logo rilis
Tak Jadi Cawapres Jokowi, Romy dan Cak Imin Bisa Pindah Haluan
Kontributor
Nailin In Saroh
20 Maret 2018, 21:54 WIB
Tak Jadi Cawapres Jokowi, Romy dan Cak Imin Bisa Pindah Haluan
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Pengamat Universitas Indonesia (UI) Panji Anugrah Permana menilai, sebagai calon presiden petahana, Joko Widodo (Jokowi) perlu mempertimbangkan benar-benar kandidat calon wakil presiden (cawapres) dari kalangan partai politik (Parpol) Islam. Sebab, bisa saja kandidat tersebut membentuk poros ketiga jika tidak pindah haluan ke koalisi lawan.

"Sebab memang, dari perkembangan empat tahun kekuasaan Jokowi, kan muncul analisis sebaiknya disandingkan dengan representasi kalangan muslim. Karena, sepanjang perjalanan dia berkuasa selalu seolah diantagoniskan dengan kelompok Islam. Meski disitu kita bisa berdebat kelompok Islam yang mana," ujar Panji kepada rilis.id di Jakarta, Selasa (20/3/2019).

Dalam hal ini, Jokowi dan parpol pendukung perlu mempertimbangkan calon dari kalangan santri seperti Ketua Umum PPP Romahurmuziy dan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar.

"Jadi saya kira, pertimbangan ini dimiliki juga oleh presiden. Jokowi perlu menilai cawapres mana yang kira-kira membuat dia lebih bisa diterima oleh kalangan muslim," sambung Panji.

Selain itu, Jokowi juga harus memantau lembaga survei yang terkoneksi dengan dirinya. Serta, adanya pembicaraan intens dalam partai koalisi. "Saya kira itu menjadi proses yang alamiah. Termasuk respon yang akan diberikan pihak oposisi. Siapa tahu partai yang sekarang misalnya, Romy, atau Cak Imin mau maju dengan Jokowi, tapi ketika enggak jadi dicalonkan, berbalik arah mendukung koalisi sebrang. Itu hal biasa dalam politik," bebernya.

"Jadi prosesnya masih akan memakan waktu beberapa bulan ke depan. Kan sekitar bulan Agustus, jadi ada beberapa bulan lagi. Sekarang mungkin mulai digaungkan dengan nama-nama dan banyak lembaga survei yang cek lapangan," kata Panji menambahkan.

Meski demikian, menurut Panji, tidak ada jaminan bahwa ketua umum partai harus menjadi wakil presiden.

"Itu kan banyak faktor. Oleh elektabilitas Jokowi sendiri, oleh kesepakatan koalisi, jadi enggak mungkin Jokowi tiba-tiba pilih orang tanpa kalkulasi politik," tutupnya. 

Editor: Intan Nirmala Sari


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)