logo rilis
Terapkan Sistem Pendidikan Komputer Sains, Ini Keuntungannya
Kontributor
Tio Pirnando
28 Maret 2018, 15:23 WIB
Terapkan Sistem Pendidikan Komputer Sains, Ini Keuntungannya
Pengamat Pendidikan dari Eduspec Indonesia Indra Charismiadji. FOTO: RILIS.ID/Tio Pirnando

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat Pendidikan dari Eduspec Indonesia Indra Charismiadji  mengatakan, bila pendidikan Indonesia tak ingin tertinggal dari negara lain, maka Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harus berani ambil keputusan menerapkan sistem komputer sains, coding atau programming, dalam pembelajarannya. Karena, coding sedang menjadi tren pendidikan di dunia internasional dan dianggap mampu menumbuhkan keterampilan siswa di abad 21 ini.

"Kadang kan untuk memulai suatu yang baru agak sulit di Kemendikbud sendiri. Maka kami hadir kesini harapannya untuk bisa buka mata Kemendikbud, ini loh sistem pembelajaran yang di pakai negara lain," ujar Indra di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Rabu (28/3/2018).

Dia menjelaskan, saat ini hampir sebagian negara maju dan negara di Asia Tenggara memakai sistem coding. Indra memberikan contoh negara-negara yang sudah menerapkan sistem coding dalam pendidikannya, seperti Amerika Serikat, Inggris, Firlandia, Asutralia, Singapura, Malaysia dan Thailand dan hanya Indonesia yang belum menerapkan coding

"Apakah kita akan selalu jadi orang yang tertinggal, bangsa yang ketinggalan atau kita mau kejar ketinggalan itu," tegas dia.

Padahal, dengan coding pesera didik bisa didorong untuk menciptakan program aplikasi baru sendiri. Apalagi tiap siswa memiliki kreatifitasnya masing-masing. Berbekal kajian, sistem pembelajaran coding optimistis bisa diterima di dalam negeri. Setelah itu Kemendikbud bisa melakukan uji coba di beberapa sekolah dan menilai apakah model pembelajaran tersebut sesuai untuk diterapkan.

"Misalnya 30 anak dalam satu kelas, berarti ada 30 aplikasi. Kalau dulu, modelnya sama semua tiap anak," tutur Indra.

Indra meminta agar Kemendikbud berani bersikap dengan menerapkan sistem coding atau programming ini untuk sekolah. Meskipun dalam penerapannya, kemungkinan risiko baik positif maupun negatif akan ditemui.

"Kalau kita lihat semua negara arahnya kesini kenapa enggak kita coba. Kan bisa dilakukan piloting (uji coba) dulu di beberapa sekolah di semua jenjang. Kita lihat perbandingannya setelah sekian lama dengan anak-anak yang hanya melalukan pembelajaran biasa," paparnya.

Editor: Elvi R


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)