logo rilis
Telisik Fakta Sidang, KPK Intensifkan Pemeriksaan Keponakan Setya Novanto
Kontributor
Tari Oktaviani
03 April 2018, 11:26 WIB
Telisik Fakta Sidang, KPK Intensifkan Pemeriksaan Keponakan Setya Novanto
Irvanto Pambudi. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma.

RILIS.ID, Jakarta— Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan perkembangan kasus dugaan korupsi kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP). 

Lewat mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera yang juga keponakan Setya Novanto, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, penyidik menelisik lebih dalam kasus dugaan korupsi proyek yang merugikan negara triliunan rupiah ini. 

Irvanto akan dimintai keterangan untuk tersangka Bos PT Delta Energy Made Oka Masagung. Made diketahui merupakan rekan sesama pengusaha Setya Novanto.

"Irvanto diperiksa sebagai saksi untuk MOM," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah saat dikonfirmasi, Selasa (3/4/2018).

Tak hanya itu saja, seorang PNS di Kementerian Dalam Negeri yang menjabat sebagai Kasubbag Perbendaharaan Bagian Keuangan Sesditjen Dukcapil, Junaidi, juga digali keterangan untuk melengkapi berkas keponakan Setya Novanto itu.

"Junaidi dimintai keterangan untuk IHP (Irvanto)," tuturnya.

Dalam kasus ini, Irvanto ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi proyek e-KTP bersama Made Oka Masagung. Irvanto melalui perusahaan yang ia miliki diduga menampung uang dari keuntungan proyek e-KTP.

Ketua KPK, Agus Rahardjo, mengatakan Irvanto diduga menerima US$3,5 juta pada periode 19 Januari hingga 19 Februari 2012 yang diperuntukan kepada Setnov.

Irvanto disebut sejak awal sudah mengikuti proses pengadaan e-KTP milik Kementerian Dalam Negeri lewat PT Murakabi Sejahtera. Dia juga sempat mengikuti pertemuan di Ruko Fatmawati atau biasa disebut Tim Fatmawati.

Menurut Agus, pihaknya menduga PT Murakabi Sejahtera kalah, namun perusahaan yang dipimpin Irvanto tersebut merupakan perwakilan Setnov dalam kasus yang diduga merugikan negara hingga Rp2,3 triliun.

Irvanto juga disebut mengetahui ihwal fee sekitar 5 persen dari nilai proyek e-KTP sebesar Rp5,9 triliun untuk anggota DPR periode 2009-2014.

Sementara, Made Oka Masagung juga diduga sebagai penampung dan perantara penerimaan uang dari proyek e-KTP kepada Setya Novanto. Uang tersebut ditampung melalui rekening kedua perusahaannya di Singapura, yaitu OEM Investement Pte Ltd dan PT Delta Energy.

Irvanto dan Oka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) subsider Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Editor: Sukardjito


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)