logo rilis
Tahan Suku Bunga Acuan, Ini Proyeksi BI soal Ekonomi Global
Kontributor
Ainul Ghurri
22 Maret 2018, 22:20 WIB
Tahan Suku Bunga Acuan, Ini Proyeksi BI soal Ekonomi Global
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Agusman (tengah). FOTO: RILIS.ID/Ainul Ghurri

RILIS.ID, Jakarta— Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi (DKom) Bank Indonesia (BI) Agusman menyampaikan, pertumbuhan ekonomi global 2018 diprediksikan meningkat, didukung perbaikan ekonomi negara maju dan negara berkembang yang terus berlanjut. Meskipun begitu, beberapa risiko juga perlu dicermati seperti rencana kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve (The Fed) dan kebijakan perdagangan di beberapa negara. 

"Di negara maju, pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) 2018 diperkirakan lebih tinggi, ditopang investasi dan konsumsi yang menguat seiring dampak stimulus fiskal. Begitu juga kenaikan suku bunga acuan The Fed atau Fed Fund Rate (FFR) sebesar 25 basis poin (bps) pada Rabu (21/3/2018) sesuai perkiraan kami," katanya di Gedung BI Jakarta, Kamis (22/3).

Ke depan, Bank Sentral memperkirakan proses normalisasi kebijakan moneter AS akan berlanjut, di mana FFR akan kembali meningkat. Sementara itu, ekonomi Eropa diperkirakan tumbuh lebih baik, didukung perbaikan ekspor dan konsumsi, serta kebijakan moneter yang akomodatif.

Di negara berkembang, ekonomi Cina diperkirakan tetap tumbuh tinggi, didorong peningkatan konsumsi, meskipun tengah terjadi perlambatan investasi, khususnya real estate, seiring proses rebalancing ekonomi.

"Prospek pemulihan ekonomi global yang membaik tersebut, akan meningkatkan volume perdagangan dunia yang berdampak pada menguatnya harga komoditas global, termasuk minyak pada 2018," sambungnya.

Meskipun demikian, sejumlah risiko perekonomian global tetap perlu diwaspadai seperti pertumbuhan ekonomi AS yang lebih tinggi, mampu mendorong kemungkinan FFR naik lebih cepat dari perkiraan semula.

"Sementara, kecenderungan penerapan inward oriented trade policy di sejumlah negara, berpotensi menimbulkan retaliasi dari negara lain yang dapat menurunkan volume perdagangan dan pertumbuhan ekonomi dunia," pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI 21-22 Maret 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI-7DRR) tetap sebesar 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility tetap 3,5 persen dan Lending Facility sebesar 5,0 persen, berlaku efektif sejak Jumat (23/3). Kebijakan tersebut, konsisten dengan upaya Bank Sentral menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta turut mendukung pemulihan ekonomi domestik.

"Kami memandang, bahwa pelonggaran kebijakan moneter yang ditempuh sebelumnya tetap memadai untuk terus mendorong momentum pemulihan ekonomi domestik," jelasnya.

Editor: Intan Nirmala Sari


Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)