisian, lantaran terorisme bisa menjadi kejahatan terhadap negara atau publik.

"Penanganan terorisme di Indonesia selama ini cenderung masih dalam klasifikasi kejahatan terhadap publik. Sehingga, cenderung ditangani Polri semata," katanya.

Ketika terorisme mengancam keselamatan Presiden atau pejabat lainnya sebagai simbol negara, maka tergolong kejahatan terhadap negara. Hal tersebut, tandas Nuning, "Harus ditanggulangi TNI."


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)