logo rilis
Teknologi Tepat Pemupukan Tingkatkan Produktivitas Lahan Rawa
Kontributor
Elvi R
24 Agustus 2020, 20:03 WIB
Teknologi Tepat Pemupukan Tingkatkan Produktivitas Lahan Rawa
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Target utama pembangunan pertanian saat ini adalah tercapainya swasembada pangan dan peningkatan produksi beberapa komoditas strategis, terutama padi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan rawa pasang surut.

Secara nasional luas lahan rawa mencapai 34,13 juta hektare yang tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Dari luasan tersebut, yang berpotensi untuk pertanian lahan basah sekitar 14,185 juta hektare. Sedangkan yang berpotensi untuk perluasan lahan pertanian khususnya lahan sawah sekitar 5,12 juta hektare.

Besarnya potensi tersebut memicu Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) untuk mengoptimalkannya dengan penerapan teknologi spesifik lahan rawa. Hingga saat ini penerapan teknologi oleh petani di lahan rawa masih tertinggal dibandingkan dengan lahan sawah beririgasi, sehingga perlu pembinaan dan penyuluhan yang lebih intens dan efektif.

Guna mengakselerasi proses diseminasi teknologi tersebut langsung kepada petani di lahan rawa pasang surut dan lebak maka Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Balitbangtan bekerjasama dengan PT. Tritarma Wirakarsa membuat demonstration plot (Demplot) terkait aplikasi pupuk Mikro VernoTM yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan di lahan rawa yaitu terjadi keracunan besi akibat oksidasi pirit.

Sebagai bagian dari kegiatan demplot tersebut, pada Senin (24/8/2020) telah digelar panen perdana kegiatan penelitian aplikasi pupuk mikro VernoTM di lahan sulfat masam di Desa Murung Keramat, Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Pada demplot seluas 2 hektare ini ditanam padi varietas Inpara 2 dan padi Hibrida Supadi 89. Panen ubinan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan. Hasil padi Hibrida Supadi 89 mencapai 8,4-9,1 ton hektare-1 dan padi Inpara 2 mencapai 7,2-8,2 ton hektare-1. Hasil rata-rata ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan padi di sekitarnya yaitu rata-rata hanya mencapai 3,5 ton hektare-1.

Panen perdana ini dihadiri Kepala Balittanah, Kepala Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra), Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kab. Barito Kuala, Kasubdit. Pupuk dan Pembenah Tanah Ditjen PSP Kementan, Peneliti, Koordinator penyuluh, penyuluh pertanian dan petani.

Kepala Balittanah, Ladiyani Retno Widowati dalam sambutannya menyampaikan bahwa Balittanah siap berkontribusi dalam peningkatan produktivitas padi di lahan rawa pasang surut dengan mengintroduksikan berbagai paket teknologi unggulan terutama dari aspek pengelolaan lahannya dan pemupukannya.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kabupaten Barito Kuala, Murniati menyampaikan jika separuh saja petani di wilayah Barito Kuala menerapkan teknologi yang dihasilkan Balittanah, maka Kabupaten Barito Kuala akan menjadi sumber pangan yang berlimpah.

Karena itu Dinas Pertanian Tanaman Pangan Barito Kuala siap mensosialisasikan kepada seluruh BPP, penyuluh dan petani untuk mengintroduksi teknologi Balittanah dalam pengelolaan lahan sulfat masam untuk meningkatkan produktivitas padi.

Sementara itu Kasubdit Pupuk dan Pembenah Tanah, Ditjen PSP, Budi Hanafi mengapresiasi hasil kajian ini dan akan memperjuangkan agar paket teknologi yang sangat prospektif dapat dipertimbangkan untuk descaling up pada kegiatan food estate di Kalimantan Tengah.

Pengembangan demfarm ini diharapkan mampu meningkatkan proses hilirisasi inovasi teknologi pertanian secara berkelanjutan. Adopsi atau penerapan teknologi tersebut oleh petani dan pelaku usaha pertanian lainnya diharapkan berdampak pada peningkatan produksi pertanian pendapatan masyarakat, khususnya petani di lahan rawa pasang surut.

Sumber: Balittanah/Balitbangtan


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)


2020 | WWW.RILIS.ID