logo rilis
Tahun Perbenihan 2018, Jadi Wujud Nyata Peremajaan Kelapa Kalteng
Kontributor
Elvi R
13 Mei 2018, 12:42 WIB
Tahun Perbenihan 2018, Jadi Wujud Nyata Peremajaan Kelapa Kalteng
Benih Kelapa. FOTO: Humas Balitbangtan

RILIS.ID, Jakarta— Komoditas perkebunan selain kelapa sawit dan karet sampai saat ini masih menjadi salah satu penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar bagi provinsi Kalimantan Tengah, yaitu Kelapa Dalam. Tanaman kelapa merupakan tanaman yang telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di Kalimantan Tengah, sehingga kelapa sering juga disebut sebagai tanaman sosial, yang banyak memberikan manfaat bagi kehidupan.

Namun, dalam perkembangnnya semenjak periode 1980-an perkebunan kelapa rakyat yang diusahakan secara monokultur di Kalteng produktivitasnya terus mengalami penurunan (sekitar 1,2 ton per hektare atau sekitar 50 persen dari produksinya), ditambah lagi pemanfaatan dan kepemilikan lahan yang terbatas, dengan penerapan teknologi yang seadanya. Kondisi ini disebabkan, karena tanaman kelapa dalam yang diusahakan masyarakat sudah tergolong pada tanaman tua yang diwarisi secara turun temurun.

Pada 2018 menjadi upaya nyata pemerintah untuk meningkatkan produktivitas dengan mencanangkan Tahun Perbenihan Nasional. Perbaikan produktivitas tanaman terus digenjot, salah satunya adalah dengan cara mengupayakan proses teknik penyemaian maupun pembibitan yang "meng-insert" inovasi teknologi. Kelapa dalam merupakan komoditas sektor perkebunan yang usaha perbaikan produktivitasnya harus dimulai sejak penyediaan bahan tanaman/bibit, jika menghendaki pohon kelapa yang mampu menghasilkan buah yang maksimal. Hal itu karena potensi produksi suatu tanaman tergantung pada bahan tanaman, cara penanganan dan perlakuan yang diberikan. Melalui teknik pembibitan dan seleksi bibit yang baik produksi buah yang diinginkan dapat dicapai.

Tujuannya adalah untuk menghasilkan tanaman yang subur dan sehat dalam waktu yang relatif singkat. Keuntungan yang diperoleh antara lain adalah menghasilkan tanaman yang seragam, berbuah lebih awal, berproduksi tinggi.

Mendukung program Tahun Perbenihan tersebut, BPTP Kalimantan Tengah melakukan pendampingan teknologi perbenihan kelapa dalam skala luas. Pada 2018 ini akan disalurkan sebanyak 7.000 bibit kelapa dalam. Kegiatan produksi mencakup proses penyemaian dan pembibitan telah dilakukan sejak akhir 2017, bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Berkas Usaha desa Samuda Besar kecamatn Mentaya Hilir Kab. Kotawaringin Timur, saat ini sedang dilakukan pemeliharaan bibit sambil menunggu proses sertifikasi dari Balai Perlindungan Perkebunan dan Pengawasan Benih (BP3B) Dinas Perkebunan Prov.Kalimantan Tengah. Sumber Benih kelapa yang digunakan merupakan Benih Unggul Lokal yang berasal dari Pohon Induk Terpilih (PIT) dalam Blok Penghasil Tinggi (BPT) dari Dirjenbun.

Muklis  (45 tahun) Ketua Gapoktan Berkat usaha desa Samuda Besar yang wilayahnya adalah sentra kelapa dalam di Kalimantan Tengah menyatakan sangat antusias dengan adanya program ini. Karena bibit-bibit kelapa dalam yang akan disalurkan dapat membantu peremajaan tanaman kelapa di daerahnya, yang rata-rata telah berumur tua (75-100 tahun). Hasil penelitian dari Pusat Penelitian Perkebunan (Puslitbang Perkebunanan) menyatakan, metode peremajaan yang disarankan adalah dengan Tebang Bertahap yakni, 20 persen pertahun.

Metode ini tidak menggangu pertumbuhan tanaman pengganti dan merupakan alternatif yang paling tepat untuk dterapkan ditinjau dari segi agronomis dan pendapatan petani. Kelapa diremajakan jika telah berumur lebih dari 60 tahun. Peremajaan juga dilakukan pada pohon  kelapa yang berumur kurang dari 60 tahun jika tanaman tidak produktif, atau produksi kurang dari 30 butir per pohon per tahun. Agar  tidak mengganggu kebutuhan bahan baku kelapa dalam jangka panjang, jumlah pohon kelapa yang dapat diremajakan dalam satu wilayah (provinsi, kabupaten, kecamatan) maksimal 15 persen-16 persen dari populasi tanaman kelapa. Lebih lanjut disampaikan bahwa metode tebang bertahap 20 persen per tahun merupakan alternatif paling tepat untuk diterapkan ditinjau dari segi agronomis dan pendapatan petani. Metode peremajaan bertahap dapat dilakukan sambil menerapkan jarak tanam baru, yaitu  6 meter kali 16 meter sistem pagar, sehingga memungkinkan pengusahaan tanaman sela di antara kelapa. Dengan demikian pendapatan petani tidak terputus, karena selain buah kelapa dari pohon yang belum ditebang, juga dari produksi tanaman sela.
(Dedy Irwandi)


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)