logo rilis
Terkait Utang, INDEF: Kita Mau Seperti Zimbabwe?
Kontributor
Ainul Ghurri
21 Maret 2018, 16:55 WIB
Terkait Utang, INDEF: Kita Mau Seperti Zimbabwe?
FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, utang pemerintah yang sudah menembus angka Rp4 ribu triliun harus diwaspadai. Pasalnya, ia tidak ingin Indonesia mengalami kisah pahit karena terlilit utang seperti Yunani, Portugal, Sri Lanka dan Zimbabwe.

"Hampir semua di negara-negara itu mengalami persoalan dengan triger sektor fiskal, karena negara tersebut hampir sama permasalahannya dengan kita. Kita tidak ingin membuat utang menjadi kekhawatiran kita, kita harus aware," ujarnya di Kantor Indef Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Sebagai contoh, Zimbabwe memiliki utang sebesar US$40 juta kepada Cina. Akibatnya, Zimbabwe harus mengikuti keinginaan Cina dengan mengganti mata uangnya menjadi yuan sebagai imbalan penghapusan utang.

"Mata uang yuan di Zimbabwe mulai berlaku pada 1 januari 2016, setelah pemerintahan Zimbabwe tidak mampu membayar utang yang jatuh tempo pada akhir desember 2015," ungkapnya.

Kegagalan juga disusul oleh Sri Lanka, karena tidak mampu membayar utang, akhirnya pemerintah Sri Langka melepas Pelabuhan Hambatota sebesar US$1,1 triliun atau sebesar 70 persen sahamnya di jual kepada BUMN Cina.

"Kedua negara itu sebenarnya sebagai cerminan kita, walaupun punya utang, ya kalau kita mampu membayar dan bisa are financing, paling tidak kita bisa tidur nyeyak," ungkapnya.

Enny menjelaskan, sebenarnya utang bukanlah barang yang haram, karena notabene utang merupakan tambahan modal guna meningkatkan kemampuan pembiayaan pembangunan. Artinya, dengan tambahan utang, mestinya Indonesia mampu meningkatkan produktivitas dan akselerasi pertumbuhan ekonomi. Termasuk, meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemandirian ekonomi Indonesia.

"Nyatanya outstanding utang Indonesia terus bertambah, namun produktivitas, daya saing perekonomian, justru menurun. Sebaliknya, ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap asing justru meningkat. Bahkan, ketergantungan impor kita sangat besar," paparnya.

Editor: Intan Nirmala Sari


500
komentar (0)