logo rilis
Teluk Balikpapan Tercemar, KLHK Terjunkan Tim Penyelam
Kontributor
Fatah H Sidik
06 April 2018, 23:20 WIB
Teluk Balikpapan Tercemar, KLHK Terjunkan Tim Penyelam
Habitat kepiting di sekitar Teluk Balikpapan yang rusak akibat tumpahan minyak. FOTO: Twitter/@walhinasional

RILIS.ID, Jakarta— Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) menerjunkan tim penyelam ke lokasi bocornya pipa minyak milik PT Pertamina di perairan Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (6/4/2018). Tujuannya, menyelidiki langsung kasus yang mencemari lingkungan tersebut.

"Tim penyelam melakukan penyelaman di jangkar kapal MV Ever Judge 2 untuk melakukan analisis adanya jejak minyak pada jangkar, jika jangkar kapal diduga menjadi penyebab putusnya pipa Pertamina di bawah laut itu," ujar Menteri LHK, Siti Nurbaya, di Jakarta, beberapa saat lalu.

Baca: Teluk Balikpapan Tercemar, Pertamina Ogah Disebut Lalai

Tim penyelam dikerahkan setelah sehari sebelumnya dia mengutus tiga Direktur Jenderal ke lokasi. Ketiganya adalah Dirjen Penegakan Hukum, Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, serta Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem.

Pada hari sama, tim KLHK bertemu Wakil Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Kaltim di sekitar lokasi kejadian. Maksudnya, ikut penyelaman di titik lokasi pipa bawah laut.

"Diterangkan oleh salah satu instruktur selam, bahwa jarak pandang mulai kedalaman lima meter adalah 0 meter tanpa senter underwater, dan 30 sentimeter dengan senter underwater yang kami miliki pada cuaca terang," beber Siti.

Baca: Kasus Teluk Balikpapan, BPBD Kecam Sikap Tertutup Pertamina

Saat itu hujan dan langit gelap. Tim penyelam pun enggan menjamin keselamatan penyelam Polda Kaltim. Alhasil, tim penyelam KLHK turun menggunakan tali referensi dan diikatkan ke rantai jangkar melalui carabiner, supaya tetap bersama.

Meski hujan dan mendung, tiga penyelam, Yusi, Stephen, dan Mahert, tetap memeriksa jangkar di bawah air. Mereka menggunakan senter underwater hingga kedalaman 10 meter.

Sayangnya, upaya mereka harus dihentikan karena terjadi perubahan arus dan mengakibatkan posisi kapal bergeser arah. Sehingga, rantai jangkar bergesekan dengan badan kapal, mengikuti perubahan posisi kapal.

Hingga kedalaman 10 meter, ketiganya belum menemukan tanda-tanda yang dapat dianalisis. "Akhirnya diputuskan penyelaman dihentikan, karena cuaca hari ini tidak mendukung dan data untuk penyelesaian sengketa di luar pengadilan sementara sudah cukup," terang Siti.

Baca: Kasus Teluk Balikpapan, Polisi Gunakan UU Lingkungan Hidup

Politisi Partai NasDem itu menambahkan, pihak Pertamina Refeneri Unit (RU) V telah menandatangani berita acara verifikasi dan pengambilan sampel, selain KLHK. Sampel yang diambil adalah minyak di permukaan, air, dan sedimen di dasar pipa. Sampel air dan sedimen di kawasan mangrove dan juga pengamatan mangrove.

"Selain itu, digunakan drone untuk melakukan mapping real daerah terpapar minyak," tambahnya. Dalam waktu dekat, bakal dikerahkan tim valuasi ekonomi, setelah data ekologi dan paparan akibat minyak tersusun sempurna.

Sumber: ANTARA


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)