logo rilis
Tak Boleh Lengah, Ini Tantangan Ekonomi Indonesia Menurut ADB
Kontributor
Intan Nirmala Sari
11 April 2018, 14:42 WIB
Tak Boleh Lengah, Ini Tantangan Ekonomi Indonesia Menurut ADB
ILUSTRASI: RILIS.ID/Hafidz Faza

RILIS.ID, Jakarta— Laporan Asian Development Outlook (ADO) 2018 menyatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia 2018 masih akan dihadapkan pada beberapa tantangan baik eksternal maupun internal. Salah satunya, risiko terhadap laju perkembangan kebijakan moneter di negara maju dan ketegangan perdagangan internasional. Dari sisi domestik, perekonomian Indonesia berpotensi menghadapi kekurangan pendapatan dan terlambatnya pengeluaran atau belanja negara.

Dalam laporan ADO yang dirilis Rabu (11/4/2018) disebutkan bahwa, berlanjutnya upaya reformasi struktural di Indonesia dapat membawa pertumbuhan yang lebih inklusif. Hal yang menjadi prioritas dari upaya tersebut, di antaranya investasi infrastruktur, pengembangan pendidikan dan keterampilan, serta reformasi iklim investasi.

Pada bab tema khusus, ADO menjelaskan bagaimana teknologi berpengaruh terhadap pekerjaan di Asia. Terungkap bahwa, meskipun sejumlah pekerjaan di kawasan ini akan hilang akibat otomasi, teknologi baru juga akan membantu menciptakan pekerjaan.

Laporan ini menggarisbawahi bahwa, para pembuat kebijakan harus proaktif jika menginginkan manfaat teknologi baru tersebar luas bagi seluruh pekerja dan masyarakat. Hal ini memerlukan upaya yang terkoordinasi dalam mereformasi sektor pendidikan, yang mendorong semangat belajar seumur hidup, mempertahankan fleksibilitas pasar tenaga kerja, memperkuat sistem perlindungan sosial dan mengurangi ketimpangan pendapatan.

“Tantangan utama bagi pemerintah dan dunia usaha di Indonesia adalah, memanfaatkan peluang sembari memitigasi risiko dari teknologi baru,” kata Kepala Perwakilan ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein.

“Untuk itu, ADB saat ini tengah mendukung pemerintah bersiap menghadapi tantangan tersebut, antara lain dengan melakukan kajian tentang dampak teknologi disruptif terhadap makroekonomi dan sektor-sektor tertentu seperti manufaktur, keuangan, energi, e-commerce, dan pembangunan perkotaan,” tambahnya.

ADB, yang berbasis di Manila, dikhususkan untuk mengurangi kemiskinan di Asia dan Pasifik melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, pertumbuhan yang menjaga kelestarian lingkungan hidup, dan integrasi kawasan. Didirikan pada 1966, ADB dimiliki oleh 67 anggota, di mana 48 di antaranya berada di kawasan Asia dan Pasifik.


500
komentar (0)