logo rilis

Terapkan Revolusi Industri 4.0, CORE: Transisinya Harus Jelas
Kontributor

04 April 2018, 17:54 WIB
Terapkan Revolusi Industri 4.0, CORE: Transisinya Harus Jelas
Direktur Eksekutif CORE Mohammad Faisal. FOTO: Core Indonesia

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal mengatakan, perlu ada proses transisi yang jelas sebelum pemerintah mengimplementasikan kelima industri ke dalam Making Indonesia 4.0. Mengingat, jika hal tersebut dilakukan secara drastis bakal menimbulkan dampak signifikan terhadap industri dan lapangan pekerjaan. 

"Kalau dilihat dari sektor-sektor yang disebutkan, itu paling besar serap lapangan pekerjaan. Sehingga, perlu pemilihan secara hati-hati karena ini akan berdampak pada kinerja industri dan lapangan kerja," jelas Faisal kepada rilis.id di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Menurutnya, untuk menerapkan Making Indonesia 4.0 pada industri elektronika agak sulit, karena perlu melahirkan produk-produk kualitas tinggi yang umumnya diproduksi lewat sumber daya manusia. Sedangkan untuk industri makanan dan minuman, serta tekstil dibutuhkan transisi yang jelas.

"Jadi, kalau mau nerapin itu, harus jelas gimana tahapannya. Jangan sampai ada penurunan drastis, serta diperhitungkan bagaimana kompensasinya," ungkapnya. 

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap, lewat Revolusi Industri 4.0 mampu membawa Tanah Air ke era baru, yang di dalamnya terdapat beberapa aspirasi besar untuk merevitalisasi industri menyeluruh. 

"Dengan mengimplementasi Revolusi Industri 4.0, Indonesia dapat mencapai top 10 ekonomi global pada 2030, melalui peningkatan angka ekspor netto kita kembali ke 10 persen dari PDB dan peningkatan produktivitas dengan adopsi teknologi dan inovasi,” ucap Jokowi saat meluncurkan Making Indonesia 4.0 yang merupakan roadmap atau peta jalan mengenai strategi Indonesia dalam implementasi memasuki Industri 4.0 di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (4/4/2018).

Aspirasi Making Indonesia 4.0 juga untuk mewujudkan pembukaan 10 juta lapangan kerja baru di 2030. Untuk itu, terdapat lima industri yang menjadi fokus implementasi Industri 4.0 di Indonesia, yaitu makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik dan kimia.

Kelima industri itu, dinilai sebagai tulang punggung dan diharapkan membawa efek ungkit yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia di 2030.

“Mulai hari ini, Making Indonesia 4.0 saya tetapkan sebagai salah satu agenda nasional bangsa Indonesia dan Kementerian Perindustrian akan menjadi Leading Sector untuk  agenda ini,” tegas Presiden.

Sebagai informasi, Revolusi Industri 4.0 atau Making Indonesia 4.0 merupakan upaya atau proses mendorong industri Tanah Air ke arah digitalisasi dan meningkatkan teknologi. Dengan begitu, industri Indonesia bisa berkembang dan memiliki daya saing dengan negara-negara lain. 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)