logo rilis
Terlibatnya Perempuan dalam Aksi Teror, Ini Kata Komnas Perempuan
Kontributor
Kurniati
16 Mei 2018, 08:16 WIB
Terlibatnya Perempuan dalam Aksi Teror, Ini Kata Komnas Perempuan
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Maraknya aksi teror yang melibatkan perempuan, karena masih adanya relasi dan hirarki gender yang timpang, kata Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan).

Menurut Komisioner Komnas Perempuan, Adriana Venny, adanya hirarki yang disertai doktrin kepatuhan ini melemahkan posisi tawar perempuan di tengah budaya maskulin dalam lingkaran jaringan kelompok radikal.

"Terlepas bahwa ada kerelaan karena dorongan keyakinan, namun keterlibatan mereka tidak bisa dilepaskan dari hirarki gender ini," kata Venny, melalui siaran pers di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Dalam berbagai peristiwa terorisme di Indonesia, sejumlah perempuan ditangkap sebagai pelaku, sebagian sedang menjalani proses pengadilan dan sebagian lainnya sedang menjalani hukuman akibat tindak pidana terorisme.

Dari catatan Komnas Perempuan, pada tahun 2016, setidaknya ada dua perempuan yang gagal melakukan aksi pengeboman di istana dan yang ditangkap di Purworejo karena terindikasi akan melancarkan aksi bom bunuh diri di luar Jawa.

Aksi pengeboman di Surabaya adalah kasus pertama pelaku perempuan berhasil melakukan aksi bunuh diri, meskipun bersama dengan keluarganya.

Melihat gejala ini, Komnas Perempuan mengkhawatirkan tren perekrutan perempuan menjadi pelaku bom karena asumsi bahwa perempuan berpotensi lebih militan dan mampu dimanipulasi agar tidak mudah dicurigai untuk alasan keamanan.

Selain itu, lanjut Venny, para kaum radikal juga memanfaatkan peran perempuan sebagai ibu yang strategis untuk mentransmisikan ideologi radikal dan mempersiapkan anak-anak menjadi martir.

Komisioner Komnas Perempuan lainnya, Khariroh Ali menyebut berdasarkan temuan pihaknya dalam program tinjau ulang di wilayah-wilayah post konflik di Indonesia untuk konteks 20 tahun reformasi, konflik yang berkekerasan mewariskan dan mengajari budaya kekerasan pada bangsa ini.

"Penyelesaian konflik yang tidak tuntas, para pelaku yang impun, tidak adanya pemulihan bagi para korban konflik, ternyata menjadi ladang subur tumbuhnya paham-paham radikalisme," kata Khoriroh.

Selain itu Komnas Perempuan yang juga menerima pengaduan perempuan korban bom Bali dan membuat konsultasi dengan perempuan korban terorisme pengeboman di JW Marriot Jakarta menyebut pada kedua tragedi tersebut aksi terorisme berdampak panjang bagi kehidupan perempuan korban, baik trauma yang dalam, menjadi disabilitas, keretakan keluarga dan kekerasan seksual oleh pasangan karena kerusakan fisik.

"Mereka juga mengalami hancurnya kehidupan ekonomi, dipaksa menjadi single parent (orang tua tunggal) mendadak, sehingga merapuhkan masa depan anak-anak. Bahkan ada yang menjadi korban trafficking (perdagangan orang) di luar negeri, karena harus menyelamatkan ekonomi keluarga paska pengeboman," kata dia.


 

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)