logo rilis
Tantangan Raup Suara Anak Muda
Kontributor
Zulhamdi Yahmin
16 Maret 2018, 22:20 WIB
Tantangan Raup Suara Anak Muda
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza.

KALAU Partai Solidaritas Indonesia (PSI) hadir dengan konsep milenial, akan kah laku diperjual-belikan kepada pemilih Indonesia nantinya? Belum tentu. Tapi, manuvernya, partai besutan Grace Natalie ini merapat ke kubu Joko Widodo. Efektif kah?

Sudah sejak 2015 lalu, PSI sudah aktif dalam berbagai kegiatan politik. Caranya ini yang memang pas, yakni lewat media sosial. Mereka lincah sekali di jejaring nirkabel, semisal pada Pilkada Serentak 2015 lalu, partai ini menggerakkan netizen dengan tagar #kepoinPilkada.

Tapi, di balik gerakan masif itu, di kancah perpolitikan Indonesia, khususnya saat Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang, mereka ditantang oleh Parlementary Treshold (PT), atau ambang batas parlemen, dengan angka empat persen yang tertuang di UU Pemilu.

Sebagai partai baru, PSI langsung mematok terget tinggi menghadapi pemilihan legislatif 2019 mendatang. Tak tanggung-tanggung, PSI mematok angka 10 persen dari angka PT 4 persen.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu PSI, Sumardy yakin target tersebut sangat realistis bagi partainya. Dia melihat ada kantong-kantong suara yang belum digarap maksimal.

"Pada 2014, dari 180 juta daftar pemilih tetap dalam data KPU yang milih hanya 130 juta. Sekitar 28 persen golput. Kenapa golput? karena mereka tidak percaya politisi-politisi sekarang. Jadi pemenang Pemilu sebenarnya anak muda yang golput," ungkapnya, yakin.

Tunggu, apa itu PT? Jadi, Parlementary Treshold adalah batas perolehan suara minimal partai politik (parpol) dalam pemilihan umum. Inilah yang nantinya akan menentukan lolos atau tidaknya, serta berapa perolehan kursi partai di DPR atau DPRD.

Dalam Pasal 414 Undang-Undang No. 7 tahun 2017 tentang Pemilu, ditentukan bahwa ambang batas parlemen adalah empat persen dari total suara sah nasional. Jadi, kalau enggak sampai angka segitu, ya parpol tersebut dinyatakan enggak lolos masuk parlemen di 2019.

Angka itu memang mengalami kenaikan dibandingkan pemilu periode sebelumnya yang hanya 3,5 persen. Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahjo Kumolo, pernah bilang kalau kenaikkan ini berkaitan dengan kualitas demokrasi Indonesia, yang harusnya makin meningkat.

Direktur Politik Dalam Negeri (Poldagri), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Bahtiar menilai, sulit bagi partai-partai ini tembus angka tersebut. Apalagi, trennya banyak partai politik yang pemilihnya mengalami kenaikkan. Sehingga, ini jadi tantangan tersendiri.

"Sekarang kan ada 15 parpol yang lolos verifikasi faktual. Kalau melihat analisis itu (naiknya jumlah pemilih sejumlah parpol), pasti ada tiga sampai empat parpol yang tereliminasi nantinya," kata Bahtiar.

Lalu, bagaimana peluang PSI? Pasti ada. Hanya saja, ada beberapa parpol yang memang pemilihnya sulit berpindah ke lain hati. Bahkan, cenderung semakin solid.

Muhammad Taufik Rahman, peneliti dari Centre Presidential Studies, Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Mada (UGM), menilai ada tiga parpol yang memiliki jaringan kuat dan loyal. Antara lain, Golkar, PDI Perjuangan dan PKS.

Nah, Golkar ini memang kuat sedari awal, meski tanpa iklan atau apapun, partai ini terus masuk di posisi tiga besar. Begitu juga PDI Perjuangan.

"Mereka tidak punya media, tapi suaranya signifikan dan kemarin menang Jokowi," tambahnya.

Sedangkan PKS, kata dia, punya kaderisasi yang bagus. Mesin politiknya juga efektif. Di luar itu, menurutnya, enggak bisa diprediksi massa solidnya, dan cenderung berubah-ubah. Apalagi, partai-partai baru yang belum kelihatan basis massanya.

Kalau bicara soal pemilih pemula, atau anak-anak muda, mereka ini sebetulnya masih sulit ditebak. Tipikal mereka masih cenderung skeptis dan apatis. Tapi, Taufik bilang, PSI ini agak berbeda, karena mereka mendapat support yang besar.

Apakah ini terkait dukungan PSI terhadap Jokowi? Sebetulnya, niat PSI merapat ke Jokowi ini bisa menjadi bagian dari strategi memecah suara, khususnya untuk Pileg 2019.

"Konfigurasi berubah. Entah narik suara partai apa, nanti kelihatan. Kalau dalam persepktif penguasa, mereka dikasih jalan untuk mendapatkan suara," tambah dia.

Terkait PSI yang akrab sekali dengan media sosial (medsos), kata Taufik, sebetulnya tak ada pengaruh signifikan. Peranannya, cukup sebagai wacana politik panjang saja. Belum terbukti mampu mengubah orientasi dan pilihan politik seseorang.

"Opinion leader yang berada pada struktur bawah masih lebih efektif," ujarnya.

PSI memang punya prospek bagus, tapi tantangannya ya itu tadi, karena pemilih muda masih cenderung apatis dan skeptis. 

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID