logo rilis

Tarif Bis Jakarta-Cirebon Melonjak di Tengah Jalan
Kontributor
Kurnia Syahdan
11 Juni 2018, 14:10 WIB
Tarif Bis Jakarta-Cirebon Melonjak di Tengah Jalan
ILUSTRASI: RILIS.ID/Dendi Supratman

RILIS.ID, Jakarta— Fahmi (33), penumpang Bus Setya Negara, jurusan Jakarta-Cirebon kaget karena harga tiket meroket, lebih dari 30 persen sebagaimana yang disyaratkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 31 tahun 2015 tanggal 10 Februari 2015 telah ditetapkan kebijakan tarif baru untuk Angkutan umum AKAP Kelas Pelayanan Ekonomi.

"Mentang-mentang mudik, naiknya lebih dari 100 persen," kesalnya ketika menghubungi rilis.id di Jakarta, Senin (11/6/2018).

Di hari biasa, tarif bus dari Jakarta ke Cirebon hanya sekitar Rp50.000. Menjelang Lebaran, harga tiket mencapai Rp200.000 sekali jalan dari Terminal Kampung Rambutan.

"Ditagihnya pun pada saat masuk ke jalan tol, bukan di terminal. Penumpang mau tidak mau harus membayar," kesal Fahmi.

Menurut kondektur bus, alasan dinaikkannya tarif bus ini, karena supir dan kondektur dibebani setoran yang tinggi oleh pemilik kendaraan.

"Menurut pengakuan kondektur, semua bus akan memberlakukan hal yang sama, dengan tarif yang berbeda-beda. Penumpang harus lebih waspada," kata Fahmi.

Ia juga meminta agar Menteri Perhubungan bisa menindak bus-bus yang nakal ini, karena sangat merugikan penumpang yang hendak mudik ke kampung halamannya.

Dalam Peraturan Menteri Perhubungan tersebut tertulis, Pimpinan PO Bus diminta memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai berikut:

a. PO Bus wajib memenuhi ketentuan tarif batas atas dan batas bawah untuk pelayanan ekonomi sebagaimana tercantum dalam peraturan Dirjen Perhubungan Darat Nomor: SK.2462/PR.301/DRJD/2015 tentang Tarif Jarak Batas Atas dan tarif Jarak Batas Bawah angkutan orang dengan mobil bus umum kelas ekonomi pada trayek antarkota antarprovinsi;

b. Untuk pelayanan Non Ekonomi tarif diserahkan pada mekanisme pasar namun besaran tiket yang berlaku dilaporkan kepada Ditjen Perhubungan Darat, dengan kenaikan tarif yang wajar sehingga tidak memberatkan bagi masyarakat yang akan melakukan perjalanan;

c. Mencetak/menstempel besaran tarif berlaku pada tiket sesuai asal tujuan perjalanan dan jenis pelayanan angkutan;

d. Menempelkan/mengumumkan besaran tarif berlaku pada tempat-tempat yang mudah terlihat oleh calon penumpang pada loket-loket di terminal, pool/agen serta di dalam bus sesuai asal tujuan perjalanan;

e. Menuliskan/menempelkan sticker tulisan standar pelayanan (ekonomi, bisnis RS, bisnis AC, eksekutif atau super eksekutif), sekurang-kurangnya pada badan kendaraan sebelah kiri dekat pintu masuk agar mudah dibaca calon penumpang.
 


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)