logo rilis

Tafsir Fahri soal Sembako Presiden, Sembako Pilkada dan 'Statement Orang Jengkel'
Kontributor
Nailin In Saroh
26 Juni 2018, 19:30 WIB
Tafsir Fahri soal Sembako Presiden, Sembako Pilkada dan 'Statement Orang Jengkel'
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. FOTO: RILIS.ID/Indra Kusuma

RILIS.ID, Jakarta— Pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang menyarankan masyarakat agar mengambil suap jelang pemungutan suara pilkada serentak yang jatuh pada 27 Juni 2018 mendatang menjadi perhatian berbagai pihak. Dalam video yang diunggah melalui laman Facebook pada Kamis (21/6/2018) lalu, Prabowo mengatakan sebaiknya masyarakat mengambil suap berupa uang maupun sembako.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, menilai pernyataan Prabowo itu tidak bermaksud untuk menyarankan agar masyarakat menerima suap jelang pemungutan suara Pilkada Serentak 2018. Menurutnya, pernyataan tersebut sebagai bentuk kegeraman Prabowo. Sebab, masih marak tindakan suap menyuap jelang pemilu.

“Pandangan itu sendiri lebih banyak dilatari kejengkelan beliau yang menyaksikan orang bagi sembako musim pilkada itu sangat masif. Namanya juga orang jengkel kan, sudah terima aja sembakonya tapi jangan dicoblos. Namanya itu 'statement orang jengkel',” ujar Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/6).

Fahri mengimbau, sebaiknya tidak ada kegiatan pembagian sembako di musim pilkada. Jika pun ada lebih baik dilakukan usai gelaran pesta demokrasi.

“Yang kalah bagi-bagi sembako untuk introspeksi mengapa kalah, karena kurang dekat dengan orang miskin. Yang menang, bagi-bagi sembako untuk bersyukur didukung oleh rakyat. Gitu dong, harusnya setelah pilkada. Ini menjelang pilkada, kita curiga,” terangnya.

Karenanya, ia mengingatkan agar pihak penyelenggara pemilu seperti KPU dan Bawaslu lebih ketat dalam memantau segala bentuk dan upaya tindakan yang terindikasi kepada penyuapan dalam masa pemilu.

“KPU dan Bawaslu harus ketatlah. Kayaknya kelihatan masif sekarang, saya membuka medsos pagi tuh, mulai banyak video orang nenteng-nenteng barang-barang begitu,” tegas Fahri.

Selain itu, Fahri menilai sekelas Presiden juga tidak perlu ikut-ikut melakukan kegiatan bagi-bagi sembako. Sebab, kata Fahri hal tersebut bisa menimbulkan kecurigaan lain yang terindikasi kepada budaya suap-menyuap.

“Termasuk presiden itu. Kalau bisa, janganlah bagi sembako karena ini mau masuk pilkada dan pilpres nanti orang curiga juga sembako itu untuk pilkada dan pilpres. Jadi presiden tolong jugalah hentikan bagi-bagi itu, apalagi pakai gambar burung garuda. Itu kan tidak bagus,” tandas politisi PKS ini.

Editor:




Bagaimana menurut anda tentang artikel ini ?
500
komentar (0)





2019 | WWW.RILIS.ID