logo rilis
Teknologi Inovatif Budidaya Bawang Putih, Tingkat Produktifitas
Kontributor
Elvi R
24 Maret 2020, 16:45 WIB
Teknologi Inovatif Budidaya Bawang Putih, Tingkat Produktifitas
Budidaya bawang putih. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Bawang putih menjadi komoditas yang amad dibutuhkan oleh masyarakat. Bumbu sebagian besar masakan khas Indonesia ini selalu diburu masyarakat setiap harinya. Kendati demikian, bawang putih masih diimpor dari berbagai negara. Harganya pun fluktuatif tergantung impor.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbangtan) melalui Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura memiliki teknologi inovatif budidaya bawang putih. Inovasi ini memiliki beberapa tahapan hingga membuahkan hasil bawang putih unggul.

Menurut Kepala Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Dr. Catur Hermanto, MP mengatakan, komponen utama dari teknologi ini adalah varietas unggul bawang putih yang telah dilepas oleh Balitbangtan. Benih bermutu kemudian dipilih dengan ukuran yang tepat. Peningkatan populasi tanaman per hektar, pengelolaan air dan hara, serta pengendalian hama terpadu. 
"Teknologi ini telah diuji cobakan di dua sentra bawang putih, yaitu di Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar dan di Desa Bojong, Kabupaten Tegal, Provinsi Jawa Tengah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produktivitas bawang putih tersebut dapat mencapai lebih dari 30 ton per hektare," ujar Dr. Catur dalam keterangan resminya baru-baru ini.

Dr. Catur memaparkan ada beberapa syarat dan teknologi budidaya bawang putih yang baik. Pertama tanaman bawang putih akan tumbuh baik jika ditanam di dataran tinggi (> 1000 mdpl.) dengan suhu 15  –  25  derajat selcius. Namun beberapa jenis dapat ditanam di dataran medium, bahkan dataran rendah. Curah hujan optimal untuk pertumbuhan bawang putih berkisar antara 100-200 mili meter per bulan. Secara waktu, bawang putih sebaiknya  ditanam  pada  akhir musim penghujan atau awal musim kemarau. Tanaman bawang putih tumbuh optimal di dataran medium sampai dataran tinggi. Jika ditanam di dataran tinggi, lahan yang cocok untuk tanaman bawang putih adalah jenis tanah lempung berpasir, berstruktur tanah gembur dengan pH 5,5-7.

Kedua, cara penanaman, tanah digemburkan dengan cara melakukan pembalikan menggunakan cangkul atau rotari. Selanjutnya dibuat bedengan dengan lebar 100 senti meter tinggi ± 30 senti meter dan lebar parit ± 30 senti meter. Pengapuran dilakukan menggunakan Dolomit dengan dosis 2 ton per hektare. Kapur ditaburkan di atas bedengan lalu diaduk dengan tanah. Pupuk dasar yang digunakan ialah pupuk kandang sapi 30 ton per hektare atau pupuk kotoran ayam 15 ton per hektare, dan SP36 = 375 kilogram per hektare. Pupuk dasar tersebut diaplikasikan 15 hari sebelum tanam. Sehari sebelum tanam dilakukan penyemprotan herbisida di atas permukaan bedengan. Penyemprotan herbisida dimaksudkan untuk memperlambat tumbuhnya rumput setelah benih bawang putih ditanam, sehingga benih bawang putih dapat tumbuh normal tanpa diganggu oleh pertumbuhan rumput di sekitarnya.

Ketiga, penyiapan benih. Benih dipilih yang telah berumur 6 - 8 bulan, sehat, tidak keropos dan berukuran seragam agar pertumbuhan dilahan juga seragam. Siung dibersihkan dari kotoran dan lapisan kulit  yang sudah kering. Kemudian, lahan dibasahi 1 hari sebelum tanam. Benih ditanam 1 (satu) siung per lubang tanam dengan kedalaman ± 3 sentimeter dan jarak tanam 10 sentimeter x 10 sentimeter atau 12,5 sentimeter x 12,5 sentimeter. Selanjutnya ditutup dengan mulsa jerami dengan ketebalan ± 5 sentimeter dan setelah ditutup dengan mulsa jerami dilakukan penyiraman.

Keempat, pemeliharaan tanaman. Penyiangan dilakukan secara rutin disesuaikan dengan kondisi pertumbuhan gulma. Gulma pada parit dapat dibersihkan dengan cangkul sekaligus untuk memelihara bentuk bedengan. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan 2 kali dalam seminggu pada 12- 20 hari menjelang panen penyiraman dihentikan. Penyemprotan insektisida dan fungisida dilakukan dua kali dalam seminggu, mulai tanaman berumur 21-25 hari. Insektisida dan fungisida yang diberikan terdiri dari dua jenis yang bersifat kontak dan sistemik. Pupuk susulan diberikan sebanyak 4 kali pada saat tanaman berumur 21, 35, 49, dan 63 hari setelah tanam.  Jenis  pupuk  yang  diberikan  terdiri  dari  ZA 286 kilogram per hektare dan KCl 50 kilogram per hektare untuk setiap kali pemupukan. Pupuk diberikan dengan cara ditabur di sela-sela  barisan tanaman.

Kelima proses panen. Ciri-ciri bawang putih yang siap dipanen adalah umbinya terlihat dari permukaan tanah, sebagian daun menguning dan batang tanaman sudah mulai rebah. Varietas Lumbu Hijau dapat dipanen pada umur 112- 120 hari, sedangkan varietas Tawangmangu pada 120-140 hari. Umur panen yang terlalu muda akan menyebabkan umbi cepat menyusut dan jika terlalu tua akan menyebabkan umbi cepat busuk. Cara pemanenan yang paling baik adalah dengan mencabut tanaman sambil mencongkel umbinya agar umbi tidak rusak.

Keenam adalah  proses pascapanen. Sebelum masuk ke penyimpanan, tanaman hasil panen harus dibersihkan terlebih dahulu dengan mem buang daun busuk/tua dan memotong akarnya. Tanaman yang sudah bersih diikat dengan tali bambu, satu ikat terdiri dari 50-100 tanaman tergantung pada ukuran umbinya.

Sumber: Balitbangtan




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID