logo rilis
Tanam Zig Zag dan Rock Phosphate Hasilkan Jagung 20 Ton per Hektare
Kontributor
Intan Nirmala Sari
14 April 2018, 11:59 WIB
Tanam Zig Zag dan Rock Phosphate Hasilkan Jagung 20 Ton per Hektare
FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Produksi jagung saat ini, sudah dapat dipanen dengan hasil 20 ton per hektare atau tiga kali lipat hasil rata-rata petani. Itu berkat inovasi teknologi, berupa kombinasi tanam zig zag dengan pupuk batuan fosfat alam atau rock phosphate.

"Biasa kami hanya panen 6-7 ton per hektare," kata petani Budiono di Desa Gunung Raja, Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut. Panen jagungnya juga disaksikan Bupati Tanah Laut dan petugas Badan Pusat Statistik (BPS). 

Hasil serupa dipetik para petani saat demplot jagung di Lampung. "Penampilan daun jagung lebar, berwarna hijau tua dengan batang besar dan kokoh. Hasil jagungnya juga berlimpah," tutur Wayan Sukade, petani Jagung di Kecamatan Way Jepara, Kabupaten Lampung Timur, Propinsi Lampung. 

Tanam zig zag membuat sinar matahari yang menyinari tajuk jagung, tidak terhambat daun jagung yang saling menaungi bila ditanam lurus.

"Efeknya, laju fotosintesis optimal sehingga produksi pun optimal," jelas Kepala Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian Dedi Nursyamsi. 

Sementara, pemberian batuan fosfat alam memasok unsur hara P yang kurang tersedia di tanah masam di Indonesia. Menurut Peneliti Balai Penelitian Tanah Putu Wigena, di Bogor, batuan fosfat alam menjadi larut saat diberikan pada lahan masam.

"Terjadi pelepasan P dari batuan fosfat secara cepat, sehingga tanaman langsung dapat menyerap," menurut Putu. 

Di Indonesia, lebih dari 2/3 tanah bereaksi masam dan memiliki kadar C-organik rendah (kurang 2,0 persen). Pada tanah tersebut, ketersedian hara N P, K, Ca, dan Mg rendah.

"Batuan fosfat mengandung P, Ca, dan Mg tinggi serta dapat meningkatkan pH," imbuh Dedi.  

Pemberian rock phosphate langsung di tanah masam sangat efektif dan efisien dibandingkan SP-36 atau TSP. "Tidak perlu diolah di pabrik, sehingga harga lebih murah," ungkapnya.

Badan Litbang Pertanian telah melakukan kerja sama penelitian jangka panjang, dengan OCP SA Morocco sebuah BUMN Pupuk dari Kerajaan Maroko yang memiliki Rock Phosphate mencapai 75 persen deposit dunia.

"Maroko berpotensi besar sebagai pemasok kebutuhan pupuk P di dunia," tambah Dedi. 

Batuan fosfat juga memiliki efek residu yang lama, sehingga manfaatnya dapat bertahan hingga 4-5 musim tanam. "Cukup sekali sebanyak 1 ton per hektare," ungkap Kepala Balai Penelitian Tanah Husnain.  

Demplot di Kebun Percobaan Balittanah di Taman Bogo, Lampung menunjukkan rata-rata produktivitas jagung  10-11 ton/hektare untuk 4-5 kali musim tanam. 

Efek residu sangat menghematan biaya pembuatan dan aplikasi pupuk P.  Dengan demikian, sebetulnya teknik di masa lalu berupa aplikasi pupuk P yang diasamkan di lahan kering masam menjadi mubazir.

"Banyak P hilang akibat diserap Fe dan Al tanah, sehingga ketersediaan P berkurang" tandas Peneliti Kesuburan Tanah, Balai Penelitian Tanah Bogor I Made Subiksa.

Sumber: Dedi Nursyamsi/Destika Cahyana


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)