logo rilis
Terkait Kasus Bowo, KPK Akan Periksa Nusron Wahid
Kontributor
Nailin In Saroh
11 April 2019, 12:01 WIB
Terkait Kasus Bowo, KPK Akan Periksa Nusron Wahid
ILUSTRASI: RILIS.ID

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana memanggil politisi Golkar Nusron Wahid, terkait namanya yang disebut-sebut kolega satu partai yang juga tersangka kasus suap, Bowo Sidik Pangarso. 

Ketua BNP2TKI itu akan dimintai keterangannya oleh KPK soal perintah menyiapkan 400 ribu amplop uang, yang rencananya bakal digunakan untuk serangan fajar di Jawa Tengah pada Pemilu April 17 mendatang.

“Klarifikasi pasti dilakukan, tapi terhadap siapa dan bagaimana metodenya tentu belum bisa disampaikan saat ini. Nanti penyidik kita membutuhkan keterangan dari pihak-pihak tertentu, siapapun orangnya, ya sepanjang relevan dan terkait tentu akan kami panggil,” ujar Febri di Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Kendati demikian, Febri menilai, pernyataan Bowo yang menyeret nama Nusron Wahid terkait amplop serangan fajar dianggap kurang cukup kuat, jika tidak didukung keterangan yang lain. Oleh karenanya, KPK memastikan akan menguji kebenaran "nyanyian" Bowo tersebut.

“Bagi KPK satu keterangan saja tentu saja tidak cukup, tapi satu keterangan itu tentu saja perlu dicek, diklarifikasi atau diverifikasi dengan bukti-bukti yang lain dan keterangan-keterangan yang lain,” jelas Febri.

Sebelumnya, politisi Golkar Nusron Wahid yang disebut namanya sudah membantah. Dia menegaskan, pencatutan namanya oleh koleganya di partai beringin itu tidak benar.

"Tidak benar," kata Nusron singkat saat dimintai konfirmasi, Selasa (9/4/2019).

Nusron mengaku, dirinya tak pernah memerintahkan Bowo Sidik menyiapkan amplop serangan fajar. Dia pun tidak tahu menahu ihwal pengakuan anggota Komisi VI DPR itu.

"Tidak tahu-menahu," kata Nusron, yang baru-baru ini ditunjuk Golkar menggantikan Bowo Sidik sebagai Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa Tengah I.

Diketahui, tersangka KPK Bowo Sidik Pangarso menyebut nama Nusron Wahid saat ditanya soal 400 ribu amplop serangan fajar yang disita terkait perkara dugaan suap dari Marketing Manager PT Humpuss Kimia Transportasi (HTK) Asty Winasti. Menurut Bowo, Nusron-lah yang memerintahkannya menyiapkan amplop-amplop itu.

"Diminta oleh Nusron Wahid untuk menyiapkan itu," kata Bowo setelah menjalani pemeriksaan di KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (5/4).

Bowo sendiri ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus dugaan suap dari Marketing Manager PT Humpuss Kimia Transportasi (HTK) Asty Winasti. 
Anggota Komisi VI DPR ini diduga menerima suap dari Asty lewat seseorang bernama Indung dengan jumlah sekitar Rp1,5 miliar dalam 6 kali pemberian dan Rp89,4 juta yang disita saat OTT terhadap Bowo.

Suap itu diduga diberikan agar Bowo membantu proses perjanjian penggunaan kapal PT HTK oleh PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Selain duit dari Asty, Bowo diduga menerima gratifikasi Rp6,5 miliar.

Uang Rp1,5 miliar dan Rp6,5 miliar alias senilai Rp8 miliar itulah yang disebut berada dalam 400 ribu amplop. KPK menduga amplop-amplop itu bakal digunakan untuk serangan fajar demi kepentingan pemilu legislatif yang diikuti Bowo. Untuk diketahui, Bowo merupakan caleg DPR dapil Jateng II nomor urut 2 dari Partai Golkar.

Editor: Sukma Alam




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID