logo rilis
Tata Air Satu Arah: Kunci Keberhasilan Pertanian Rawa Pasang Surut
Kontributor
Elvi R
07 Juni 2018, 12:28 WIB
Tata Air Satu Arah: Kunci Keberhasilan Pertanian Rawa Pasang Surut
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Pengelolaan air merupakan kunci keberhasilan pertanian di lahan rawa khususnya di lahan rawa pasang surut. Tata air satu arah mutlak harus dilakukan untuk menghindari keracunan asam organik atau asam sulfat dan besi dari oksidasi pirit di lahan sawah. Air masuk ke lahan dan air keluar dari lahan harus melalui saluran yang berbeda dimana air masuk merupakan air bersih dari saluran irigasi sedangkan air keluar merupakan air kotor yang dibuang ke saluaran drainase.

Kita akan bangun 10 juta hektare lahan rawa dan lahan kering menuju Indonesia menjadi lumbung pangan dunia, demikian Menteri Pertanian Dr Andi Amran Sulaeman mengatakan di berbagai forum. Lahan rawa ibarat lahan tidur yang harus dibangunkan untuk untuk pengembangan areal tanam baru terutama komoditas padi, jagung, dan kedelai untuk memantapkan sawasembada pangan nasional ujar Amran menambahkan.

Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Prof Dedi Nursyamsi mengatakan, potensi lahan rawa untuk pengembangan tanaman pangan cukup besar. Dari sekitar 34,1 juta hektare lahan rawa, yang berpotensi untuk pengembangan tanaman pangan di rawa pasang surut sekitar 5,3 juta hektare dan di rawa lebak sekitar 8,9 juta hektare, sehingga totalnya sekitar 14.2 juta hektare. Selain itu inovasi teknologi pengelolaan lahan rawa hasil Badan Litbang Pertanian, Perguruan Tinggi, dan lembaga riset lainnya cukup berlimpah kata Dedi menambahkan.

Pengaturan tata air di lahan rawa bukan hanya untuk mengurangi atau menambah ketersediaan air permukaan, melainkan juga untuk mengurangi kemasaman tanah, mencegah pemasaman tanah akibat teroksidasinya lapisan pirit, mencegah bahaya salinitas, bahaya banjir, dan mencuci zat beracun yang terakumulasi di zona perakaran tanaman. Pengelolaan air yang memisahkan antara saluran irigasi dan saluran drainase dan mengarahkan terjadinya  aliran pada satu jalan  disebut sistem pengelolaan air satu arah (one way flow system).

Sistem pengelolaan air satu arah  memerlukan bangunan pintu air (flapgate dan stoplog) pada muara-muara saluran. Pintu air pada saluran masuk dirancang untuk membuka ke dalam sehingga saat pasang terdorong dan air masuk ke saluran tersier atau kuarter, sedangkan pintu air pada saluran keluar dirancang untuk membuka ke luar sehingga saat pasang pintu tertutup, tetapi saat surut terjadi hal sebaliknya, yaitu air dari petakan atau bagian hulu dapat keluar seiring gerakan air surut. Pintu air dapat dibuat dari bahan baja/fiber atau papan dengan lebar pintu tergantung dari lebar saluran air yang telah dibuat yakni sekitar 100 centimeter dengan lebar engsel tunggal 30 centimeter atau 2 engsel dengan jarak 15 centimeter dari tepi pintu.

Sistem tata air satu arah ini sudah banyak diadopsi oleh petani lahan rawa pasang surut antara lain, petani daerah rawa Telang, Kab. Musi Banyuasin (Sumatera Selatan), Terantang, Kec. Mandastana, Kab. Barito Kuala (Kalsel), dan daerah Terusan dan Pangkoh, Kab. Kapuas (Kalteng). Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan air satu arah dapat meningkatkan hasil padi dan perbaikan kemasaman tanah (pH). Penelitian di UPT  Delta Telang  I, Delta Saleh (Kab Banyuasin) dan Delta Sugihan Kanan, Kab OKI, Sumsel  dapat meningkatkan pH dari 4,3 menjadi 5,6 dan hasil GKG dari 2,39 menjadi 5,59 ton per hektare atau hasil padi meningkat sekitar 234 persen.
 

Sumber: Ani Susilawati/BBSDLP/Balitbangtan


500
komentar (0)