Tamak Tak Bertepi - RILIS.ID
Tamak Tak Bertepi
RILIS.ID
Rabu | 27/09/2017 12.54 WIB
Tamak Tak Bertepi

BELUM kering peringatan Presiden Joko Widodo yang menyatakan korupsi sebagai kejahatan luar biasa. Hari ini, di sini, korupsi kian menjadi. Dalam dua bulan KPK mencokok 6 Kepala Daerah. Mereka tergolong yang dianggap memiliki prestasi. Bahkan, satu di antara mereka, ada yang direncanakan akan mendapat penghargaan antikorupsi.

John Perkins, dalam bukunya “Confessions of an Economic Hitman” menulis apa yang memotivasi orang menjadi tamak. “Ketika manusia dihadiahi untuk ketamakan mereka, maka ketamakan menjadi motivator yang jahat.”

Tamak memang tak bertepi. Ia menjadi motivasi. Pada korupsi, birahi keserakahan ini, menggandakan diri berlipat kali.

Perang terhadap korupsi memang memerlukan nyali. Bung Hatta adalah contoh manusia yang bernyali melawan korupsi. Kisah sepatu Bally yang tak mampu ia beli adalah bukti, bahwa proklamator dan wakil presiden pertama ini memang tak setengah hati.

Kita juga pernah mendengar atau membaca kisah bagaimana Perdana Menteri Muhammad Natsir mengembalikan mobil dinasnya. Dan, ia dengan jabatan mentereng ini, selalu bersahaja mengenakan jas butut yang penuh tisik serta tambalan.

Mungkin terlampau kerap kita membaca atau mendengar para elite juga cerdik pandai mengutip adagium klasik Lord Acton. Bahwa, kekuasaan itu cenderung korup, karena itu kekuasaan tak boleh absolut. “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men."

Orang besar, elite, pesohor, adalah aktor utama dalam ikhtiar melawan korupsi. Itu seharusnya. Tapi, hari ini para aktor ini menjadi pelakon antagonis. Mereka seakan tak sudi berbagi kebaikan. Mereka membalik harapan yang disandarkan pada jabatan yang dipinjamkan oleh rakyat kebanyakan.

Para pembesar ini seakan tak sudi berkhidmat pada kebijaksanaan. Sepertinya, mereka tak sekadar takut melarat. Betapa tidak, di tengah tak sedikit rakyat yang sekarat, mereka dengan terbuka terus mempertontonkan ketamakan.

Bisa jadi, bagi para koruptor, jabatan adalah milik pribadi. Properti yang bisa dipakai semau sendiri. Atau, mereka berlagak pilon, dan melupakan bahwa jabatan adalah amanat penderitaan rakyat. Bahwa, negeri ini pinjaman anak cucu, generasi yang akan datang, titipan dari masa depan. Dan, korupsi akan menghancurkan ikatan kita dengan masa depan.

Kini, mengenal kebersahajaan Wakil Presiden Mohammad Hatta, sikap lurus Perdana Menteri Muhammad Natsir, dan orang-orang penuh nyali melawan korupsi, adalah barang mewah. Sesuatu yang dulu dekat dan kita miliki, sekarang terasa sebagai impian yang teramat mahal.

Hari ini peringatan Presiden Joko Widodo, atas kejahatan luar biasa korupsi, bagai suara yang tak berbunyi, seakan berdiri di satu sisi. Sendiri dan sunyi. 

Demikianlah, ketika ketamakan telah menjadi motivasi. Dan, kejahatan ini memang tak bertepi. Alhasil, negeri ini masih menanti orang-orang yang bernyali melawan korupsi.


Tags
#Korupsi
#Kepala Daerah
#Koruptor
#Merdeka
Bagaimana reaksi anda tentang artikel ini?
500
komentar (0)




2020 | WWW.RILIS.ID