logo rilis

Tenabang, Kurusetra Ibu Kota
kontributor kontributor
Arif Budiman
29 Desember 2017, 14:02 WIB
Pemerhati sosial, penikmat kopi, bekerja sebagai pegiat kepemiluan
Tenabang, Kurusetra Ibu Kota

KURUSETRA adalah medan perang besar dalam wiracarita Mahabharata. Lokasi pertempuran antara Kurawa dengan Pandawa. Melibatkan para putra Dretarastra dan Gandari yang tak rela kekuasaan Raja Kuru diserahkan kepada Yudhistira. Salah satu dari lima putra Pandu. 

Dretarastra dan Pandu bersaudara. Dretarastra lebih tua dari Pandu. Namun, karena indra penglihatannya tak sempurna, Pandu-lah yang kemudian ditunjuk menjadi raja. 

Baca Juga

Dretarastra memang sempat memegang tahta, namun hanya untuk menutup celah sejarah. Mengisi kekosongan kekuasaan saja. 

Pandu meninggal saat Yudhistira belum cukup usia untuk menjadi raja. Sampai saatnya tiba bagi Yudhistira, Dretarastra ditunjuk sebagai kepala pemerintahan kerajaan Kuru di Hastina. Namun, anak-anak Dretarastra dan Gandari punya kehendak berbeda. Mereka menginginkan tahta. Mereka ingin berkuasa. Keturunan Dretarastra harus menjadi raja di Hastina. Dalam perang yang berlangsung selama 18 hari, Kurawa takluk pada akhirnya. 

Mengakhiri geger Bharatayudha di padang Kurusetra, Pandawa berhasil merebut tahta. Yudhistira pun diangkat sebagai Raja Indraprastha sekaligus Hastinapura. 

Takdir Tenabang serupa dengan kurusetra. Dalam rentang waktu lebih dari dua abad, Tenabang telah menjadi sentral pertarungan sosial, ekonomi dan politik. Abdul Chaer dalam bukunya Tenabang Tempo Doeloe mencatat bahwa hanya berselang lima tahun sejak didirikan, tepatnya pada tahun 1740 Tenabang membara oleh kerusuhan. Belanda membunuh orang-orang China, merampas harta benda mereka, dan membakar kebun-kebun mereka. Tenabang porak-poranda, pasar lesu, perekonomian pun lumpuh.

Butuh waktu lebih dari satu abad untuk memulihkan geliat Tenabang. Belanda menghidupkan kembali peruntukan Tenabang sebagai pasar pada tahun 1881. Saudagar China dan Arab pun ramai bermukim di wilayah sekitar. Terlebih kegiatan pasar tak lagi hanya seminggu sekali, tetapi seminggu dua kali. Tidak hanya Sabtu, tetapi juga Rabu.

Sejak didirikan oleh Yustinus Vinck dengan seizin Gubernur Jenderal Patramini pada 1735, Tenabang yang dulu dinamai De Nabang oleh Belanda karena banyak pohon palemnya, kini telah menjelma menjadi pusat perbelanjaan grosir terbesar di Jakarta. 

Seiring dengan geliat perekonomian di dalamnya, Tenabang harus menanggung konsekuensi. Kriminalitas adalah salah satunya. Imaji politik adalah salah duanya.

Tahun 1990-an, Tenabang kembali menjadi medan perang, kala kelompok-kelompok warga saling berebut pengaruh dan ‘wilayah kekuasaan’. Sejumlah nama kemudian terkenal sebagai penguasa lembah hitam yang ditakuti. Mereka akrab dengan kekerasan. Menggadai nyawa di kurusetra ibukota. 

Kini, setelah reformasi politik terjadi, Tenabang kembali menjadi area pertarungan imaji prestasi. Jokowi yang terpilih sebagai Gubernur Jakarta pada 2012 mengandalkan gagasan penataan PKL Tenabang sebagai modal untuk menggapai posisi yang lebih tinggi. Menjadi Presiden RI. Relokasi PKL dari trotoar jalan ke Blok G pun dibanjiri puja-puji. Hasilnya, pada Pemilu 2014, Gubernur Jokowi akhirnya benar-benar terpilih menjadi Presiden RI.

Demikian halnya dengan Ahok yang menggantikan Jokowi sebagai Gubernur Jakarta. Penataan Tenabang menjadi alat kampanyenya untuk meyakinkan pemilih, bahwa ia lebih baik dari para kontestan lainnya dalam hal kemampuan mengurus ibukota. Bahwa Ahok yang berpasangan dengan Djarot layak menjabat sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta untuk periode yang kedua.

Saat ini, Gubernur Anies Baswedan bersama Wakil Gubernur Sandiaga Uno melakukan hal serupa di kurusetra ibukota. Menanggapi keluhan pedagang terdampak relokasi tahun 2013 tentang sepinya Blok G, Gubernur dan Wakil Gubernur yang dilantik pada Oktober 2017 ini kemudian menginisiasi gagasan baru. Menutup Jalan Jatibaru Raya yang berdekatan dengan stasiun kereta dan mengalihkan fungsinya untuk tempat berjualan pedagang kaki lima.

Cerita Tenabang masih akan bersambung. Ia akan terus menjadi area pertarungan kinerja dan gagasan. Tempat prestasi pemimpin ibukota dipertaruhkan. Tenabang adalah kesempatan. Untuk menguji ilmu dan kemampuan. Untuk mengukur siapa pecundang dan siapa pemenang. Hingga akhirnya, semua akan terang-benderang.


#ahok
#arif budiman
#semburat
#anies baswedan
#tenabang
Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)