logo rilis
Teknologi Nanoselulosa Berbahan Biomassa Pertanian Solusi Kemasan Ramah Lingkungan
Kontributor
Elvi R
18 Agustus 2019, 11:36 WIB
Teknologi Nanoselulosa Berbahan Biomassa Pertanian Solusi Kemasan Ramah Lingkungan
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Baru-baru ini dunia telah dikejutkan oleh berita terdamparnya paus ke pantai di beberapa wilayah seperti di Wakatobi dan Filipina. Kondisi paus mati dengan memprihatinkan karena perutnya berisi limbah plastik. Plastik merupakan salah satu jenis polimer yang umumnya berasal dari minyak bumi dengan tambahan material lainnya. Pemanfaatan plastik sangat luas dalam keghidupan sehari-hari, salah satunya sebagai kemasan baik kemasan pangan atau non pangan. Hal tersebut karena sifatnya yang elastis, ringan, kedap air, fleksibel, kemudahan dalam penggunaan dan produksinya yang mudah dengan biaya rendah. Namun, Kemasan plastik tidak bisa terurai di tanah dan hanya sedikit mikroba yang mampu menguraikannya. Itupun dalam jangka waktu penguraian yang panjang lebih dari 500 tahun. Akibatnya limbah plastik menyebabkan pencemaran lingkungan baik di ekosistem darat maupun ekosistem laut.

Tingginya mobilitas manusia di dunia telah meningkatkan kebutuhan akan kemasan terutama plastik. Data menunjukkan bahwa permintaan plastik terutama sebagai kemasan terus meningkat hingga 4 persen per tahunnya dengan sampah plastik yang terbuang mencapai 26.500 ton per harinya. Namun, sejalan dengan kesadaran akan lingkungan yang eco-friendly, kemasan bioplastik menjadi suatu terobosan dan kebutuhan pasar di dunia. Kelebihan kemasan bioplastik ini adalah mudah terurai di tanah dan kembali menjadi struktur hara tanah dalam waktu singkat. 

Kemasan bioplastik sudah cukup banyak diproduksi di mancanegara,bahkan industri lokal juga sudah ada beberapa industri yang memproduksi bioplastik dari bahan pati singkong. Namun yang menjadi tantangannya adalah ketahanan terhadap panas kurang, tingkat kekuatan mekanisnya kurang, dan sangat sensitif terhadap air. Oleh karena itu, banyak peneliti dan juga produsen bioplastik mencari solusi untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dari bioplastik ini. 

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Pascapanen merupakan institusi riset yang memberikan perhatian untuk mengurangi sampah plastik dengan invensi dan inovasi teknologi untuk kemasan ramah lingkungan atau bioplastik. Pati adalah komponen utama yang mudah dalam pembuatan bioplastik. Namun perlu dikompositkan dengan bahan tambahan lain seperti serat dan bahan biokomposit lainnya untuk memperbaiki dan meningkatkan sifat mekanis dan fisiknya. Salah satu untuk meningkatkan kekuatan bioplastik adalah dengan menambahkan serat selulosa sebagai bahan komposit. Serat selulosa dari limbah biomassa pertanian menjadi perhatian Badan Litbang Pertanian. Hal ini dikarenakan jumlahnya banyak, mudah didapat dan murah serta untuk meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian. 

Hasil riset Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Litbang Pascapanen Pertanian menunjukkan bahwa serat selulosa dengan tingkat kristalinitas tinggi dan dalam bentuk partikel nano atau satu per semilyar (meter) terbukti lebih efektif untuk meningkatkan kekuatan mekanis bioplastik dan lebih kompatibel pada proses pembuatan adonan pelet plastik sehingga bioplastik yang dihasilkan lebih homogen, meningkatkan kekuatan mekanis bioplastik, memperbaiki ketahanan terhadap panas dan mengurangi sensitivitas terhadap air serta sifat barrier terhadap oksigen meningkat. Hasil teknologi canggih yang dimiliki Balitbangtan ini menjawab solusi teknologi yang berbasis ramah lingkungan. 

Kepala BB-Pascapanen, Dr. Prayudi Syamsuri, mengungkapkan dukungannya terhadap pengembangan teknologi nano untuk kemasan ramah lingkungan dan bukan hanya untuk kemasan bahkan untuk industri lain seperti otomotif dan lainnya yang membutuhkan nano-bioplastik ujarnya.

Hingga saat ini, BB-Pascapanen telah menghasilkan teknologi produksi nanoselulosa pada skala laboratorium. Namun, produksi nanoselulosa dengan tingkat kristalinitas tinggi tentunya menjadi tantangan dalam hal konsistensi struktur kristal dan ukuran partikelnya yang seragam. Scaling up produksi nanoselulosa hingga skala industri juga masih menjadi tantangan ke depan. Namun, inovasi mendukung teknologi yang berbasis ramah lingkungan akan terus dilakukan dan ditingkatkan dengan penyediaan sumber daya manusia yang kompeten dan peralatan teknologi nano yang menjawab tantangan dunia saat ini.

Sumber: Prima Luna/BB Pascapanen/Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID