logo rilis

Terbujuk Saran Fredrich, Setnov Pilih Mangkir Panggilan KPK
Kontributor

27 April 2018, 16:55 WIB
Terbujuk Saran Fredrich, Setnov Pilih Mangkir Panggilan KPK
Terdakwa korupsi e-KTP, Setya Novanto. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Setya Novanto mengakui ketidakhadirannya dalam pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka kasus dugaan korupsi e-KTP kala itu, karena saran dari kuasa hukumnya, Fredrich Yunadi. 

Hal tersebut ia sampaikan saat bersaksi di pengadilan tipikor dengan kasus dugaan merintangi penyidikan e-KTP dengan terdakwa dokter RS Permata Hijau, Bimanesh Sutardjo, Jumat (27/4/2018).

Saat itu, kata Setnov, Fredrich sempat menanyakan agenda acara DPR pada tanggal pemeriksaan KPK itu. 

Kebetulan, saat itu masih ada rapat paripurna, sehingga Fredrich menyarankan agar Setnov memilih datang ke paripurna dibanding panggilan KPK.

"Kalau nggak salah, sampaikan ini pak Nov tanggal 15 ada acara apa? Saya bilang ada paripurna. Kalau gitu masih bisa ditunda (pemeriksaan KPK, red)," jelas Setnov.

Menurut Fredrich, lanjut Setnov, ketidakhadirannya ke KPK sudah merupakan tindakan paling benar. Sebab, Fredrich beralibi saat itu masih ada hak imunitas anggota dewan.

"Ini ada aturan UU 45, dimana Ketua DPR punya hak imunitas. Ini sesuai MD3 harus izin Presiden. Paling baik dibuatin surat penundaan sambil tunggu izin presiden," kata Setnov menirukan omongan Fredrich kepadanya.

Setnov mengklaim, sebenarnya ia bersedia memenuhi panggilan penyidik KPK. 

Namun, lagi-lagi karena bujuk rayu Fredrich, Setnov gagal menghadiri pemeriksaan KPK.

"Saya mohon maaf, saya hargai mau hadir. Tapi pak Fredrich jelaskan ada 6 item itu. Memang pak FY yang berikan saran-saran itu," tutupnya.

Sebelumnya, Setya Novanto mengalami kecelakaan saat dicari oleh penyidik KPK pada pertengahan November lalu. 

Ia hendak dijemput paksa oleh penyidik karena sudah beberapa kali mangkir dari panggilan KPK. Hingga akhirnya ia ditetapkan sebagai DPO.

Dalam kasus ini, dokter Bimanesh bersama Fredrich Yunadi didakwa merintangi penyidikan kasus korupsi proyek pengadaan e-KTP yang menjerat Setnov. 
Mereka berdua diduga memanipulasi data medis Setnov agar bisa dirawat. 

Bimanesh dan Fredrich Yunadi disebut merekayasa agar Setnov dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau pada pertengahan November 2017 untuk menghindari pemeriksaan penyidik KPK.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID